Wanita Langka

"dia wanita berhati mulia, semoga tuhan memberkahi sisa hidup yang di berikan tuhan untuknya dan memanjangkan umurnya untuk terus membantu orang orang yang membutuhkan bantuan" begitulah hatiku berdo'a setelah mendengar cerita panjang tentang niat baik menyekolahkan dan membantu anak anak yang orang tuanya tidak mampu membiayai anaknya sekolah, dari ceritanya aku menangkap bahwa semenjak beliau masih sangat muda ia sudah mulai mengabdikan diri untuk umat dan melakukan semampunya untuk kebaikan orang banyak, niat dan perbuatan baik itu hingga hari ini, hingga umurnya sudah mulai menua ia tetap istiqomah melakukan dan melanjutkan apa yang pernah ia mulai lakukan.

namanya nurimin, karena beliau pernah menghadiri undangan tuhan di ka'bah namanya lalu bertambah di depan menjadi Hj Nurimin, tapi aku lebih sering memanggilnya ninik imin, karena panggilan itu bisa membuatku merasa sangat erat dan seolah punya hubungan dekat dengannya. sebenarnya ia punya banyak nama panggilan, tergantung siapa yang memanggil, di tengah masyarkat ia lebih di kenal dengan panggilan Bu Hajah, lain lagi dengan teman ku di pondok, yang menjadi salah satu tenanga pendidik di tempat ia menjadi kepala sekolah MI NW Tanak beak, ia lebih senang dan akrab memanggilnya Bu Kepsek, tapi tak jarang juga ia memanggilnya ummi. aku panggil ninik dan teman ku kadang memanggil ummi. itu sangat pantas, selain atas apa yang pernah ia perbuat dan atas usianya yang sudah lumayan, ia juga salah satu dari Istri guru pencerah kami TGH.M. Djuain Muhktar jadi ninik ataupun ummi itu pas untuknya.

hari ini walapun tenaganya tidak seperti dulu tapi beliau masih tetap semangat mendidik, memelihara dan merawat anak-anak yang orang tuanya tak mampu secara materi menyekolahkan anak-anak mereka, melalui Pantai Asuhan yang beliau kelola ia tetep mencari dan menjaring anak anak untuk tinggal bersama beliau, tidak hanya anak anak lokal yang ada di sekitar tempat tinggal beliau di Tanak beak, tapi anak anak di luaran sana juga ia bawa lalu dididik,

sempat suatu hari beliau menanyakan ke saya, "apa rumah di lombok tengah ada anak anak yang masih belum sekolah karena tidak ada biaya?" aku terdiam menundukan kepala sambil berpikir siapa gerangan anak-anak yang bisa aku bawa untuk kemudian ia didik di tempat yang mulia ini. belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ia lalu melanjutkan " tapi anak-anak yang seumuran SD, supaya kita bisa menyekolahkan mereka di tempat saya" sekian menit aku berpikir tak satupun anak yang terpikir dalam benakku, karena maklum saja dalam satu bulan kalau aku pulang menginjakkan kaki di kampung halaman ku, bukan karena aku tak sayang tempat lahir ku, bukan pula aku tak merindukan keluargaku, tapi di tanah ini, di tempat ini, di desa tanak beak ini, mereka masyarakat sini membuatku seolah berada di kampung halaman ku sendiri, mereka seolah berkata aku adalah keluargamu. belum lagi orang orang yang mengenalku lebih , ia memperlakukan ku lebih dari yang ku bayangkan. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru