Hidup Untuk Saling Menasehati

Kehidupan ini penuh dengan nasihat-menasehati, tanpa nasihat manusia yang lain akan buyar hidupnya. Akan berantakan sekali dengan hal-hal kemaksiatan. Dengan nasihat, yang tadinya tidak mempunyai semangat, putus asa dalam mencari rizki, putus asa menjalani hidup, bingung dengan kehidupan karena banyaknya masalah. Akan bersemangatlah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Namun nasihat akan menjadi sia-sia kalau hanya di masukkan dari telinga kanan dan keluar telinga kiri yang artinya tidak berarti apa-apa terhadap kehidupannya. Nasihat tidak memberikan faedah kepada kita. Nasihat seharusnya dimasukkan lewat telingan kanan dan diproses dalam otak menjadi sebuah energi dalam menghadapi bahtera kehidupan.

Kita hidup di dunia untuk saling menasehati, saling mengajarkan, saling menolong dan saling yang lainnya selama itu baik dan bermanfaat. Seorang guru tidak boleh gengsi ketika ada siswanya memberikan saran, krtik yang membangun tetapi itu dijadikan sebagai bentuk introspeksi diri bukan dijadikan perlawaan seorang murid terhadap gurunya. Seorang ustaz tidak harus bisa memberikan nasihat saja tetapi di sisi lain harus diberikan nasihat oleh orang lain. Entah itu lewat kehidupan masyarakat sekitarnya ataupun mungkin lewat masukan dari para jamaahnya. Allah memberikan gambaran tentang saling menasehati, saling mengajarkan dalam al-Qur’an

Artinya : “1. demi masa.. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,. 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-:Ashar/103: 1-3)

Di kisahkan juga, berkaitan dengan judul ini, seorang alim yang dinasehati oleh wanita pada zaman bani israil. Kisahnya seperti ini

Malik di Muwattha’ meriwayatkan dari yahya bin said dan al-qasim bin muhammad bahwa dia berkata, “Istriku wafat, maka Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi mendatangiku untuk bertakziyah. Muhammad berkata, “Di kalangan Bani Israil terdapat seorang faqih, alim, ahli ibadah dan ahli berijtihad. Dia beristri, dia menaggumi dan mencintai istrinya. Ketika istrinya wafat, dia sangat bersedih dan sangat menyesalinya, hingga dia menyendiri di rumah, menutup diri, dan mengindari orang-orang. Tidak ada seorang pun yang menenmuinya.

Ada seroang wanita yang mendengarnya. Dia mendatanginya dan berkata, “aku ada perlu denganya. Aku ingin meminta fatwa, tidak bisa diwakilkan.” Orang-orang pergi dan wanita ini menunggu di pintu. Wanita ini berkata, “Aku harus bertemu dengannya”.

Seseorang menyampaikan kepada laki-laki alim itu, “Ada seorang wanita di pintu yang ingin meminta fatwamu. Wanita itu berkata bahwa ia hanya ingin berbicara denganmu.” Orang-orang telah bubar sementara dia tetap di pintu. Alim itu pun berkata, “Suruh dia masuk. wanita itu masuk dan berkata, “Aku datang untuk meminta fatwamu dalam suatu perkara.” Alim itu bertanya, “Apa itu?”

Wanita ini berkata, “Aku meminjam perhiasan dari tetanggaku. Aku memakainya dan meminjamkannya beberapa waktu, kemudian mereka memintaku untuk mengembalikannya. Apakah aku harus mengembalikannya?” Laki-laki itu menjawab, “Ya, demi Allah.” Wanita itu berkata, “Perhiasan itu telah berada padaku selama beberapa waktu.” Laki-laki itu menjawab, “Hal itu lebih wajib atasmu untuk mengembalikannya pada mereka ketika mereka meminjamkannya beberapa waktu.: wanita itu berkata, “Semoaga Allah merahmatimu. Apakah kamu menyesali apa yang Allah pinjamkan kepadamu kemudian dia mengambilnya darimu sementara dia lebih berhak daripada dirimu?” Laki-laki alim ini tersadar dari kekeliruannya dan ucapan wanita ini sangat berguna baginya.”

Seorang anak kecil saja bisa memberikan nasihat kepada kita semua. Saat dia belajar untuk berjalan. Dia tidak pernah berhenti dan menyerah untuk mencobanya. Ketika dia jatuh dicoba lagi. Ketika sudah capek berhenti tapi bukan berhenti untuk selamanya esoknya lagi dicoba sehingga dia bisa berjalan. Subhanallah anak yang masih kecil, pemikirannya yang masih buyar masih bisa memberikan kita pelajaran, nasihat untuk kita semua yang sudah pikirannya baik untuk tidak mudah menyerah dalam segala hal. Terus mencoba, terus mencoba, terus mencoba sehingga kegagalan itu bosan dan akhirnya kesuksesan pun mendakat. Seperti dikatan oleh Isac Newton, penemu bola lampu, aku bukan gagal dalam percobaan menemukan bola lampu tetapi aku menemukan cara yang salah dalam penemuan bola lampu.

Begitu juga kita sebagai mahasiswa, orang terpelajar, anak edukasi. Disaat diskusi, jangan pernah merasa benar, karena di atas yang benar masih ada yang lebih benar.

Jangan menggap diri yang terbaik, tidak mau menerima nasihat teman gara-gara kelakuannya jelek. Pepatah mengatakan “Ambil kebaikan itu walaupun keluar dari anjing”. Sungguh ungkapan untuk kita selalu ingat. Di manapun dan kapan pun. Bisa menerima nasihat dari siapaun, apakah itu anak kecil, teman sebaya, jelek rupanya, orang yang lebih tua. Selama itu baik ambillah. Jangan gengsi gara-gara anak kuliah, terpelajar. Cuek begitu saja. Kalau begitu sifatnya sebagai mahasiswa tinggalkan dunia perkuliahan. Kuliah bukan untuk membuat kita pintar tetapi belajar menjadi orang yang lebih dewasa, tawaddu’, semakin menghargai orang lain, semakin senang mendengarkan nasihat. Itulah pelajar yang berbudi baik.

Wallohu A’lamu

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru