Bertahan Hidup Dengan Usaha Vulkanisir

Hari itu, langit begitu hitam dan menandakan hujan sebentar lagi akan turun. Walau dalam keadaan cuaca yang kurang bersahabat. Bapak Abdul tetap menjalani usahanya mencari nafkah untuk keluarganya, dengan cara mencari ban bekas untuk di jadikan ban vulkanisir. “Menjadi seorang pencari ban bekas butuh kesabaran yang luar biasa, dan terkadang menjadi beban bagi anak-anaknyayang kadang pulang membawat tangisnya karna selalu di ejek temen temennya” ungkapnya

Tetapi, bapak ini tetap teguh dan sabar menjalani kehidupan dan usahanya. Dia tetep yakin kalau Allah sayang kepada orang yang selalu bersabar dalam berbagai ujian/ masalah. Kata-kata itu yang membuat bapak ini menjadi semangat dan selalu tegar dalam menghadapi setiap masalah. Terkadang bapak ini tidak mendapatkan satu pun ban bekas untuk di ukir, dan harus pulang dengan tangan hampa. Tidak sekali dua kali pak Abdul harus berangkat kerja dengan prut kosong dan pulang tak membawa hasil. Pada suatu ketika saat musim kemarau, Pak Abdul hendak mau mencari ban bekas ke tempat bengkel dia melihat seseorang sedang membeli es, sebagai manusia biasa tentu rasa haus yang sangat mendorongnya untuk ingin merasakan segarnya rasa es yang dijual ditempat itu, tetapi pak Abdul berusaha menahan dahaganya supaya tidak membeli es itu dan akhirnya bapak ini cuman bisa menelan air liurnya sendiri. karna tidak tahan, bapak ini langsung meninggalkan tempat itu karna dia takut akan berfikir negatif terhadap keinginannya yang tidak kesampaian karena tidak ada sepeserpun rupian melekat dikantong lusuhnya

Apalagi dia selalu berfikir bahwa ketika dia hendak membeli sesuatu diluar, dia selalu membayangkan bagaimana anaknya dirumah, apakah mereka sudah makan ataukah belum. Sungguh mulia hati seorang bapak ini yang merelakan jiwa raganya demi anak dan istrinya. inilah contoh seorang bapak yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.

Semoga keteguhan dan kesabaran pak Abdul ini bisa menjadi inspirasi kita dalam menjalani hidup ini dengan penuh kesederhanaan dan bersahaja. Serta tidak lupa untuk senantiasa berbagi dalam kebahagiaan dengan para pakir miskin dan kaum duafa. [] - 05

Penulis : Intang Rahayu (Kelas VII) – Anggota Jurnalis Cilik

 

 

 

 

 

 

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru