Kisah Orang-orang Sholeh Terdahulu

KISAH ORANG-ORANG SHOLEH TERDAHULU

KISAH KE-69

Rabi’i bin Sulaiman rah.a. berkata, “Suatu ketika aku pergi untuk menunaikan haji bersama saudara lelakiku dan sekumpulan calon haji lainnya. Ketika sampai di Kuffah, aku pergi ke took untuk membeli beberapa keperluan di perjalanan. Di tengah jalan yang sunyi, aku melihat seorang perempuan berpakaian seperti orang miskin sedang memotong daging-daging dari seekor keledai mati (buka karena disembelih) yang tergeletak di atas tanah. Dia memasukkan daging itu ke dalam bakul.

Melihat semua ini aku merasa berduka cita, mungkin wanita ini akan membawa daging dari bangkai tersebut untuk diberikan kepada orang lain. Setelah memperhatikan hal ini, aku tidak bisa diam saja. Maka aku mengikutinya secara diam-diam supaya dia tidak tahu kehadiranku.

Setibanya di kota, dia pergi ke sebuah rumah besar yang mempunyai pintu besar. Dia pun mengetuknya, dan setelah memperkenalkan dirinya, empat gadis muda datang membukakan pintu. Dia masuk ke dalam dan meletakkan bakul tersebut di hadapan para gadis. Ketika itu para gadis menangis dan si ibu itu pun mengetahui bahwa mereka sedang menghadapi suatu keperluan yang banyak dan nasib yang dirundung malang. Ketika itu aku mendengar di balik pintu, si ibu berkata, “Ambillah ini dan masaklah sendiri untuk kamu makan, dan bersyukurlah kepada Allah. Sesungguhnya hanya Allahlah yang berkuasa atas segala-galanya, dan dia berkuasa untuk membolak-balikan hati manusia.”

Gadis-gadis itu memotong daging tersebut, memanggangnya dan mulai makan. Dari tempat dimana aku berdiri, aku merasakan dusta nestapa yang teramat sangat dan menjerit, “Wahai hamba-hamba Allah, demi Allah, jangan makan daging itu!” dari dalam rumah (si ibu) balik membalas dengan teriakan, “Siapa kamu?”

Aku menjawab, “Aku orang asing disini.”

Dia berkata, “wahai orang asing, apa yang kamu inginkan dari kami?” diri kami sendiri dalam keadaan yang sangat susah dan dibelenggu oleh taqdir yang telah ditentukan untuk kami. Selama tiga tahun, kami tidak mempunyai pembantu, dan tidak ada saudara di atas bumi ini. Apa yang kamu kehendaki dari kami?”

Aku berkata, “Dalam agama mana pun tidak dibenarkan memakan daging binatang mati tanpa disembelih (bangkai) selain di kalangan orang-orang majusi (penyembah api).”

Dia menjawab, “Kami ini dari keluarga Rasulullah saw.. bapak anak-anak perempuanku ini adalah seorang Sayyid yang Mulia. Adalah menjadi keinginannya yang besar untuk mengawinkan anak-anak perempuannya ini dengan lelaki dari kelas yang setara dengannya. Malangnya dia telah meninggal dunia, dan baru sebentar saja setelah dia meninggal, bekal-bekal yang ditinggalkannya untuk kami telah habis. Kami tahu bahwa tidak dibenarkan makan bangkai daging binatang, tetapi ketika keadaan memaksa seseorang, ia dibenarkan. Selama empat hari kami tidak mendapati makanan untuk dimakan.”

Ketika aku mendengar kisahnya, aku sangat sedih dan menangis dengan perasaan sangat berduka, lalu aku kembali dari sana. Ketika aku menemui saudaraku lagi, aku berkata kepadanya, “Saudaraku, sekarang aku tidak lagi berniat untuk meneruskan perjalanan haji.” Mendengar perkataanku ini, saudaraku membujukku untuk meneruskan perjalanan. Dia menerangkan kepadaku bahwa seorang yang kembali dari haji akan menjadi seperti seorang yang baru lahir. Aku memberitahu kepadanya supaya jangan menghabiskan  waktu lagi untuk mengubah keputusanku, kemudian aku mengambil pakaian ihramku dan semua barang-barangku bersama enam ratus dirham, lalu aku membeli tepung seharga dua ratus dirham dan pakaian seharga seratus dirham. Kemudian aku mengantar semuanya kerumah gadis-gadis tersebut dengan terlebih dulu menyembunyikan uang lebihnya di dalam tepung.

Ketika si Ibu menerimanya, dia memuji-muji Allah sebanyak-banyaknya dan berkata kepadaku, “Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang. Semoga Allah memberikan kamu ganjaran haji dan mengaruniakan kamu suatu tempat yang tinggi di surga, semoga Allah memberi ganti untukmu dengan ganti yang lebih baik dari apa yang telah kamu berikan kepada kami. Satu pengganti yang kamu sendiri akan mengetahuinya kelak.”

Gadis yang tertua berkata, “Semoga Allah memberi ganjaran untuk kamu dua kali lipat dan mengampuni dosa-dosamu.” Yang kedua berkata, “Semoga Allah mengaruniakan kamu lebih banyak dari apa yang telah kamu berikan kepada kami.” Yang ketiga berkata, “Semoga Allah membangkitkan kamu pada hari kiamat bersama kakek kami Rasulullah saw..” yang termuda berkata, “Ya Allah, orang yang telah membantu kami ini, berilah dia anugerah sebanyak-banyaknya dan secepat mungkin, dan ampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.”

Rabi’i rah.a. meneruskan kisahnya, “Para haji berangkat dan aku tinggal di Kuffah. Ketika mereka kembali dari haji, aku pergi untuk menyambut mereka, dengan harapan agar mereka berdo’a untukku. Ketika satu rombongan datang dan terlihat olehku, terasa olehku ada sedikit perasaan menyesal, karena tidak melakukan haji. Dalam keadaan sedih seperti ini, air mata mengalir dari kelopak mataku. Ketika bertemu mereka aku berkata, “Semoga Allah menerima hajimu dan memberimu ganjaran atas apa-apa yang telah kamu belanjakan.” Salah seorang dari mereka berkata kepadaku, “mengapa kamu berkata demikian? Do’a apakah ini? Aku menjawab, “Ini adalah do’a harapan bagi seorang yang telah tertinggal dari rahmat untuk hadir bersama-sama di pintu-Nya.” Dia menjawab, “Perkataan yang menakjubkan. Bagaimana mereka sekarang bisa mengelak tentang kehadirannya disana? Tidakkah kamu hadir bersama kami di padang arafah? Sesungguhnya kamu bersama kami ketika kami melontar batu di zumrah, kamu melakukan thawaf bersama kami.” Aku berpikir, “Ini pasti karunia Allah.”

Ketika menunggu disitu, para haji dari tempatku pun tiba dan aku berkata kepada salah seorang dari mereka, “Semoga Allah menerima dan memberi kamu ganjaran atas usaha susah payahmu dan pembelanjaanmu di jalan-Nya.” Dia juga berbicara mengenai kehadiranku di Arafah dan di Mina. Mereka sangat terkejut ketika aku mengelak dari hal tersebut. Salah satu dari mereka datang ke depan dan berkata, “Saudara mengapa kamu mengelak? Apa ini? Kamu sesungguhnya bersama kami di Makkah dan di Madinah, ketika kita keluar dari baab Jibril, kamu memberikan tas ini kepadaku karena orang begitu banyak berdesakan di sekeliling kita. Di atasnya tertulis:

“Man Aamalanaa Robiha’

“Siapa yang berurusan dengan kami, akan beruntung.”

“Nah, Ambillah tas berisi uang ini.”

Rabi’I rah.a. berkata, “Aku bersumpah demi Allah, aku tidak pernah melihat tas uang itu seumur hidupku. Walau bagaimana pun dengan perasaan penuh ketakjuban, aku membawa pulang tas uang itu. Setelah shalat isya’ dan menyelesaikan Wazhifah (dzikir rutin) malam seperti biasa, aku terlentang memikirkan kisahku yang aneh ini, yang mana aku hadir sewaktu penunaian haji sedangkan aku tahu bahwa aku tidak pernah pergi kesana untuk haji. Dalam keadaan pikiran begini, aku tertidur dan bermimpi melihat Rasulullah saw.. aku memberi slam kepada Beliau lalu mencium tangan Beliau. Dengan senyuman yang ceria, Beliau menjawab salamku dan berkata kepadaku:

“wahai Rabi’I berapa saksi lagi yang kamu kehendaki supaya kamu percaya bahwa kamu telah menunaikan haji? Namun kamu masih tidak percaya.

Dengarlah, melalui kebaikan hatimu yang mana telah mengurungkan niatmu untuk menunaikan haji dan sebaliknya kamu telah berbuat kebajikan kepada wanita dan anak-anaknya, dan ketika kamu juga memberikan bekalmu kepada mereka, Aku berdo’a kepada Allah supaya mengaruniakan suatu ganjaran yang lebih baik dan menguntungkan sebagai gantinya. Maka Allah telah menyebabkan seorang malaikat muncul dalam bentukmu dan memerintahkannya supaya melakukan haji bagimu setiap tahun dan selama-lamanya, dalam dunia ini. Allah telah mengaruniakan kamu dengan uang enam ratus uang emas sebagai ganti kepada enam ratus dirham yang telah kamu belanjakan. Siapa yang berurusan dengan kami, akan beruntung.”

Ketika aku terjaga dari mimpi ini aku pun membuka tas tersebut dan melihatnya, aku dapati enam ratus uang emas. (Rushfatus Sawii)

(Disadur dari buku Fadhilah Haji, karya Maulana Muhammad Zakariyya Alkandhalawi rah.a. ; 2003, 351-355). Sumber foto: net.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru