Kuncup Cinta di Ujung Hari Raya

Devi menyusun buku-buku yang baru saja dibawa dari Masjid.  Malam Jumat ini padat dengan pengajian, termasuk Ustad pengasuh Pondok Pesntren. Pengajian akbar ini dilaksanakan sepekan sekali.

“Dev, kamu ada SMS” Nunung teman sekamarnya yang tidak ikut ke Masjid itu menghampiri Devi dan menyodorkan HPnya.

“Dari siapa?” Dengan basa basi gadis itu menerima alat komunikasai itu.

“Baca sendiri di in box”. Nunung menunjuk HP yang telah berada di tangan Devi. Gadis itu membaca pengirimnya, Alex.......! Devi terkejut. Spontan dia teringat cowok yang memiliki nama Alex itu.

“Kapan kamu bertemu?” Devi membuka percakapan.

“Baru saja”.

“Baru saja?” Alis Devi berkerut seketika. Dan Nunung tersenyum menanggapi keterkejutan temannua itu.

Nunung kembali ke ranjang dan memeluk bantal. “Ya, dia mau ke sini melompati tembok”.

“Melompati tembok?” Untuk yang kesekian kalinya Devi terkejut. “Gila! Nekat amat tuh anak, bisa berabe dong!”

“Wajar saja, Dev. Namanya lagi kasmaran. Memang bisa gila dan suka nekat”.

“Tapi sungguh dia keterlaluan. Ini pesantren, Nung. Kalau ketahuan para senior bisa dihukum dia” ucap Devi cemas.

Nunung mengangkat bahu, “ya, nggak tahu deh!”

Masih diliputi kecemasan. Devi membuka in box HP milik Nunung, SMS dari cowok penghuni pesantren putra. Hatinya mulai berdebar-debar dan bertanya-tanya.

Ass. kum...

Devi....Aq tdk tw apa yg hrs kutlis,

Aq hx pux kinginan mnulis utkmu

Enthlh, sjak qt brtmu, aq sring tringt km

Aq tdk tw mngpa pikirnku bgt

Mngkn km jg mrsa sprt yg krasakn?

Sgguh, aq ingn mndngarx, Dev – Alex Sonjay

Devi menutup LCD HP. Dibenaknya terbayang seraut wajah milik Alex meskipun samar-samar. Dia bertemu hanya sekali, ketika Devi sedang menunggu mobil. Tiba-tiba ada cowok keren keluar dari gerbang pondok pesantren putra.

Devi tidak berani memperhatikannya. Dia mengalihkan pandangannya pada pepohonan yang diterpa angin, dan sekali melihat ke arah jalan raya.

“Mau kemana?”

Devi menoleh ke arah suara itu. Didapatinya cowok tadi telah berdiri didekatnya. Tubuhnya atletis dan wajahnya.....hmmm, mirip wajah indo. Bukan blesteran Arab, tapi seperti blesteran India.

“Mau pulang,” jawab Devi.

“Pulang? Rumahnya dimana?”

“Di Kediri, kota santri”.

Cowok itu tersenyum ramah. “Enak ya dekat rumah, sering pulang”.

“Kamu tadi dari mana?” Devi ingin tahu.

“Dari mana?” Cowok itu menirukan pertanyaan Devi.

“Saya juga murid Pondok Pesantren ini. Mau ke Lombok Timur”.

“Oh ya?” Devi tidak percaya. Ah, mana mungkin ada santri kayak kamu. Wajahmu, busanamu dan penampilanmu, dengan tubuh atletis, lebih tepat sebagai peragawan atau photo model. Batin Devi teringat gambar-gambar di majalah milik Risky kakaknya.

“Ya, maklumlah kalau kamu tidak percaya. Saya baru sebulan di pondok. Jadi wajar bila penampilan saya tak menunjukkan citra santri,” papar cowok itu.

Devi tersenyum mendengarnya. Kemudian mereka menjadi akrab. Di atas mobil mereka saling tukar cerita. Dan sejak itu Devi tahu nama cowok itu adalah Alex Sonjay. Hm, nama yang lucu sebenarnya. Perpaduan nama yang kontras. Tapi kalau melihat nazabnya, memang logis, karena nama berasal dari India. Sedang papanya adalah ulama dari Jawa. Tapi Devi juga menangkap suatu yang aneh dari Alex. Seperti ada beban yang tersimpan di balik sinar matanya yang kebiru-biruan itu.

Devi duduk di beranda kamar. Dinginnya malam mulai merayapi kulitnya. Suasana pondok putri agak sepi. Malam Minggu diawal bulan, banyak santri yang pulang ke rumahnya masing-masing. Tapi Devi tidak pernah pulang pada minggu pertama. Selain dia bisa pulang setiap saat tanpa mengganggu aktivitasnya di pondok. Dia lebih suka menikmati suasana pondok yang agak lengang itu. Ada nuansa tersendiri yang timbul dalam dadanya.

Tiba-tiba kesendiriannya terusik oleh suara orang melompat dari atas tembok. Hampir dia berteriak mengira ada pencuri. Devi benar-benar dicekam ketakutan, karena di pondok kini tidak begitu banyak penghuninya. Hanya tinggal beberapa murid yang tinggal di asrama.

“Sssst jangan ribut!” Suara itu mendekat. Wajah Devi semakin pucat. Hampir dia pingsan. Tapi setelah diperhatikan dengan seksama, Devi berubah terkejut. Kau? Ngapain malam-malam datang ke sini? Kau bisa.....batin Devi cemas.

“Perbuatanmu ini sangat keterlaluan. Kamu bisa dikira pencuri, kamu bisa dihukum,” keluh Devi.

“Aku tidak lama. Aku hanya ingin tahu apa kamu sudah membaca SMSku?”

“Sudah,” guman Devi menundukkan kepalanya. Rambutnya yang biasa terbungkus jilbab itu terurai sebahu dan sebagian terjurai di kening menambah keelokan parasnya. Hm, maha suci Allah yang menciptakan gadis itu begitu rupa. Alex mengguman seraya menelan ludah.

“Sudah dua minggu kok belum dibalas?” todongnya.

“Aku.....aku.....” Devi jadi kikuk.

“Kamu ingin mengatakannya sekarang? Katakanlah! Aku sedang siap mendengarnya. Kamu memiliki perasaan seperti yang aku rasakan atau tidak?”

Devi kian menundukkan wajahnya. Pandangannya mengais lantai yang diinjak kakinya. Baru kali ini dia menerima pertanyaan begitu. Aduh ma! Bagaimana aku menjawabnya? Jangankan menjawab isi SMSnya, omong saja rasanya tak mampu karena bibirku telah beku.

“Baiklah! Kalau kamu belum bisa menjawab, aku akan menunggu. Tapi perlu kamu ketahui, aku benar-benar mencintaimu”, tukas Alex mendekat. Dipegangnya bahu Devi...Dan cup! Kening lembut Devi diciumnya sebelum berlalu melompati tembok.

Devi tercengang. Tak tahu harus berbuat apa. Sementara debur gemuruh membahana disetiap relung-relung hatinya. Tapi di antara sekian banyak yang berkecamuk dihatinya, dia berdoa...Ya Allah, ampunkan dosa kami dan karuniakan petunjuk-Mu pada Alex.

Seperti biasanya pada hari-hari raya Idul Fitri, sebagian keluarga  di pondok, pulang ke rumah masing-masing. Hanya Devi yang memutuskan untuk sholat Id di Masjid pondok pesantren dan semua kerabat keluarga ustad pengasuh pondok itu.

Ketika Dewi dan Devi beranjak ke serambi Masjid.....”Devi!” Ada seorang yang memanggil. Devi berhenti dan menoleh. Ia tercengang melihat cowok yang mendekatinya. Rambutnya pendek sekali, terlihat habis dicukur gundul. Memang sejak dihukum gundul gara-gara ketahuan melompat tembok, Alex tak pernah keluar menemui Devi. Padahal Devi ingin sekali bertemu, tapi keinginannya itu hanya terpendam di antara rasa iba dan kasihan tertanam rapi di antara kuncup-kuncup bunga asmara yang mulai tumbuh di dadanya.

“Eh, ada santri yang tidak pakai peci, ya?” kritik Devi ketika Alex telah berdiri di depannya.

Alex tersenyum, “biar puas orang yang menghukumku”.

“Kok kamu tidak pulang sih?” tanya Devi nyeletuk di antara obrolan kedua mahluk Tuhan itu.

“Pulang?” Alex balik bertanya. “Pulang kemana? Kakekku di Bima sana, sudah meninggal”.

“Orang tuamu?”

Alex tersenyum masam. Wajahnya berubah murung sekali. Ada beban sarat yang terbayang pada sinar matanya. Dihelanya napasnya dalam-dalam.

“Papa belum mengakui aku sebagai anaknya. Orang tua dan saudara-saudaraku ada di India. Aku di sini tak punya siapa-siapa. Ada famili juga sudah jauh”, kata Alex lirih.

Oh! Devi tercengang. Ada suatu yang terlepas tiba-tiba dari dadanya. Dan terhanyut pada apa yang dirasakan Alex. Betapa sedihnya seorang di Hari Raya Idul Fitri tidak bisa berkumpul dengan keluarganya. Ah, kasihan kau....guman Devi.

“Oh ya”, kata Alex. “Saya permisi dulu. Saya ingin ikut takbir”, tambahnya sebelum beranjak.

Devi menatap punggung Alex di antara pilar-pilar Masjid. Sejenak kemudian terdengar suara Alex menggantikan imam takbir. Dada Devi kian bergetar dan hatinya nyeri teriris-iris. Suara Alex bertakbir amat keras. Seperti ada jeritan yang ingin didengar Illahi. Jeritan yang ingin menggetarkan dinding-dinding angkasa raya dan hendak menembusnya. Hm, sungguh memilukan. Tanpa sadar pipi mulus Devi telah basah oleh butiran bening yang jatuh dari bola matanya. Butiran bening itu menetes pelan-pelan. Sedang Dewi menatap dengan perasaan tak mengerti.

Setelah khutbah sholat Id selesai dan takbir Hari Raya Idul Fitri berkumandang lagi, orang-orang berdiri saling bersalaman dan mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin. Terasa sekali nuansa fitroh dan persudaraan yang tinggi. Devi menikmati suasana itu seiring hatinya yang terus bertakbir.

Di antara kerumunan orang-orang yang bersalaman itu, Devi celingukan. Pandangannya beredar mencari sosok tubuh Alex. Dia ingin memberikan jawaban pada SMSnya beberapa bulan yang lalu. Hari ini merupakan kesempatan baik untuk menemui Alex.

“Minal Aidin Wal Faidzin”, ucap seorang gadis menyalami Devi dan berbalik. “Ada surat untuk kamu”.

Devi menatap gadis itu. Agak ragu, karena dia tidak begitu akrab. Selain gadis itu bukan siswi di pesantren itu, dia adalah famili uztad.

Devi menerima surat itu. Dia tersentak membaca pengirimnya, Alex?. Alis Devi terangkat. Ditatapnya gadis itu penuh tanda tanya.

“Begini”, gadis itu mulai menjelaskan. “Tadi malam ada interlokal dari kedutaan besar India di Jakarta yang memberi khabar bahwa, mama Alex sakit keras. Dia diminta pulang ke India. Sebelum berangkat, dia titip surat ini padaku. Baca di sini, yuk saya kembali ke Masjid”, kata gadis itu sebelum meninggalkan Devi.

Dengan  dada dag dig dug, Devi membuka surat itu, lalu dengan perlahan sekali dia membacanya.

Assalamualaikum wr.wb....

Dear Devi....

Minal Aidin Wal Faidzin, maaf lahir dan bathin

Sebenarnya terasa berat hatiku untuk menulis surat ini

Ingin rasanya aku berpamitan langsung padamu

Tapi aku harus berangkat pagi pagi sekali setelah sholat Id

dan tak mungkin bisa menemuimu.

Karena, aku harus naik pesawat penerbangan pertama.

Omku dari India telah menunggu di bandara HPK

Eh, entahlah! Mungkin Allah masih suka memberikan cobaan,

Setelah aku baru menyukai kehidupan di pesantren.

Mama sakit dan mengharap aku pulang ke India.

Ya, doakan aku kuat menjalani cobaan ini....

Memang terasa berat sekali

Terkadang aku berfikir, ini bukanlah cobaan atau ujian

Melainkan adzab yang harus kuterima.

Karena sebelum masuk di pondok, aku adalah anak yang nakal.

Bahkan aku pernah menjadi pemakai narkoba dan kujalani sendiri

Dear Dexi.....

Aku tidak tahu apakah diriku dan surat ini punya arti atau tidak bagimu.

Karena selama ini kamu tidak pernah menyatakannya,

meskipun kamun tahu kesungguhanku dalam mencintaimu.

Tapi sekarang, aku tidak berani membayangkan

Apakah kita masih bisa bertemu lagi atau tidak

Aku hanya berharap, kamu mau berdoa agar kita bisa bertemu lagi.

Devi........

Alex tidak melanjutkan suratnya. Barangkali ia tidak mampu lagi menulis. Seperti halnya Devi membacanya. Penglihatannya telah kabur tertutup air mata. Surat itu telah meruntuhkan kisi-kisi hatinya.

Tanpa banyak pikir, Devi bangkit dan bergegas menyetop taxi. Setelah dia memberi tahu ke arah BIL, Taxi lalu menerobos lalu lintas yang nampak sedikit lengang. Dia ingin betemu Alex di BIL meskipun hanya beberapa detik saja. Dia ingin memberikan jawaban dan mengatakan bahwa, dia menunggu Alex kembali.

”Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan CN 373 dengan tujuan Jakarta siap diberangkatkan. Para penumpang harap masuk lewat pintu” panggil petugas air port

Hah! Devi tersentak. Seketika tubuhnya lemas. Dipandangnya pesawat yang akan take up itu dengan dada hampa. Ada yang terlepas tiba-tiba dari dadanya.

Bersamaan dengan pesawat yang bergerak semakin menjauh, semua orang disekitar Devi masih melambaikan tangannya. Kemudian tanpa sadar, Devi mengangkat tangan dan melambaikannya. Ya, barangkali Alex tahu kalau aku mengantarnya, bathin Devi. ketika pikirannya melayang kelayar HP, ia tersentak. Dikeluarkannya HP dari dalam tasnya.

Dia mencari nomor ponsel milik Alex. Dan ingin mengirim SMS balasannya. Hah! Dimana nomornya? Lagi-lagi ia membolak balik SMS Alex pertama kali dulu. Ternyata pesan pendek itu telah didellet. Pikirannya menerawang untuk mencoba mengirim sepucuk surat untuk Alex. Tapi alamatnya? Ternyata Alex tidak juga meninggalkan alamatnya. Duh! () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru