Ada Rupiah di Jagung Bakar

KM Nggusuwaru - Nenek gaul panggilan Siti Hajar (80), warga Rt 05 Kelurahan Penaraga Kecamatan Raba Kota Bima, penjual jagung bakar malam di depan Kantor Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Bima sebelah timur Masjid Baitul Hamid Penaraga. Nenek yang memiliki enam anak dan dua belas cucu ini menjual jagung bakar untuk menghidupi dirinya sendiri dan satu orang anak laki-lakinya bernama Masrun (30) tahun yang terbaring kaku di rumahnya karena sakit lutut yang diderita beberapa tahun terakhir.

Malam hari lalu sekitar pukul 19.45 WITA, kami bertandang ke Nenek Gaul yang sedang melayani dua orang pembeli Agus dan Mawardin Warga Kelurahan Rabadompu, pembeli jagung bakar hasil pepesannya. Seakan seperti penjual lainnya, ketika kami menghampiri nenek yang sudah ditinggal mati Abdullah (alm) Suami yang dikenalnya pada masa penjajahan dahulu menyilahkan para pembeli sembari mengipas jagung yang dibakarnya.

Nenek Gaul saat melayani pembeli begitu riang dan selalu tersenyum, dengan modal jagung sekitar tiga puluh biji, arang empat plastik dan wajan dari tanah liat untuk arang sebagai sandaran jagung yang dibakar serta lampu petak yang mengiringi waktu malam disetiap hari aktivitasnya. Lantas dengan batik Bima dan sarung lusuh yang dikenakannya membuat mata terkesima memandangnya.

Disela melayani pembeli, nenek separuh baya mengajak para pembelinya bercengkraman dengan pembicaraan sederhana masa lalunya dan masa yang dihadapinya saat ini. Ia kepada para pembeli menceritakan masa penjajahan dahulu dan Istana Bima menjadi kebanggaan warga Bima, Istana itu pernah menjadi tempat bertemu antara dirinya dan suaminya (alm). Selain itu masa kini yang dihadapinya begitu sulit diterpa kesusahan, namun tetap membuatnya semangat untuk mencari nafkah meksi itu harus bermodalkan recehan rupiah dan barteran beras pemberian warga.

Kepada kami Siti Hajar ini mengaku, modal untuk membeli jagung mentah ini, berawal dari dua tahun silam tepatnya tahun 2012. Saat itu, ia hendak berjalan kaki dari Penaraga menuju pasar raya Bima. Alhamdulillah ditengah perjalanan tanpa ia mengemis seperti orang lain, ada saja orang yang merasa iba kepada dirinya, dengan memberi beras seadanya maupun recehan rupiah secukupnya dengan keikhlasan warga, ia pun menerimanya dengan lapang dada sembari menyukuri yang ada.

“Saya saat itu hendak ke Pasar Bima ada saja warga yang member beras dalam perjalanan,” Katanya sembari mengangkat balik jagung bakarnya.

Sambung Hajar bercerita, dari beras yang terkumpul dan recehan rupiah, dirinya memanfaatkan untuk membeli jagung mentah untuk direncanakan dijual pada malam di sekitar rumahnya. Tak berpikir panjang, dengan kebiasaaanya menjual sayur-sayuran, ia-pun menjual jagung bakar di depan Kantor Dikes Kota Bima mulai pukul 19.30 WITA -21.00 WITA, seterusnya hingga sekarang.

“Dari tahun ketahun jualan ini berlanjut sampai sekarang,” ceritanya

Singkat kata, Nenek ini sempat terhenti bercerita saat para pembeli dari ibu hamil Fatimah Hanura Qurbani,SST yang diantar suaminya. Dia melayani seperti biasa, sabune weli mu anae, lembo ade wara si mpangi na jago ke (mau beli apa anak ku, banyak maaf apabila jagungnya agak gosong) ucapnya dengan bahasa Bima kepada ibu hamil warga Lewirato itu . Namun dengan hati tenang pembeli menganggap biasa karena sudah pernah menyantapi jagung bakar “hangus” milik nenek yang pernah menjual sayur-sayuran sampai ke Kecamatan Wawo ini.  “Tetap manis mas, enak juga ko apalagi murah,” Kata Ibu hamil itu berlalu.

Setelah dua warga itu pergi, ibu dengan pakian lusuhnya lanjut bercerita, bahwa mulai saat itulah kebiasannya menjual jagung bakar di samping timur gerbang masjid Baitul Hamid Penaraga . Ia pun tidak mematok harga, namun biasanya jagung bakar dijualnya dengan harga Rp 1 ribu/buah. Dengan modal pembeliannya Rp.1 ribu/dua buah. Biasanya dia ambil sekitar Rp 20 ribu (dari hasil tukaran beras dan recehan). “Co’ina sariwu sabua mpa anae, mane’esi weha tambah tibune na (harganya cuma seribu satu buah nak. Kalau mau lebih ambil saja, tidak apa-apa),” Katanya dengan bahasa Bima

Lebih lanjut cerita demi cerita saat memakan jagung yang sebagiannya pepesannya yang nyaris gosong itu, kami terus menemani malam nenek itu. saat ditanya bagaimana dengan kelanjutan modal sekarang? Siti Hajar menjawab sederhana, bahwa modal sekarang seperti biasa, tidak lagi menerima pemberian warga lainnya. Melainkan dari hasil dagangannya dengan keuntungan didapat sekitar Rp20 ribu hingga Rp 30 ribu, ia jadikan modal kembali seterusnya demikian.

Akan tetapi ia masih terbebani dengan keberadaan anaknya Masrun (30) yang sakit-sakitan menunggu di rumah. Sehingga keuntungan sebagiannya untuk membeli obat demi keberlangsungan anaknya. Dia mengaku anaknya berjumlah enam orang dan dua belas cucu. Lima diantaranya sudah menikah tinggal yang satu orag Masrun yang bersamanya yang kini tidak bisa jalan karena sakit lutut yang idderita belum kunjung sembuh.  “Sebagian dijadikan modal, sebagiannya lagi untuk makan sehari-hari dan obat masrun,” terangnya

Istri Abdullah tanpa lelah mengipas ngipas jagung bakar diterangi lampu petak menunduk duduk menunduk sembari membolakbalikkan jagung bakar, mengatakan, pernah mendapatkan bantuan Pemerintah lewat program BBM termasuk Bedah rumah. Hasil BBM itu kebanyakan untuk membeli obat anaknya yang sakit, sedangkan sisa-nya untuk memmenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun syukurlah Pemerintah dapat melihat keadaan ini. “Alahmdulillah Pemerintah baik anakku, pernah saya diberi bantuan BBM,” pungkasnya

Dia mengatakan menjual jagung bakar ini adalah aktivitas setiap malam hari, Jelasnya asal kita tidak mengemis atau maling, karena ini bahagian dari ibadah. Aktivitas adalah ibadah, jadi jangan bosan bosan untuk beraktivitas sepanjang itu halal. Nah, anak muda jangan kendor semangatnya, tidak boleh melihat pekerjaan itu apa dan bagaiman,  namun harus dapat menyukukuri bahwa pekerjaan apapun itu sepanjang itu halal, akan tetap mulia dimata Tuhan.

“Karawipu au diloamu karawi, mapenti re halal,” sarannya sembari memberikan lantunan ayat alqur’an sebagai pedomannya.

Lantas kapan Nenek akan istrahat,Hajar tersenyum, dengan berkata akan pulang pada waktunya, seperti biasa akan pulang sekitar pukul 21.00 WITA. Lalu berapa pendapatan sehari? Pendapatan setiap hari sekitar Rp20 ribu maksimal Rp 30 ribu. Ini akan menjadi modal untuk kembali beraktivitas esok dan lusa serta seterusnya demikian. Nenek gaul biasanya membuka jualannya mulai pukul 19.00 WITA dan akan kembali pulang pukul 21.00 WITA. “Wara ja untungna ana, pala syukuri pu mawara ra mbeima ruma (ada untungnya nak, tapi harus disyukuri yang ada dari pemberian Allah,” cetusnya

Mengipas jagung sembari memberikan petuah kepada pembeli dengan bahasa Bima bercampur bahasa Indonesia yang terpotong-potong, Hajar terus melayani pembeli. Nenek itu hanya bisa berbicara lantang bisa dibilang agak cerewet sih (tidak bosan berbicara,red), sembari nunduk sesekali menatap mata dan raut wajah para pembeli dengan tersenyum dan menanyakan pembeli berasal dari mana dan mau kemana, kok belum pulang sudah jam berapa ini. Melayani melayani dan melayani pembeli itulah kewajibannya sebagai penjual.

Nenek itu pun tidak mengenal berapa uang yang diterimanya dari pembeli, yang ia tahu bahwa harga jagung bakarnya Rp 1 ribu/buah. Sesekali dia pernah menerima uang yang banyak dari para pembeli, pernah dikembalikan namun pembeli seakan memaksa dan mengiklaskan perjuangannya dalam menuntun kehidupan di malam hari

Pesan Nenek kepada para pembeli, kalau ada teman dan keluarga, mampirlah ditempat jualannya, meskipun tidak membeli karena jagung bakarnya kelihatan nyaris “gosong”, mungkin saja kita dapat bercengkraman dengan senyum dan cerita sembari menyantam manisnya jagung ini.

Akhirnya waktu menunjukan pukul 20.45 WITA, kami pamit kepada Nenek dengan membawa tiga buah jagung bakar hasil racikan nenek yang dipastikan akan manis. Selamat beraktivitas nenek perjuanganmu adalah keikhlasanmu. (AC) - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru