Ternyata Menyehatkan dan Menghasilkan

KM Sambang Kampung- Setiap hari saya selalu melihat lelaki tua ini menggiring kerbau, sudah lama saya penasaran dengannya. Saya ingin sekali mendengar ceritanya dan kenapa setiap hari selalu menggiring kerbau dan selalu menggagu perjalanan saya saat melintas di jalan raya tepatnya di desa Bagik Manis. Setiap saya melintas penggembala tua ini selalu menggiring kerbaunya dipinggir jalan bahkan terkadang kerbaunya melintas ditengah jalan raya yang dapat menggagu perjalanan kendaraan. Akhirnya rasa penasaran sayapun terjawab ketika pengembala ini memberi makan kerbaunya di sekolah tempat saya bertugas, Begini ceritanya….

Penggembala tua ini namanya Amaq Yani, tinggal di Desa bagik Manis Kecamatan Sambelia. Sehari-harinya dia bekerja menggembala kerbau, kalau malam dia selalu pergi keladang menunggu tanamannya. Jika pagi tiba, sekitar pukul 07.00 Wita Amaq Yani sudah siap dikandang kerbau untuk melakukakn penggembalaan. Kemudian dia menuju ladang penggembalaan di pinggir hutan Sambelia, saat menuju daerah penggembalaan itulah dia melewati jalan raya sehingga perjalanan kendaraan terganggu.

Amaq Yani mulai sebagai gembala kerbau sekitar empat tahun yang lalu, sebelumnya dia hanya petani diladang dan bekerja serabutan. Mulanya dia hanya memiliki dua ekor kerbau yang umurnya baru dua tahun, dengan sabar dia memelihara kerbaunya hingga kini sudah menjadi dua belas ekor kerbau. Gayanya yang santai membuat saya menjadi semakin penasaran sehingga saya bertanya kenapa setua ini bapak masih kuat berjalan? Dengan senyum dia bercerita, usia saya sekitar 73 tahun sempat melihat Belanda waktu masih kecil, saya mempunyai tujuh orang anak kemudian  dari tujuh anak itu saya memiliki dua belas  cucu dan dari dua belas cucu itu saya memiliki dua orang mbik (“balok”).

Menggembala kerbau setiap hari akan mengeluarkan banyak keringat karena harus berjalan sampai berkilo-kilo meter, mulai pukul 07.00 Wita dan pulang nanti sekitar pukul 16.00 Wita. malamnya saya keladang menjaga tanaman disana, saya memiliki empat tempat menanam jagung luasnya sekitar empat Ha.  biasanya saya membawa bekal makanan dan minuman di tengah padang penggembalaan baru saya istirahat dan makan kata Amaq Yani sambil mengarahkan kerbaunya kesuatu tempat dengan sebuah bambu kecil.

Ketika Amaq Yani sudah mau beranjak pergi mengikuti arah kerbaunya saya sempat bertanya tentang harga  kerbaunya, sambil berjalan dia menjawab, induk yang paling besar itu harganya Rp 13.000.000.- dan yang lainnya rata-rata Rp 10.000.000. dan akhirnya dia pun berlalu dan terus menggiring kerbaunya. Setelah itu saya dan dua orang teman saya menghitung harga kerbau Amaq Yani jumlah induk yang besar sebanyak 4 ekor maka 4 x 13.000.000 = 52.000.000, dan 8 x 10.000.000 = 80.000.000 jadi setiap hari Amaq Yani selalu membawa uang sebanyak 52.000.000 + 80.000.000 = 132.000.000 setiap hari. Belum hasil panen jagungnya….

Ternyata menggembala kerbau selain menyehatkan bisa juga membuat orang jadi kaya….kamipun saling memandang dan tersenyum lebar. Inilah bentuk kesederhanaan masyarakat didesa, meski hanya mengembala kerbau namun mampu membiaya kehidupan keluarganya. (uyik) - 05

 

 

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru