Kampung Media : Menerobos Kebuntuan

Kekuatan ada di halaman sendiri. Filosofi itu mengawali berdirinya komunitas pengguna internet bernama Portal. Singkatan dari Pelopor Digital cikal bakal Kampung Media NTB yang mendunia itu.

Di sebuah kampung kecil, mimpi besar pegiat komunitas itu meyakini jejaring informasi bernama internet dapat mengubah banyak hal. Salah satunya, cara orang kampung mereka berinteraksi satu sama lain atau saat berhadap hadapan dengan perubahan zaman. Zaman now yang hendak mengubah mereka. Baik atau buruk. Ikut mengubah atau dirubah. Berubah atau terpojok di sudut ruang waktu millenial.

Jumat pagi. Desember 2008. Sejak pagi kesibukan anggota komunitas Portal bertambah. Taman kecil di sudut kampung dipercantik. Setiap hari lahan kosong milik seorang warga itu setiap sore selalu ramai. Sebelumnya hanya dipakai anak anak untuk bermain. Namun sejak antena Wifi milik komunitas Portal dipasang, banyak warga datang. Bertanya dan berdiskusi soal informasi yang mereka lihat dan dengar dari internet. Itu terjadi sebelum serbuan Warnet dan Smartphone menjamah kampung kampung. Akses internet masih mahal dan teknologi Wifi di tempat tempat umum belum banyak. Ya. Kampung kami sub urban. Kampung perkotaan yang jaraknya tak begitu jauh dari pusat kota. Lalu bagaimana pula dengan kampung kampung di pelosok pulau?

Lahan kosong itu dipercantik karena kabarnya selepas shalat Jumat di masjid kampung, Wakil Gubernur NTB saat itu Badrul Munir akan datang melihat kegiatan komunitas Portal. Hanya sebagian dari anggota komunitas yang benar benar mengerti mengapa Pemprov tertarik dengan kegiatan berbagi informasi a la Portal itu. Beberapa bulan sebelumnya diskusi kecil soal kegiatan berbagi informasi ini memang bukanlah ide besar. Bahkan saat mulai membentuk komunitas, ide itu sebatas berbagi akses internet. Jikapun tak bisa mewujudkan internet gratis bagi warga maka kami bersepakat membeli perangkat wifi yang terjangkau harganya dengan cara urunan. Warga yang memiliki laptop diajak bergabung membentuk komunitas agar biaya bulanan internet pribadi mereka dikumpulkan. Jalan keluarnya, membeli antenna hotspot untuk dipasang ditempat umum. Aksesnya dibagi pada anggota yang bergabung. Anggota komunitas yang selama ini hanya menikmati internet pribadi di rumah masing masing sekarang berkumpul untuk tetap membangun kebersamaan secara fisik.

Waktu berlalu. Kegiatan itu mulai menjadi perhatian warga. Ditengah kegiatan mencari informasi yang serius, ada saja anggota komunitas yang mengajak anak anak kecil ikut bergabung, Menonton film kartun atau tayangan anak lain yang belum pernah mereka lihat di televisi nasional. Sejak kegiatan surfing internet di ”taman digital” mulai hidup, banyak warga ikut menitipkan ketertarikan mereka. Ada yang ingin mengetahui cara membuat kue tertentu. Warga yang penasaran dengan cara kerja mesin motor. Ada warga yang penasaran dengan berita singkat di televisi. Dan seterusnya.

Satu orang anggota komunitas yang sedang surfing tak sanggup memenuhi semua keinginan warga. Rencana pun dibuat agar kegiatan tidak lagi sebatas bertukar informasi sesama anggota ataupun menyediakan waktu bagi warga disela sela akses pribadi anggota komunitas. Informasi harus disebarkan meski dengan media yang terbatas. Kami menyebutnya kegiatan offline. Itu dilakukan ketika warga datang ikut nimbrung saat mengakses internet di taman digital di jam jam sore menjelang Maghrib. Karena hanya anggota komunitas yang berjumlah lima orang itu yang memiliki laptop untuk mengakses wifi ditambah terbatasnya jangkauan sinyal dari antena.

Kian hari makin banyak warga yang tertarik dengan informasi baru dari internet. Makin banyak warga mengerumuni satu laptop. Dan sejak itu dimulailah kegiatan offline bagi warga. Satu anggota mempresentasikan pengetahuan barunya bagi beberapa warga. Atau memilih tema dengan usulan dari warga. Prakteknya, guru mengajar, ahli memberi pencerahan, teknisi menerangkan. Mereka adalah anggota komunitas yang direkrut berdasar minat dan keahlian untuk dijadikan aktivis penebar informasi bagi warga. KIni selain anggota komunitas dan warga yang berkumpul di taman digital untuk mengakses internet, ada kegiatan baru memberikan informasi tentang apa saja yang bermanfaat bagi warga dengan ketertarikan pada bidang tertentu.

Setiap sore kegiatan ini berlangsung meriah karena makin diminati. Keterbatasan gawai dan sinyal ternyata memulai gerakan baru. Internet sehat dan perilaku bijak gawai. JIka kegiatan berinternet komunitas dapat dibatasi hanya pada sore hari karena keterbatasan itu maka di masa depan perilaku seluruh warga terhadap gawai mereka dapat dijadikan kebiasaan agar tak menghabiskan waktu sepanjang hari di depan computer atau smartphone mereka. Soal konten, anggota komunitas yang sejak lama hanya mencari informasi yang dapat bermanfaat, beberapa anggota juga mulai menerapkan aplikasi tambahan yang dapat menyaring informasi yang tidak baik untuk diterima warga.

Tantangan tentu selalu ada. Ditengah komunitas Portal memulainya, ada saja warga yang tetap mengakses informasi di warnet terdekat dari kampung. Jika kebebasan mengakses informasi dari internet adalah hak masing masing warga maka pengelola warnet sebagai penyedia jasa dihimbau memiliki tanggungjawab sosial pula karena nyatanya pengunjung warnet saat itu yang terbanyak adalah warga kampung yang berusia sekolah. Langkah awal adalah meminta pengelola warnet memasang aplikasi pengaman yang pada saat itu mulai dikembangkan akibat makin terbukanya akses internet yang berasal dari seluruh dunia. Sementara jaringan yang tersedia belum sanggup mengatasi terlebih soal regulasi yang mengatur tentang kebebasan dan keterbukaan informasi.

Tak berapa lama. Kampung terdekat meminta komunitas Portal melakukan hal yang sama bagi warga mereka, Dari sini istilah blogger diperkenalkan. Anggota komunitas yang bergabung diharuskan membuat blog pribadi agar dapat menampung ekspresi, ide, gagasan tentang apa saja. Awalnya, isi blog mereka kebanyakan adalah kumpulan informasi menarik yang diambil dari situs situs internet. Kumpulan informasi itu berbeda bagi masing masing blogger sesuai dengan minat mereka terhadap bidang tertentu. Dalam perkembangannya, beberapa anggota mulai menulis tentang peristiwa yang terjadi sehari hari disekitar mereka. Mulai dari informasi kelurahan, informasi kegiatan masjid sampai dengan perselisihan kecil antar warga atau kabar warga kampung yang kebetulan sedang berada di luar negeri (TKI). Kabar yang selama ini hanya diceritakan pada keluarga sendiri atau dalam percakapan percakapan di berugaq kini dapat juga dibaca oleh semua warga. Warga yang sedang bekerja di luar negeri itu “diwawancarai” lewat media sosial, ditulis dan diposting di blog anggota komunitas. Beberapa adalah kisah inspiratif atau cerita ringan tentang hidup di negeri orang.

Wagub Badrul Munir bersila diatas tikar pandan. Dikelilingi anggota komunitas dan rombongan dari Pemprov NTB, Pak Badrul berucap inilah ide yang benar benar lahir dari warga. Progaram yang sudah berjalan dengan baik di masyarakat akan disempurnakan dengan sumber daya dan kebijakan dari pemerintah sebagai fasilitator pembangunan. Sebagai inisiasi gerakan berbagi informasi antar warga, pemerintah propinsi memberinya nama Kampung Media.

Saat ini Komunitas Kampung Media seluruh NTB berjumlah 5735 orang dengan 150 komunitas. Banyak penghargaan nasional dan internasional yang diterima sebagai media penyebarluasan informasi berbasis komunitas. Namun yang lebih penting, komunitas Kampung Media masih menyediakan inovasi untuk digali. Berawal dari pegiat penyebaran informasi, Kampung Media adalah wadah kreativitas. Ia menciptakan jembatan pelangi yang menghubungkannya dengan dunia luas digital dengan segala kesempatannya. Namun tetap menyediakan wahana pulang ke tempat asal. Luasnya informasi diluar sana memungkinkan distorsi informasi. Warga biasa tak memperoleh hak azasinya atas kebenaran. Di euphoria konsumtif informasi yang ditampakkan media sosial, hal itu sedikit membikin khawatir. Meski media mainstream tetap terikat pada norma dan etika umum yang berlaku, kekuatan tetap ada di halaman sendiri.*

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru