Perjuangan Kakek Mahmud Menafkahi Keluarga

Bagi kebanyakan sungguh tidak enak menjadi orang terbelakang ekonomi. Setiap hari harus berjuang mencari nafkah, walaupun nyawa taruhannya karena bergelut dengan musim yang tak bersahabat. Namun sejak puluhan tahun lalu Mahmud sudah terbiasa dengan tantangan itu. Laporan Fachrunnas:

Desir angin menyibakkan remang senja. Di musim ranggas angin begitu deras menampar reranting getas di pinggir pantai. Buih-buih ombak menari bersama puluhan perahu nelayan yang terpakir di pinggir dermaga. Lamat-lamat suara burung bersahutan membawa kabar langit yang hendak beringsut ke jantung malam. Dari kejauhan sana, hilir mudik kendaraan terasa hingar. Bising deru mesinnya kadang menyengat telinga, samar cahayanya kadang menyambar di pinggir pantai. Di atas biduk itu, jari jemari hitam legam itu masih sibuk merapikan oggokan pukat yang terburai di air. Beberapa nelayan lain sudah bergegas ke pemukiman, namun ia tak peduli.

Pria itu adalah Mahmud, kakek 67 tahun, warga kampung nelayan Kelurahan Tanjung Kota Bima. Mendedikasikan hidupnya untuk keluarga tercinta dengan mengarungi teluk Bima setiap hari. “Kalau saya tidak kerja kasihan istri saya tidak bisa makan. Apalagi istri saya sedang sakit. Mau tidak mau saya harus terus kerja,” katanya saat ditemui di PPI Tanjung Kota Bima.

Sudah lebih dari 40 tahun Mahmud menjadi nelayan. Selama itu pula ia menyisir teluk Bima dan laut Wera dengan biduk kecil yang setia menemaninya. Tubuhnya yang mulai terkoyak usia tidak pernah ia pedulikan. Yang terpenting baginya asap dapur tetap mengepul. Ayah tujuh anak ini sudah sering merasakan getirnya menjadi nelayan, saat sampannya diterpa ganas gelombang dan angin kencang. Namun kejadian itu tidak pernah melarungkan perjuangannya untuk menafkahi keluarga.  “Dulu saya melaut kadang sampai Wera, tapi kalau sekarang sampai Kolo saja. Tapi kalau nelayan perahu besar yang pakai mesin kadang sampai ke Tambora sana,” cerita suami Hadiza Haki ini.

Dulu Mahmud punya seonggok mimpi menyekolahkan anaknya hingga sukses, namun kini semuanya seolah bertarah. Hanya tersisa angan menimang harapan. Impian indah itu kandas karena keterbatasan ekonomi. Tujuh anaknya hanya mampu dibiayai hingga sekolah dasar dan menengah. Kini, seluruhnya berprofesi sebagai buruh di pelabuhan. “Mau bagaimana lagi kondisi yang memaksa begitu. Enam orang sudah menikah, tinggal satu yang belum,” ujarnya.

Untuk urusan tanggungjawab mencari nafkah, Mahmud tidak mau menyerah karena urusan usia, walaupun pada kalangan Pegawai Negeri Sipil atau karyawan perusahaan seusianya sudah menikmati masa pensiun. Anak-anaknya hanya membantu saat dia tidak terlalu sehat mengarungi laut. Daripada menafkahi keluarga dengan uang haram, ia memiliki prinsip mencari rizky yang halal. Dalam sehari kadang membawa pulang hasil Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Namun saat cuaca buruk seperti sekarang ini, hanya mampu membawa pulang hasil tangkapan Rp20 ribu.

Ia selalu bersyukur, walaupun hidup terasa getir. Hal terpenting baginya selalu bersyukur akan rizky yang diberikan Tuhan kepadanya. Bahkan saat pemerintah tidak memberikan bantuan secara merata kepada nelayan, Mahmud tidak pernah protes. “Kalau bantuan untuk nelayan saya tidak pernah dapat. Kalau bantuan lain pernah ada. Syukur alhamdulillah ada yang dimakan. Bagi saya, yang penting kita selalu bersyukur saja,” katanya.

Mahmud tak tahu hingga kapan akan mengembara di atas laut yang kadang ganas. Yang dia tahu mengayuh perahu kayu. Karena roda hidup terus berputar. Karena dapur harus tetap mengepul. Walau usia menyergap. Ia adalah potret dari kehidupan warga di kampung nelayan Kelurahan Tanjung Kota Bima. (*) -05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru