Berkat Kampung Media, Rudat Dipelajari di Bali

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Dari Kampung. Warga Kampung Medi, para pembaca, dan kerabat Kampung Media yang saya cinta dan banggakan, kali ini saya akan bercerita mengenai salah satu dari beberapa pengalaman yang sudah saya alami selama tergabung menjadi Warga Kampung Media. Mudah-mudahan cerita pengalaman saya ini dapat menjadi motivasi bagi kita sekalian untuk terus menulis dan menulis serta menyampaikan informasi lewat halaman Kampung Media.

Hari Selasa minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 09 September 2014 sekitar pukul 06.15 WITA saya menerima Pesan Singkat (SMS) dari nomor yang tidak pernah saya kenal. SMS itu berbunyi “Selamat pagi semeton, saya sudah membaca tulisan semeton di halaman Kampung Media yang berjudul Rudat Hampir Sekarat. Saya ingin sekali menghidupkan seni Rudat sebagaimana harapan semeton dalam tulisan itu. Apakah semeton mau membantu saya untuk mempelajarinya?”.

Saya tercengang membaca SMS tersebut. Saya kemudian membalasa SMS itu “ini siapa dan dari mana”. Ia kemudian menjawab “saya Saleh dari Samarapura-Bali semeton”. Kami terus saling berkomunikasi dan ahirnya Saleh mengundang saya untuk datang ke kampunya untuk memberikan cerita lengkap tentang Seni Pertunjukan Rudat kepada kawan-kawannya yang tergabung dalam sanggar yang disebut “Sanggar Remaja Kampung Jawa Samara Pura”.

Saya hanya berucap insyallah sebab saya masih merasa ragu apakah Saleh dan kawan-kawannya benar-benar ingin mempelajari Seni Pertunjukan Rudat. Namun Saleh terus meyakinkan saya bahwa Ia serius untuk belajar dan ingin menguasai Seni Pertunjukan Rudat.

Karena merasa ragu maka saya sengaja tidak mau menghubungi Saleh. Tetapi dua hari kemudian (Kamis, 11 September 2014) si Saleh kembali menghubungi saya. Dia mengatakan bahwa kawan-kawan-nya minta tolong untuk diajari bermain Seni Pertunjukan Rudat dan mereka menyatakan kesaanggupannya untuk memberikan uang transport dan honor melatih kepada saya atau orang yang saya bawa untuk melatih mereka.

Mendengar pernyataan si Saleh, maka saya mulai yakin bahwa ia dan kawan-kawannya betul-betul serius untuk mempelajari Tari Rudat. Dan setelah saya benar-benar yakin tentang keinginan mereka itu maka pada hari berikutnya saya menghubungi Saleh dengan tujuan untuk memberitahunya bahwa saya tidak begitu ahli dalam bermain Rudat, tetapi saya punya seorang teman yang pekerjaannya memang sebagai pelatih tari dan teman saya itu juga ahli dalam memainkan pertunjukan Tari Rudat. Dan Saleh-pun menyetujui tawaran saya.

Atas persetujuan tersebut maka pada sore Kamis saya menghubungi pelatih tari yang saya maksud tadi. Teman saya itu bernama Masykur, ia berasal dari Dusun Loco Senggigi. Saya menceritakan kepada Masykur bahwa ada orang Bali yang ingin belajar Tari Rudat dan ia meminta saya dan dia untuk melatih kesana. Mendengar cerita saya itu, Masykur setuju untuk ikut bersama saya guna memenuhi undangan Saleh dan kawan-kawannya.

Setelah terjadi komunikasi yang cukup serius maka saya dan Saleh membuat kesepakatan bahwa saya dan teman saya yang ahli dalam Seni Pertunjukan Rudat itu (Masykur) akan datang ke Samarapura untuk melatih di sanggar mereka. Kami sepakat untuk bertemu pada hari Jum’at  tanggal 15 September 2014 dan kami akan dijemput di Pelabuhan Padangbai.

Jum’at pagi (15 September 2014), saya dan Masykur berangkat dari Senggigi menuju Lembar dan berlabuh menuju Pulau Dewata. Ba’da Jum’at kami sampai di Pelabuhan Padangbai dan sesuai kesepakatan maka Saleh bersama 4 orang kawannya menjemput kami di sana.

Alhamdulillah ternyata Saleh benar-benar menunggu kami di Pelabuhan. Sesampai di Pelabuhan Saleh bersama 4 orang kawannya langsung mendekati kami. Selesai shalat dzuhur dan makan siang di warung dekat pelabuhan makan mereka membawa kami naik ke mobil Avanza miliknya Saleh. Kami-pun berjalan menuju Samarapura. Setelah kurang lebih 45 menit di perjalanan maka sampailah kami di Kampung Jawa-Semarapura.

Sesampai di sana, Saleh langsung membawa kami ke sekertariat sanggar-nya. Di sana disambut oleh puluhan orang pemuda dan remaja anggota sanggar yang hendak belajar Tari Rudat. Kami juga disambut oleh Kepala Lingkungan Kampung Jawa, Ketua Pengurus Masjid, beserta beberapa orang tokoh masyarakat setempat.

Saya peribadi merasa terharu atas sambutan mereka. Sungguh tidak pernah saya bayangkan dan tidak pula pernah saya hayalkan bahwa saya akan sampai di Samarapura untuk menjadi seorang pelatih Rudat. Tapi Alhamdulillah atas Rahmat Allah Yang Maha Agung, saya dijodohkan untuk sampai ditempat itu dengan sambutan yang cukup membanggakan. Ternyata Allah SWT mempertemukan saya dengan banyak orang melalui halaman Kampung Media NTB.

Dalam sambutannya, Saleh mengucapkan kata “Terimakasih Kampung Media, halaman mu telah mempertemukan kami dengan saudara Asri dan kawannya”. Saleh mengucapkan kata “Terimaksih Kampung Media” berung-ulang kali dan itu semakin membuat saya bangga sebab telah menjadi Warga Kampung Media.

Kata yang sama juga beberapa kali diucapkan oleh Kepala Lingkungan Kampung Jawa saat menyampaikan kata-kata sambutannya dan itu juga semakin membuat saya terharu dan berucap “Terimakasih Ya Allah atas Rahmat Mu saya dapat menjadi Warga Kampung Media dan Terimakasih Kampung Media atas halaman mu saya dapat berdiri di tanah Pulau Dewata untuk menebus asa”.

Singkat cerita, mulai Ba’da Isa kami mulai melakukan latihan bersama 30-an orang anggota Sanggar Pemuda dan Remaja Kampung Jawa-Samarapura. Sebelum latihan dimulai, saya diminta untuk menjelaskan apa dan bagaimana sebenarnya Tari Rudat itu. Setelah selesai memberikan pemaparan mengenai Tari Rudat maka saya dan Masykur mulai memperkenalkan gerakan dasar Tari Rudat dan latihan-pun berjalan dengan lancar.

Sesuai kesepakatan, latihan akan kami lakukan selama tiga hari yang artinya saya dan Masykur harus melatih hingga Minggu malam tanggal 17 September 2014. Latihan kami lakukan tiga kali sehari yaitu dari pukul 09.00 hingga pukul 12.00, pukul 15.00 hinga pukul 17.00 dan dari ba’da Isa hingga pukul 23.00.

Alhamdulillah hingga hari Minggu latihan berjalan dengan lancar dan anggota sanggar juga sudah dapat menguasai 50% gerakan Tari Rudat. Selesai latihan pada Minggu malam maka kami-pun harus kembali ke Lombok sebab saya dan Masykur harus masuk sekolah pada Senin pagi. Selesai latihan pada malam itu, kami berkumpul untuk melakukan evaluasi terhadap latihan yang sudah kami jalankan selama 3 hari.

Dalam kesempatan itu, Saleh bersama anggota sanggar meminta kami untuk kembali melatih mereka pada setiap hari Sabtu dan Minggu hingga mereka dapat menguasai Tari Rudat dengan sepenuhnya. Masykur bersama saya menyetujui permintaan itu dan dengan demikian maka setiap Sabtu dan Minggu kami harus ke Semarapura untuk memberkan latihan hingga mereka menguasai Tari Rudat.

Ini adalah pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya peribadi dan pengalaman ini juga membuat saya semakin bangga menjadi salah seorang Warga Kampung Media, khususnya Kampung Media NTB sebab setelah saya tergabung menjadi Warga Kampung Media, terus terang banyak sekali pengalaman-pengalaman tidak terduga yang saya alami hanya karena Artikel dan Puisi-Puisi yang saya tulis di Halaman Kampung Media.

Untuk itu pada artikel kali ini, dari palung hati yang paling dalam dan dengan rasa bangga saya mengucapkan “Terimakasih Kampung Media sebab Engkau telah memberikan saya banyak pengalaman dan pelajaran, Terimakasih pula sebab dengan menulis di halaman Mu maka saya mempunyai banyak teman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya”.

Kepada Pembaca, Kerabat dan seluruh Warga Kampung Media, saya juga mengucapkan terimakasih yang tiada tara atas dukungan dan doa-nya. Teruslah berkarya, teruslah tumbuh kembangkan budaya menulis, teruslah sampaikan ilmu dan informasi walau sepotong ayat dan tentunya melalui Halaman Kampung Media. Semoga Kampung Media Semakin Meluas dan Jaya, amin… amin… amin ya robbal alamin.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dan Salam Dari Kampung.

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru