Kera dalam terpaan angin

TAMSIL

PERUMPAMAAN YANG SYARAT MAKNA DAN PELAJARAN BERHARGA BAGI KEHIDUPAN

KERA DALAM TERPAAN ANGIN SEPOI-SEPOI DAN ANGIN KENCANG

Suatu hari terjadi dialog antara angin sepoi-sepoi dengan angin kencang. Dengan sombongnya angin kencang berkata bahwa dialah yang paling hebat dan kuat. Angin sepoi-sepoi menasehatinya agar jangan berlaku sombong. Namun angin kencang tidak menerima nasehat angin sepoi-sepoi bahkan menantang duel dan saling mempertunjukkan kebolehannya masing-masing. Akhirnya angin sepoi-sepoi mengajak angin kencang membuktikan omongannya dengan cara menjatuhkan seekor kera yang sedang bergelayutan di dahan sebuah pohon.

Ketika angin kencang beraksi meniupkan anginnya yang kencang, seketika si kera tadi mendekap dahan pohon dengan sangat kuat dan erat. Semakin angin kencang menerpa dirinya, pegangan si kera pada pohon semakin kuat. Demikian seterusnya sampai akhirnya si angin kencang menyerah, ia tak mampu menjatuhkan si kera dari atas pohon. Kini giliran angin sepoi-sepoi berhembus lembut menerpa kera. Mula-mula si kera berpegang pada pohon itu, tetapi karena hembusan angin sepoi-sepoi dirasakannya menyegarkan dan lembut akhirnya membuat si kera menjadi mengantuk. Maka lama-kelamaan seiring dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang semakin lembut dengan tanpa kekerasan sama sekali si kera terjatuh ke tanah karena ia tertidur yang menyebabkan lepasnya pegangan tangannya pada pohon itu.

Begitulah sebaiknya seorang pengusaha Agama bersikap. Dahulukan kelembutan daripada kekerasan. Kelembutan biasanya menghasilkan kebaikan, akan banyak manusia yang tertarik dengan usaha Da’wah. Namun kelembutan disini bukan berarti kita penakut. Kekerasan adalah penyebab hilangnya wibawa dan pada keadaan lain dapat menyebabkan Hidayah tertutup. Sebaiknya yang harusnya ada pada seorang pengusaha agama adalah tegas yang tidak berarti kasar!! 

 

Dari Kitab-kitab. Sumber foto; net

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru