Berkurban Itu Tidak Harus Kaya

Narmada KM, Ini kisah tentang seorang wanita setengah baya, katakanlah namanya Inak Ma'nah. Siapakah dia? Inak Ma'nah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang kini sudah berakhir. Inak Ma'nah adalah penerima BLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Inak Ma'nah adalah bukan milik sendiri.

Usia Inak Ma'nah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Dia sebatangkara. Dulu setelah remaja Inak Ma'nah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kota. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Inak Ma'nah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga.


Dia kembali ke kampung. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Inak Ma'nah bersama Ibunya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan Ibu yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Inak Ma'na

h ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren dekat rumahya. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Inak Ma'nah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun.

Kemarin Inak Ma'nah datang ke rumah Haji Sanusi.  sudah bisa ditebak  pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Inak Ma'nah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat  di mana Haji Sanusi bekerja. Tapi Inak Ma'nah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf.

Dia menabung Rp5.000 atau Rp10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima BLT Inak Ma'nah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan Saldo terakhir Inak Ma'nah adalah Rp 650 ribu.

Inak Ma'nah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan Haji Sanusi. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu di cegah.”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Inak Ma'nah dengan suaranya yang kecil.

”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”” jawab Haji Sanusi

Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak buru-

buru.

Mau ambil berapa?” tanya Haji Sanusi.

”Enam ratus ribu, Pak.

”Kok banyak sekali. Untuk apa,?”

Inak Ma'nah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Haji Sanusi tahu Inak Ma'nah amat menungg

u tanggapannya. Bahkan dia mengulangi kata katanya karena Beliau  masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Inak Ma'nah mengira  tidak akan diberikan uang tabungannya. Padahal Haji sanusi lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Inak Ma'nah membeli kambing kurban.

”Iya,  Senin besok uang Inak Ma'nah saya akan diberikan sebesar enam ratus ribu, kata Haji Sanusi." Tapi, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban,  bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niatmu  benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?

”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekaran

g saya ingin jadi pemberi daging kurban".

”Baik, Besok senin uang kamu akan saya ambilkan di bank".

”Wajah Inak Ma'nah  benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Inak Ma'nah pulang.

Setelah Inak Ma'nah pulang, Haji Sanusi termangu sendiri. Kapankah Inak Ma'nah  mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim?

Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?

Pertanyaan ini muncul karena umumnya iba

dah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Inak Ma'nah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau kalau diliat dari segi ekonomi tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban.

Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kau belikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Inak Ma'nah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji. Subhanallah. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru