Anak Anak Sama Dengan Aset

Peristiwa Gempa yang terjadi beberapa bulan yang lalu masih menyisihkan beberapa masalah sosial, khususnya persoalan anak anak. Hal ini cukup problematik, mengingat pada realitanya persoalan anak anak masih belum mendapatkan penanganan secara khusus, bahkan relatif terbaikan. Pascagempa anak anak belum menjadi prioritas rekonstruksi khususnya pada bidang mental dikarenakan pemerintah disibukkan oleh persoalan yang dianggap lebih utama, terutama dibidang ekonomi, politik, dan infrastruktur. Padahal jika dilihat dari keberlangsungkan jangka panjang nasib anak anak akan terancam jika tidak diberikan penanganan secara dinamis.

Mengambil pengalaman dari relawan yang terlibat membantu anak anak korban gempa yaitu Forum Anak lombok tengah. Ada pun kegiatan yang dilakukan yakni Trauma healing, berupa permainan, mengapa permainan? permainan berkaitan erat dengan masa pertumbuhan anak anak, melalui permainan anak anak dapat menggambarkan emosi, perasaan, dan cara pandang mereka. Dengan bermain anak anak dapat memasuki kembali masa pertumbuhan yang terhambat oleh trauma yang dialami sebelumnya. Partisipan dalam kegiatan trauma healing berkisar anak TK dan SD. Cerita salah satu relawan mengatakan " waktu itu kita sedang trauma healing, tiba tiba terjadi gempa dan anak anak pada lari dan ketakutan bahkan sampai nangis".

Hal itu tentu menjadi perhatian khusus bahwa anak anak belum sepenuhnya bisa move on dari gempa, terlihat dari respon anak anak pada saat gempa itu terjadi. Meskipun hal tersebut adalah sebuah kewajaran tapi tidak menutup kemungkinan hal itu bisa diminimalisir apabila diberikan suatu penanaman atau pemahaman yang tepat mengenai gempa. Singkatnya dari trauma healing tersebut menghadirkan hal yg postif bagi anak anak dimana anak anak kembali ceria dan sejenak lupa akan trauma yang dialaminya. Tak banyak yang menyadari bahwa situasi traumatis yang dialami anak anak menjadi sebuah pengalaman masa kecil yang akan melekat selamanya dalam ingatan. Pengalaman itu tumbuh bersama keperibadian mereka di masa yang akan datang, pada kondisi ini sudah dan tengah membahayangkan kehidupan anak anak .

Dari pengalaman di atas diharapkan menjadi sebuah intropeksi diri untuk pemerintah atau pihak yang berkesinambungan. Karena persoalan yang berkaitan dengan trauma bukan suatu hal yang hari itu bisa dicegah langsung kemudian selesai. Melainkan perlu pertimbangan untuk ditindaklanjuti. Mengetahui bahwa tingkat trauma untuk anak anak sendiri pada dasarnya berbeda beda, oleh karena nya juga membutuhkan penanganan yang berbeda juga sehingga tidak bisa di pukul rata. Harus ada pendamping yang membantu anak anak tersebut sesuai tingkat daripada trauma yang dialami. Trauma healing ini harus di lakukan secara dinamis karena proses penyembuhannnya tidak semudah memberikan obat langsung beberapa hari kemudian sembuh,  karena kasus trauma ini berhubungan dengan kejiwaan seseorang. Apabila tidak bisa dikendalikan justru ini yang ditakutkan karena efeknya akan berpengaruh pada perkembangan otak anak ,Bukan hanya itu juga dapat mengancam psikis anak tersebut.

Sehingga disini semua lembaga atau institusi yang menangani kasus yg berkaitan dengan trauma harus ikut berperan aktif membantu pemerintah dan terlebih lagi peran utama keluarga. Anak anak adalah aset berharga yang harus dilindungi, melindungi mereka sama dengan melindungi masa depan rakyat keseluruhan. Mengutip yang disampaikan oleh Presiden Ir. Soekarno "berikan aku sepuluh pemuda maka akan ku guncangkan dunia". Untuk mewujudkan seorang pemuda maka berawal dari anak anak lah yang akan menjadi cikal bakal nya. Dengan begitu sangat mudah untuk bangkit dan mengembalikan citra dari provinsi tercinta ini yaitu NTB. #LombaNTBKita.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru