Sisi lain Kehidupan Manusia

Satu dari sekian banyak kebiasaan warga sasak adalah memanggil orang yang menurut usianya sudah memiliki cucu dengan panggilan papuk, yang kalau dalam bahasa Indonesianya adalah nenek atau kakek. Panggilan papuk dalam bahasa sasak, Nyaris sudah seperti nama aslinya sehingga tidak pas rasanya ketika memanggil orang yang menurut usianya sudah memiliki cucu tanpa menaruh diawal namanya kata Papuk.


Papuk komaq, demikan orang-orang memanggil namanya. adalah Wanita paruh baya yang menurut orang kebanyakan, kehidupannya sangat memperihatinkan, bagaimana tidak Ia adalah seorang yang sudah menginjak usia hamper tujuh puluhan tahun,Ia tinggal sendirian di rumahnya yang berukuran 3 x 4 meter, beratapkan rumput ilalang yang sudah mulai lapuk, sehingga ketika hujan, tidak lagi dikatakan bocor tapi sudah seperti hujan, makanya kalau ia mau terlindungi dari hujan ia harus berdiri. dinding rumahnya yang terbuat dari pagar bambu atau bedeq yang kini sudah mulai bolong-bolong.

Papuk komaq bercerai dengan suaminya beberapa tahun silam tanpa dikaruniai seorang putra atau putri, setelah bercerai, dia tidak mau menikah lagi dan lebih memilih hidup sendiri. Dia punya satu saudara laki-laki yang masih hidup. Namanya Amaq Junih. Amaq Junih pernah mengajak Papuk Komaq tinggal bersamanya, namun Papuk Komaq menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan dan menjadi beban bagi saudaranya, karena Ia tau sudaranya itu mempunyai beban cukup besar karena saudaranya itu mempunyai anak banyak dan beberapa diantara masih sekolah, ada yang sudah di bangku Aliyah ada juga yang masih duduk di bangku SD.

Sebagai upaya mempertahankan hidup, papuk komaq suka bantu-bantu tetangga seperti membersihkan halaman rumah, membersihkan beras yang dalam istilah sasak di sebut “nampik” kadang-kadang menunggu warung dan lain-lain. Sementara upah yang didapat bisa berupa beras, sayur mayur, kadang-kadang juga dikasi lauk yang sudah matang untuk dibawa pulang dan dinikmati dirumahnya. Tidak jarang Papuk komaq harus berpuasa, karena tidak dapat Rizki dari orang-orang yang Ia bantu.

Pemerintah Desa sudah memotret rumahnya sebagaimana rumah-rumah warga yang kondisinya mirip dengan rumah papuk komaq, dengan maksud untuk dijadikan lampiran pada pengusulan proposal Rumah Kumuh. Namun hingga kini tidak ada ceritanya.

Penulis berharap cerita yang sederhana ini bisa membawa barokah bagi papuk komaq dan bisa menggugah hati para orang  dermawan dan mau mengulurkan tangannya untuk membantu.[]

By habib

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru