Kisah Para Ahli Zuhud dan Dermawan

 

KISAH PARA AHLI ZUHUD DAN DERMAWAN

KISAH KE-10

Waqid rah.a. menceritakan kisah ini, Aku mempunyai dua orang teman, seorang dari Bani Hasyim dan seorang lagi bukan dari Bani Hasyim, dan kami sangat akrab bagaikan tiga sekawan yang tak terpisahkan. Ketika idul Fitri tiba, aku mengalami kesusahan. Isteriku berkata kepadaku, “Kita dapat bersabar menghadapi berbagai keadaan, tetapi aku tidak tahan mendengartangisan anak-anak. Hatiku sangat hancur menyaksikan mereka berpakaian sangat buruk, sementara anak-anak tetangga mendapatkan pakaian-pakaian baru dan barang-barang bagus untuk Idul Fitri ini. Untuk anak-anak kita, aku harus memberi mereka jajan dan menjahitkan pakaian baru.”

Karena keluhan isteriku itu, aku menulis surat kepada kawanku dari Bani Hasyim, menceritakan hal itu kepadanya. Kemudian Ia mengirim kepadaku sebuah kantung tertutup berisi seribu dirham, dengan pesan bahwa aku boleh menggunakan uang itu sesukaku. Aku hampir menikmati hadiah yang sangat berharga itu, namun pada saat itu, aku menerima surat dari sahabatku yang lain, yang isinya menceritakan kemiskinannya dan kebutuhannya yang sangat mendesak. Segera aku kirimkan kantong itu yang masih tertutup kepadanya. Dan karena merasa malu harus pulang dengan tangan kosong, aku tinggal di masjid selama dua hari. Pada hari ketiga aku pulang dan kuceritakan kepada isteriku perihal kantong tertutup itu. Aku terkejut, karena isteriku sama sekali tidak mengeluh, bahkan Ia menghargai bahwa aku telah bersikap sangat baik terhadap sahabatku.

Ketika kami sedang duduk berbincang-bincang, sahabatku dari Bani Hasyim datang dengan kantong yang sama yang pernah dikirimkan kepadaku tiga hari yang lalu, Ia berkata, “Ceritakan kepadaku tentang kantong ini. Bagaimana kantong ini bisa kembali kepadaku?”

Maka kujelaskan kepadanya bahwa aku telah mengirim kantong itu kepada sahabat yang satunya, tidak lama setelah aku menerimanya.

Ia berkata, “Ketika aku menerima suratmu, aku tidak memiliki apa-apa kecuali kantong ini dan isinya. Kemudian kukirimkan kepadamu, lalu aku menulis surat kepada sahabat kita yang bukan dari Bani Hasyim itu untuk meminta bantuannya. Aku terkejut, ketika mengirimkan kepadaku kantong yang masih tertutup yang pernah aku kirimkan kepadamu. Aku ingin mengetahui bagaimana tas ini bisa sampai kepadanya, oleh karena itu aku datang kepadamu.”

Akhirnya kami berikan seratus dirham kepada isteriku dan membagikan sisanya sama rata di antara kami bertiga.

Entah bagaimana, Khalifah Maimun Rasyid mengetahui kejadian ini, lalu memanggilku ke istananya. Kuceritakan seluruh kisah itu kepadanya, lalu Beliau menghadiahi kami tujuh ribu dirham. Enam ribu dirham kami bagi bertiga, dan seribu dirham untuk isteriku. (It-haaf) 

 

 

(Disadur dari buku Fadhilah sedekah, karya Maulana Muhammad Zakariyya alkandhalawi rah,a., 2002, 492-493) sumber foto ; net

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru