Kisah Orang-orang Sholeh Terdahulu

 

                KISAH ORANG-ORANG SHOLEH TERDAHULU

KISAH KE-41

Syaikh Abu Ya’qub Basri rah.a. berkata, “Suatu ketika di kawasan Masjidil Haram Makkah aku mengalami kelaparan yang sangat dahsyat, karena sepuluh hari tidak menjumpai makanan sedikit pun. Oleh karena itu aku memutuskan untuk keluar dari tanah Haram, barangkali aku akan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Akupun memperoleh makanan yaitu sejenis lobak yang telah busuk yang di buang ke tanah. Ketika aku mengambilnya, terlintas dalam pikiranku untuk tidak memakannya, lalu aku membuangnya dan kembali ke Masjid.

Ketika aku sedang duduk di dalam masjid, tidak lama kemudian muncullah seseorang yang tidak kukenal mendatangiku dan meletakkan sebuah tas kain di hadapanku sambil berkata, “Ambillah ini, di dalamnya akan kamu dapati sebuah tas kecil dari kain berisi lima ratus keeping emas. Ini adalah nadzar yang telah kulakukan untuk memberikannya kepadamu.”

Aku bertanya kepadanya, “Tetapi mengapa ini diberikan khusus kepadaku?” Dia menjawab, “Selama sepuluh hari kami tersesat di laut sehingga kapal kami hamper tenggelam, pada waktu itu setiap orang di antara kami masing-masing membuat sumpah. Aku membuat sumpah kepada Allah bahwa jika Dia menyelamatkam kami, aku akan memberikan tas uang itu kepada orang yang pertama kali kulihat dari kalangan penduduk Makkah. Maka Allah telah menyelamatkan kami, dan kamu adalah orang yang pertama sekali aku lihat di kota Makkah.” Orang itu berkata, “Bukalah tas itu.” Lalu aku membukanya dan di dalamnya aku dapati gula putih, gula-gula, roti, buah badam yang telah terkupas dan sedikit daging manis,aku lalu mengambilnya sedikit dari masing-masing makanan itu dan mengembalikan sisanya sambil berkata, “Saya menerima hadiah ini, akan tetapi ambillah kembali makanan itu dan bagi-bagikanlah kepada orang-orang yang bergantung kepadamu.”

Dalam hatiku aku berkata, “Betapa anehnya, rezeki sedang diantarkan kepadamu selama sepuluh hari, sedang disini kamu mencari-carinya.” (Raudhur Riyahin)

 

(Disadur dari buku Fadhilah Haji, karya Maulana Muhammad Zakariyya Alkandhalawi rah.a. ; 2003, 317-318). Sumber foto: net.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru