Kisah Orang-orang Sholeh Terdahulu

 

                KISAH ORANG-ORANG SHOLEH TERDAHULU

KISAH KE-25

Syaikh Fatah Musaly rah.a. berkata, “Suatu ketika di padang pasir aku melihat seorang anak berjalan tanpa alas kaki, sementara bibirnya terus-menerus bergerak. Kami pun saling member salam, lalu aku bertanya, “Anak muda yang di muliakan, kemanakah kamu akan pergi?” Dia menjawab, “ke rumah Allah di Makkah. “ Aku bertanya lagi, “mengapa bibir kamu kelihatan sibuk.” Dia menjawab, “Aku membaca Al Qur’an.”

Aku bertanya, “Tetapi kamu belum baligh.” Dia menjawab, “Ya dan aku telah melihat maut merenggut orang-orang yang lebih muda dariku.” Aku berkata, “Langkah kamu pendek sedangkan perjalanan menuju Makkah sangat jauh dan sukar.”

Dia menjawab, “Aku hanya mengangkat kakiku dan allahlah yang menyampaikan aku ke tempat tujuan.” Aku bertanya, “Tidakkah kamu mempunyai perbekalan dan kendaraan?” Dia menjawab, “Bekal untuk perjalanan ini tergantung kepada Allah dan kendaraanku ialah kakiku.” Aku bertanya padanya tentang makanan dan air untuk perjalanannya itu. Dia menjawab, ”Tuan, jika seseorang mengundangmu ke rumahnya, apakah tuan akan membawa makanan untuk tuan makan di sana?” Aku menjawab, “Tidak.”

Dia berkata, “Tuhanku telah mengundang hamba-hamba-Nya kerumah-Nya dan telah member izin kepada mereka untuk menziarahi-Nya. Hanya karena lemah keimanan kepada-Nya yang telah memaksa mereka membawa makanan untuk bekal mereka, dan inilah yang aku benci. Aku telah memikirkan kemuliaan-Nya, apakah tuan piker Dia akan membinasakan saya?” Aku menjawab, “Pasti tidak.”

Anak itu pun pergi meninggalkan aku dan aku bertemu kembali dengannya di Makkah. Ketika dia melihatku, dia berkata, “Ya Syaikh, apakah tuan masih lemah iman?” kemudian dia membacakan syair berikut ini:

“Pencipta segala alam adalah Penjamin Rezekiku. Jadi, mengapa aku harus mengganggu ciptaan Allah untuk rezekiku? Sebelum kewujudanku, sudah tentu Tuhanku mengumumkan tentang apa-apa yang menyebabkan kerugian atau manfaat kepadaku. Ketika aku sehat, nikat-nikmat-Nya menyertaiku, dan ketika aku dalam keadaan keperluan, Dia menyenangkanku. Karena kejahilanku, maka tidaklah putus rezekiku, dank karena ketajaman pikiranku tidak juga menambah rezekiku.”

 

(Disadur dari buku Fadhilah Haji, karya Maulana Muhammad Zakariyya Alkandhalawi rah.a. ; 2003, 303-304). Sumber foto: net.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru