Sejuta Cerita di Bukit Utsman Bin Affan

Pondok pesantren Utsman Bin Affan adalah sebuah lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 2004 silam yang terletak di bukit selatan Desa O'o Kabupaten Dompu. Saat itu dan sampai sekarang yayasan itu dipimpin oleh seorang yang bernama Ustadz Zainuddin, S.Pdi. Struktur bangunan yang begitu sederhana tapi mampu menarik ribuan peserta didik dari berbagai daerah sampai ke ujung Provinsi NTT.

Setelah mendapatkan izin dari kedua orang tua, akhirnya saya mendaftarkan diri untuk mengeyam pendidikan agama Islam di pesantren tersebut. Kebanggaan selalu menyapa hati ini tatkala sahabat-sahabat dari berbagai daerah mulai berdatangan. Mereka datang bersama orang tua dengan pakaian yang indah di pandang, suara klakson mobil dan motor mulai terdengar riuh sekitar halaman pondok. Air mata mulai menetesi pipi orang-orang yang mengantarkan anak-anaknya. Pelukan yang berulang kali mulai nampak ditengah keramaian menandakan bahwa perpisahan akan segera terjadi.


Kehidupan pondok mulai diterapkan, Asrama dengan luas yang sangat terbatas sebagai tempat kami menyatukan persahabatan dan kebersaman. Asrama dengan multifungsi sebagai tempat tidur juga tempat kami bermunajat kepada Tuhan untuk beribadah kepadaNya lima kali sehari semalam, waktu itu masjid dalam proses pembangunan. Asrama dengan ukuran sekitar 50x15 meter harus dibagi untuk ruang kelas yang dibatasi papan kayu. Dengan ruang kelas yang begitu sempit dan berdesak-desakan. Namun, semangat kami untuk belajar tetap membara.

Saat malam tiba, gemuruh suara angin terdengar keras menyapa kami sebab lokasi pondok berada di atas bukit. Kedinginan mulai menggigil dan menusuk tulang-tulang santri sebab angin telah menembus anyaman bambu yang membalut dinding-dunding asrama.


Saat fajar mulai terbit, kami pun dibangunkan dari lelapnya tidur kala itu. Walaupun mata masih ingin menikmati mimpi-mimpi yang masih panjang. Kami lakukan itu untuk beribada kepada Sang Pencipta Alam ini. Ketika pagi mulai menyapa, kami harus bergegas ke sungai sebab air dipasang melalui pipa tak mampu melewati bukit itu. Naik turun bukit adalah bagian dari proses belajar kami.


Seiring berjalannya waktu, bangunan barupun mulai dibangun. Ruang kelas kami pun akan bertambah, semangat belajar pun bertambah. Selain itu, Kami juga harus menyiapkan tenaga untuk membantu pembangunan itu, karena bangunan itu bagian dari kebutuhan kami.

Kami mulai memakai seragam sekolah, sebelum KBM dimulai kewajiban lain adalah mengikuti apel pagi yang dipimpin oleh salah seoranga ustadz. Jumlah ustadz dan ustadzah saat itu lebih kurang 50 orang ada yang bujang dan sudah berkeluarga. Didalam kelas laki-lakinhanya diperbolehkan melihat ke depan tanpa harus melihat ke belakang. Memang itu aturan islam yang diterapkan dalam kehidupan pesantren. Hanya suara bidadari pondok yang dapat kami dengar tanpa mengenali siapakah yang memiliki suara indah itu?.

Sebelum berangkat ke ruangan kelas, kami harus sarapan dulu, untuk sarapan  lauk-lauknya hanya itu-itu saja. Tapi kalau makan siang dan malam lauknya cukup memuaskan. Namun kami harus bersabar untuk menunggu giliran, karena lama antri kadang-kadang sarung yang kami pakai tiba-tiba meluncur ke bawah. Dan kami juga tidak mau makan jauh dari tempat pembagian nasi, karena biasanya ada tambahan kalau semua sudah kebagian.

Semua itu, tak menyurutkan semangat kami untuk belajar. Ketika jam menunjukkan pukul 11 menjelang siang, kelaparan mulai melanda perut kami. Kami harus pintar-pintar mencari alasan agar mendapatkan ijin dari ustad untuk keluar dari ruangan kelas. Sebab kami akan berkelana bersama beberapa teman kelas untuk mencari buah-buahan di sekitar bukit pondok. Buah yang dapat menggajal perut kami adalah buah kluwih (wua kolo). Itulah kebiasaan buruk kami kala itu.


Untuk berkomunikasi tiap hari, kami harus menggunakan bahasa Arab. Kalau tidak, ada mata-mata yang mencatat setiap kalimat yang pernah kita ucapkan selain bahasa Arab. Aturan itu diwajibkan bagi semua santri lama. Hukuman bagi pelanggaran bahasa adalah rolling keliling masjid dan itu pusingnya tujuh keliling, apalagi terlibat kasus perempuan (pacaran dan lain-lain) nah... itu rambut bisa hilang semua dari kepala.
hukuman-hukuman itu telah mampu membentuk karakter kami menjadi santri yang taat terhadap aturan-aturan yang berlaku.


Sejak asrama santriwati pindah di bawah bukit di sebuah lembah yang diapit oleh dua bukit timur dan barat, tidak jauh dari halaman pondok santriwan. Kami hanya dapat melihat aktivitas mereka dari atas bukit dengan jubah putih menari-nari dari kejauhan tanpa harus mengenali siapa kah bidadari nan cantik itu. Sementara ruang kelas saat itu masih di atas bukit asrama kami.

Saat cahaya matahari mulai menyapa embun pagi dan makhluk tuhan lainnya, lantas sinar itu memberikan semangat bagi kehidupan kami sebagai santri yang dibalut oleh aturan pondok yang telah membentuk karakter kami. Selain sinar matahari, telah nampak dari kejauhan bahwa ada cahaya yang menyilaukan mata yaitu cahaya putih yang membungkus tubuh-tubuh lembut yang belum halal kami saksikan. Mereka bagaikan para bidadari dari langit yang berbaris rapi menaiki bukit dengan nafas tersendak-sendak terdengar dari bibir polos. 


Setiap hari mereka harus naik turun bukit hanya demi tetesan-tetesan ilmu yang diharapkan. Sedangkan kami hanya dapat menyaksikan bagaimana lelahnya menapakkan kaki di ketinggian. Dengan penuh kesabaran mereka mampu lakukakn itu.

Sejuta kenangan, kisah dan cerita tak dapat kami abadikan dalam alat canggih seperti saat ini, hanya bangunan dan pepohonan yang menjadi saksi bisu bagaimana kerasnya perjuangan kami saat itu. Menjadi seorang santri memang sangat pahit tapi semua orang akan menikmati manisnya perjuangan para santri.

Itulah sepenggal cerita yang dapat saya utarakan dalam tulisan ini, meskipun sebenarnya masih banyak cerita dan kenangan yang saya titipkan pada bukit Utsman Bin Affan. 

Salam dari kami yang pernah menjadi santrimu Pondok Pesantren Utsman Bin Affan. Kami titipkan kisah kami pada bukitmu, hanya kami dan bukitmu yang dapat menceritakan kenangan itu kepada penerus kami.

"Bangga pernah menjadi bagian darimu UBA" (Abdul Fahad/Man).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru