Dari Menulis Menjadi Perintis

Bulan Oktober 2008, Ketua STKIP Hamzanwadi Selong memindahkan arah pita yang tergantung di atas toga yang saya kenakan. Hal itu membuat saya merasa memiliki beban moril yang lumayan tinggi. Seorang sarjana dari kampung sudah barang tentu bingung jika setelah diwisuda ia tidak bisa mengabdikan ilmunya pada tempa-nya. Hal ini terjadi sebab orang-orang di kampong saya memiliki pemikiran bahwa seorang sarja harus bekerja pada bidang-nya.

Setelah tanggal 28 Oktober 2008, saya kembali ke kampong halaman (Dusun Sukamulia) yang sangat aku cinta. Karena orang tua saya adalah seorang petani maka selepas wisuda, saya bingung harus berbuat apa. Asri yang kini sudah menyandang gelar Sarjana Pendidikan kebingungan harus mengabdikan ilmu yang diperolehnya di bangku STKIP Hamzanwadi Selong. Dalam kebingungan itu saya mencoba menulis lamaran kerja dan mengajukannya dibeberapa sekolah yang ada di sekitar kampong saya, naasnya semua sekolah itu sudah memiliki guru Sejarah dan mau tidak mau saya harus menerima kenyataan untuk tidak diterima menjadi guru di sekolah-sekolah tempat saya mengajukan lamaran itu.

Karena saya tidak mau dipusingkan oleh kenyataan maka saya membuat usaha Pembuatan Lisplang atau yang sering disebut dengan Spanyolan. Kini Asri yang menyandang gelar Sarjana Pendidikan harus bekerja dengan menggunakan sebjata berupa cepang. Setiap hari saya bergaul dengan semen, pasi, dan kawat benderat. Usaha pembuatan Lisplang yang saya geluti memang cukup untuk menghidupi anak istri saya. Setiap harinya saya dapat membuat 2 buah tiang beton yang setiap tiang saya jual dengan harga Rp. 120.000.

Pada saat itu modal yang saya butuhkan untuk membuat satu buah tiang tidaklah begitu besar, per satu tiang saya hanya mengeluarkan modal sekitar Rp. 40.000. Keuntungan yang saya peroleh dari usaha itu cukup tinggi, lebih-lebih jika sedang banyak pesanan. Selain membuat Lisplang, saya juga membuat pot bunga yang modelnya sesuai dengan pesanan pelanggan. Saya menjual pot bunga itu dengan harga yang bervariasi, tergantung dari ukuran besar kecilnya.

Empat bulan lama-nya saya menggeluti usaha itu, kemudian saya mencoba mengembangkannya dengan melatih kawan-kawan pemuda yang tergabun dalam ASA Community (Komunitas Anak Sukamulia Asli). Setelah satu bulan lamanya saya memberikan pelatihan kepada kawan-kawan ASA maka banyak diantara mereka yang bisa membuat Lisplang dan pot bunga dari campuran pasir pantai dan semen. Beberapa orang diantara mereka kemudian membuat usaha sendiri.

Bulan Desember 2009 ada 2 orang pemuda dari Desa Pogading yang dating belajar untuk membuat Lisplang dan pot bunga kepada saya. Mereka adalah teman-teman sekelas saya waktu di bangku SMP. Setelah mereka bisa maka mereka juga mencoba mendirikan usaha sendiri di kampong mereka. Pada awal tahun 2009 di Desa Pohgading banyak bermunculan pembuat Lisplang yang menyebabkan persaingan semakin tinggi.

Sesungguhnya saya tidak takut dengan persaingan itu, tetapi posisi saya rasanya sangat terjepit sebab warga kampong saya ternyata sudah lama memperhatikan profesi yang saya geluti. Banyak cibiran dan olok-olokan yang mereka lontarkan kepada saya, “Sarjana Pendidikan ko kerjanya jadi tukang”, “tidak ada gunanya kamu kuliah kalau setelah tamat kuliah kemudian kamu hanya menjadi pembuat Lisplang”. Dan banyak lagi cibiran-cibiran yang diberikan warga kepada profesi saya waktu itu.

Mendengar cibiran itu saya tidak surut semangat untuk menggeluti usaha tersebut yang meskipun saat itu saya sudah tidak mendapatkan keuntungan yang besar dari usaha lisplang sebab banyaknya pembuat lisplang lain yang bermunculan. Hanya saja orang tua saya agak merasa terpukul mendengar cibiran-cibiran tersebut. Orang tua saya merasa malu atas cibiran dan cemoohan itu. Maklumlah warga kampong selalu berpendapat bahwa seorang sarjana harus menjadi pegawai di tempat kerja yang sesuai dengan gelar yang melekat di ahir atau di awal namanya.

Ahir bulan Januari 2009, teman sekelas saya semasa kuliah dating ke rumah. Belia adalah Bambang Sukoco, S.Pd (Almarhum) yang pada saat itu bekerja sebagai guru negeri di SDN 1 Sambik Elen Kecamatan Bayan. Kedatangan beliau adalah untuk menawarkan pekerjaan baru bagi saya. Beliau mengajak saya untuk mengabdikan ilmu di sekolah rintisannya yang berada di Dusun Lenggorong Kecamatan Bayan.

Hari itu belia langsung member tahukan tujuannya kepada ayah dan ibu saya. Beliau juga meminta supaya istri saya member izin untuk saya berangkat bersamanya. Ahirnya semua keluarga mengizinkan dan keesokan harinya Bapak Bambang Sukuoc membawa saya ke Sambik Elen. Maklumlah saat itu saya belum punya sepeda motor. Sejak pertengahan Januari 2009 saya tinggal beramas beliau dan Andry Hadinata yang juga merupakan teman sekalas saya di bangku kuliah.

Kami bertiga tinggal di perumahan SD Negeri 1 Sambik Elen. Kini saya mulai berhadapan dengan profesi baru yang cukup menguras daya otak kami. Sungguh saya tidak pernah menduga bahwa sebenarnya Bapak Bambang Sukoco mengajak saya tinggal bersamanya untuk melakukan suatu pekerjaan lain sebab sewaktu beliau dating ke rumah, beliau hanya bilang bahwa saya akan dibawa untuk membantunya mengurus sekolah rintisannya. Ternyata ada tujuan lain yang lebih utama, beliau mengajak saya tinggal di sana untuk membantunya menyelesaikan tugas penulisan Skripsi mahasiswa STKIP Hamzanwadi kelas Bayan yang pada saat itu berjumlah 28 orang.

Menulis memang hal yang biasa saya kerjakan sewaktu masih duduk di bangku kuliah. Saya sering mengerjakan tugas-tugas kuliah teman-teman sekelas saya yang berupa makalah, paper, ataupun laporan dan semasa kuliah Bambang Sukoco juga sering menggunakan jasa saya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Ternyata hal itulah yang menyebabkan beliau membawa saya ke Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan.

Saya, Bambang Sukoco, dan Andry Hadinata ahirnya bekerjasama untuk menyelesaikan tugas penulisan skripsi itu. Saya bertugas membuat konsep dengan tulis tangan kemudian konsep yang saya buat itu diketik dengan computer oleh Andy Hadinata dan Bambang. Maklumlah saat itu saya belum masih gaptek alias belum bisa mengoprasikan computer.

Dua minggu setelah kami tinggal di tempat itu, pekerjaan pengetikan proposal skripsi sejumlah 28 dapat terselesaikan. Saya kemudian mencoba belajar untuk mengoprasikan computer dan ahirnya saya dapat mengoprasikan computer atas bimbingan mereka berdua. Empat bulan telah berlalu, ahirnya tugas penulisan skripsi itu dapat kami selesaikan dengan baik. Terselesaikannya tugas itu dengan baik menyebabkan kami bertiga dikenal oleh banyak orang.

Trigil Tadjam Computer, itulah nama yang kami berikan sebagai label pengetikan yang kami kelola. Bambang The Gila, Andry The Gila, dan Asri The Gila terus disibukkan oleh pesanan-pesanan tulisan, baik berupa makalah, resume, paper, pembuatan perangkat pembelajaran, dan penyusunan kurikulum. Usaha penulisan yang kami geluti itu memberikan pendapatan yang lumayan bagi kami bertiga. Jika dirata-ratakan maka paling tidak setiap bulan kami dapat mengumpulkan 6 sampai 7 juta dari sisa biaya yang kami keluarkan, sehingga masing-masing kami dapat mengantongi 2 juta pada setiap bulannya. Hal ini menyebabkan kami semakin menggemari usaha penulisan itu.

Tahun ajaran baru 2009/2010 telah tiba, Bambang Sukoco mulai memperkenalkan kami (saya dan Andry) dengan dunia pendidikan. Sejak awal tahun pembelajaran 2009/2010 saya dan Andry mulai dimasukkan mengajar di MTs. Maraqitta’limat Dusun Lenggorong Desa Sambik Elen yang merupakan sekolah rintisan Bambang Sukoco dan kawan-kawan lainnya. Saat pembagian tugas, saya diberikan tugas sebagai Wakasek Kurikulum dan mengajar Bahasa Indonesia dan Seni Budaya sedangkan Andry Hadnata diberikan tugas sebagai Wakasek Kesiswaan dan mengajar IPS Terpadu.

Tahun itu adalah tahun kedua MTs. Maraqitta’limat Lenggorong itu didirikan. Keadaanya cukup memperihatinkan,  maklumlah ini adalah madrasah baru. Madrasah ini hanya mempunya satu lokal kelas dengan keadaan yang sangat sederhana. Kelas itu hanya dipagari dengan bedek dan beratap asbes bekas yang penuh dengan lubang sedangkan pondasinya belum dipelur sehingga setiap hari kami harus berhadapan dengan debu. Pada saat itu ada dua rombongan belajar dan untuk mensiasati supaya kedua rombel itu dapat belajar maka kelas sederhana itu kami seket dengan triplek bekas.

Hari-hari kami habiskan di madrasah itu. Kami mencoba mengabdikan ilmu yang kami miliki dengan penuh rasa sabar dalam menghadapi keadaan yang begitu memperihatinkan. Kami betul-betul merintis, madrasah ini tidak jauh beda dengan sekolah laskar pelangi yang penuh dengan kekurangan. Untuk meningkatkan mutu dimadrasah ini, saya dan Andry Hadinata membuat beberapa proposal permohonan dana untuk pembangunan ruang kelas baru atau perehapan ruang kelas yang sudah ada. Proposal-proposal itu kemudian diantar oleh Kepala Madrasah (Hamdan) dan Andry Hadinata, sedangkan saya ditugaskan untuk tetap stenbai menjaga efektifitas pembelajaran.

Kegiatan itu berlangsung selama satu tahun, tetapi kami belum mendapatkan hasil. Pada pertengahan tahun 2010 saya dan Andry Hadinata bergabung dengan portal penulisan berita yang bernama “Suara Komunitas”. Lewat portal itu kami berdua mencoba mengirim tulisan-tulisan yang berkaitan dengan keadaan dan kegiatan-kegiatan yang kami laksanakan di madrasah itu. Berita-berita itu kami kirim melalui M. Sayri (pengelola Suara Komunitas cabang Bayan).

Setelah beberapa kali memasukkan tulisan yang menceritakan tentang keadaan sekolah kami yang sangat membutuhkan perhatian, ahirnya pada bulan Oktober 2010 sekolah kami mendapat respon dari YKDKsj yang merupakan sebuah Lembaga Kesejahteraan Sosial yang berada di Jakarta. YKDKsj ini merupakan lembaga yang dipimpin oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Kami kemudian disuruh untuk menyususn proposal pengadaan buku dan mobile serta perlengkapan administrasi. Pada petengahan bulan November 2010 pengurus YKDKsj langsung dating ke madrasah kami untuk melakukan survey kelayakan menerima bantuan dan Alhamdulillah madrasah kami dianggap layak menerima bantuan kesejahteraan sosial.

Beberapa bulan kemudian, 4 orang pengurus YKDKsj kembali untuk melakukan serah terima barang yang kami butuhkan. Saat itu kami diberikan 2 unit computer LG layar datar, 2 buah rak buku, 20 set meja kursi siswa, 2 buah papan tulis, dan ratusan buku bacaan. Semenjak itu, kami tidak bosan-bosan mengirim berita tentang keadaan dan kegiatan di madrasah yang kami kelola sambil kami terus mengirim proposal permohonan bantuan dana ke Dikpora Provinsi dan Kemenag RI. Ahir tahun 2010 kami mulai mendapat perhatian dari pemerintah. Pada tahun itu kami diberikan bantuan Dana Pembuatan Ruang Kelas Baru sebanyak 90 juta dan Alhamdulillah dana itu dapat kami kelola dengan baik sehingga kami dapat membuat 2 lokal ruang belajar. Tahun-tahun berikutnya kami tetap mendapatkan bantuan dana, 2011 kami mendapatkan dana rehab sebesar 40 juta serta bantuan pembangunan kantor dari PNPM GSC dan pada tahun 2013 yang lalu MTs. Lenggorong mendapatkan dana rehab untuk 2 kelas dengan jumlah 117 juta. Alhamdulillah sekarang MTs. Maraqitta’limat Lenggorong yang kami rintis sudah menjadi madrasah yang lumayan, baik dari sisi fisik ataupun mutu.

Perlu diketahui bahwa selama satu tahun kami mengabdikan diri di madrasah itu, kami tidak pernah menerima honor sebab madrasah ini hanya menerima Dana Bos yang sangat sedikit. Syukurnya Trigil Tadjam Computer tetap mendapatkan tugas pengetikan skripsi, makalah, dan penyususnan perangkat pembelajaran. Hasil menulis itulah yang kami gunakan sebagai biaya hidup keluarga kami. Pagi hari kami mengabdikan diri di madrasah yang sama-sama kami rintis itu sedang sore dan malam hari kami gunakan untuk mengerjakan tugas pengetikan.

Waktu terus berjalan dalam putaran roda yang digerakkan oleh kekuatan Allah Yang Maha Kuasa. Lewat jasa pengetikan itu, saya, Andry Hadinata, dan Bambang Sukoco dapat membeli sepeda motor, kami juga dapat membeli laptop, dan mencukupi kebutuhan keluarga kami, selain itu kami bertiga dapat mendirikan Yayasan Pendidikan dan Penelitian yang mengelola dan mengembangkan pendidikan.

Rahmat Allah yang paling besar kepada kami bertiga adalah kemampuan untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan sendiri. Pada awal tahun pelajaran 2010/2011, saya, Bambang Sukoco, Andry Hadinata diberi rahmat oleh-Nya untuk mendirikan Yayasan Pendidikan dan Penelitian As-Assgaf. Lembaga ini juga berdiri atas jasa penulisan yang kami kelola.

Lewat jasa pengetikan itu Allah mempertemukan kami dengan Ye Muhammad yang pada saat ibu bekerja sebagai Kaur Pemerintahan di Desa Bilok Petung. Saat kami mengetikkan beliau tugas ahirnya (skripsi), kami banyak bertukar pikiran mengenai pendidikan dan ahirnya kami berempat sepakat untuk mendirikan sekolah di Kokok Putik Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun. Setelah Ye Muhammad diwisatu, kami-pun segera melontarkan rencana itu kepada masyarakat Kokok Putik dan Kepala Desa Bilok Petung. Rencana itupun disetujui oleh semua kalangan sebab di sekitar Desa Bilok Petung belum ada lembaga pendidikan setingkat SMA/SMK.

Pada bulan Mei 2010 kami berempat berkumpul di rumah Ye Muhammad untuk membicarakan persiapan pembangunan sekolah yang kami rencanakan itu. Hari itu kami bertemu dengan Deri, S. Pd yang menawarkan program pemdirian SMA Filial dari SMA Negeri 1 Sembalun. Setelah lama bertukar pikian ahirnya kami berlima sepakat untuk mendirikan SMA Filial di Kokok Putik. Ahir bulan Mei 2010 saya dan Bambang Sukoco berangkat ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lombok Timur untuk mengkonsultasikan rencana kami dengan pihak terkait.

Pada saat itu kami bertemu dengan Bapak Fiqri, S. Pd yang bertugas pada bagian kelembagaan. Di depan beliau saya dan Bambang Sukoco menceritakan keinginan kami untuk mendirikan kelas jauh/Filial dari SMA Negeri 1 Sembalun. Mendengar rencana itu, bapak Fikri menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum sambil menatap kami. Belia kemudian berkata “Saudara Jangan Menjadi Pahlawan Kesiangan”. Kami tercengang mendengar perkataan beliau, lalu kami bertanya apa sebenarnya maksud dari perkataan beliau itu.

“Jika saudara mendirikan Filiasl SMA Negeri 1 Sembalun sama artinya saudara hanya akan berlelah-lelah saja. Sebab nanti jika sekolah itu sudah didefinitifkan maka teman-teman saudara merintis sekolah itu satu-persatu akan tersisih dari sekolah itu sebab pemerintah akan mengirim Kepala Sekolah Negeri dan juga mengirim guru-guru ngeri. Lalu bagaimana nasib kawan-kawan anda yang telah berlelah-lelah membantu anda membangun sekolah itu. Sadara berdua dan pengurus inti kemungkinan besar akan tetap diberi kesempatan untuk tetap mengabdi di sekolah itu. Jadi menurut saya lebih baik mendirikan lembaga yang berupa Yayasan Pendidikan yang nantinya lewat lembaga itu saudara dapat mendirikan sekolah dan kalau bisa, saudara bangun saja SMK sebab SMK memiliki peluang yang besar”. Demikian saran yang diberikan oleh Pak Fikri.

Mendengar saran itu, kami berdua langsung setuju untuk mendirikan yayasan. Setelah berkomunikasi dengan Ye Muhammad, Deri, S. Pd dan tokoh-tokoh lainnya maka hari itu juga kami membuat Akte Notaries. Atas kesepakatan bersama, maka saya langsung membuat proposal pembuatan Akte Notaris dan atas berbagai pertimbangan maka kami sepekat untuk menamakan yayasan itu dengan “Yayasan Pendidikan dan Penelitian Al-Assgaf” yang bergerak dalam bidang pendidikan dan penelitian.

Alasan kami membubuhkan nama Al-Assgaf pada yayasan itu adalah karena secara umum kami yang merintis sekolah dan mendirikan yayasn itu adalah alumni dan pencinta Nahdlatul Wathan dan ilmu pendidikan serta penelitian yang kami miliki adalah bersumber dari STKIP Hamzanwadi Selong yang dikelola dibawah naungan YPP Darun Nahdatain NW Pancor. Atas alas an itulah kami kemudian menamakan lembaga yang kami dirikan dengan nama kecil Al-Magfurullah TGKH Zainudin Abdul MAjid. Di dalam Akte Notaris itu tertuang nama Deri dan Suaib selaku pendiri, Bambang Sukoco, S. Pd selaku ketua yaysan, Asri, S. Pd selaku sekertaris yayasan, Andry Hadinata, S. Pd selaku pengelola bidang penelitian, dan Ye Muhammad, S. Pd selaku pengelola bidang pendidikan.     

Setelah Akte Notaris selesai dibuat maka kami harus dihadapkan dengan pembangunan sekolah dan atas kesepakatan antara pendiri, pengurus, dan masyarakat, kamipun mendirikan SMK dengan Jurusan Agrobisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura. Sekolah itu kemudian kaminamakan SMK NW Kokok Putik Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun. Lahan untuk mendirikan sekolah ini adalah tanah hibah dari desa seluas 70 are. Untuk mendirikan gedung seadanya, kami sepakat untuk mengeluarkan uang sama-sama 1 juta untuk tahap pertama. Saat itu saya, Bambang Sukoco, Andry Hadinata, Ye Muhammad, Suaib, dan Pak Deri mengeluarkan uang tersebut. Syukurnya kami bertiga (Asri, Andri Hadinata, dan Bambang Sukoco) sedang mendapatkan proyekan yang lumayan sehingga kami bertiga dapat membayar kesepakatan itu.

Dengan uang yang berjumlah 6 juta itu kami kemudian mencoba membuat pondasi dengan cara gotong royong dan ahirnya kamipun mendapat bantuan dari warga Kokok Putik. Setelah dilakukannya fisitasi dan study kelayakan pendirian sekolah maka pihak Dikpora Lotim memberikan kami izin pnerimaan siswa baru pada tahun pelajaran itu. Kini kami mulai lagi merintis sebuah sekolah yang dimulai dari nol.

Setelah masa pendaftaran siswa baru selesai, pada tahun pertama itu, kami mendapatkan  38 orang siswa Karena sekolah kami belum memiliki gedung maka kami melakukan kerjasama dengan kepala SDN 3 Bilok Petung. Setelah kesepakatan kerjasama itu ditandatangani maka kami memulai pembelajaran dengan menumpang di ruang kelas SDN 3 Bilok Petung. Karena gedung itu digunakan oleh SDN pada pagi hari maka kami melakukan pembelajaran pada sore hari dengan bantun kawan-kawan seperjuangan yang sebagian besar berasal dari wilayah Desa Bilok Petung dan Desa Sajang Kecamatan Sembalun.

Kini kami bertiga disibukkan oleh aktifitas pembelajaran dan waktu luang kami gunakan untuk menyelesaikan proyek penulisan yang kami dapatkan. Sejak awal tahun pelajaran 2010/2011, Andry Hadinata ditugaskan untuk membantu Bambang Sukoco mengerjakan aministrasi di SDN 1 Sambik Elen. Artinya, saudara Andri diangkat menjadi pegawai Tata Usaha di SDN 1 Sambik Elen dan tidak dapat lagi membantu kami untuk mengelola dan memajukan MTs. Maraqitta’limat Lenggorong sedangkan saya tetap ditugaskan untuk mengelola MTs. Maraqitta’limat Lenggorong bersama kawan-kawan lainnya.

Pulang dari SD dan MTs, kami langsung melanjutkan aktifitas ke sekolah rintisan kami di kabupaten sebelah. Dari pukul 14.00 hingga magrib kami habiskan waktu di SMK NW Kokok Putik sedangkan malam harinya kami gunakan untuk menyelesaikan tulisan-tulisan yang dipesan oleh klain kami.  Itu-lah aktifitas yang kami lakukan selama satu smeter di tahun ajaran 2010/2011.

Bulan Juli 2011, kami harus dihadapkan dengan kenyataan yang pilu. Bambang Sukoco dipanggil oleh Sang Khalik. Setelah menjalani perawatan selama satu bulan ahirnya beliau harus meninggalkan kami dengan kisah-kisah yang tidak mungkin kami lupakan. Beliau meninggal atas lantaran mengidap Kangker Hati. Saya tidak akan pernah melupakan permintaannya saat 2 hari sebelum ia menghembuskan nafas terhirnya. Di Bangsal Melati RSU Mataram beliau berpesan kepada saya:

 “As saya sangat berterimakasih atas perjuangan kamu dan Andry. Kehadirna kalian berdua membuat saya semangat menjalani hidup ini. Kalian berdua sudah banyak memberi saya arti, bersama kalian saya rintis sekolah dan atas tenaga kalian saya dapat dikenal oleh orang luas dalam dunia penulisan dan pengetikan. Dengan adanya kegiatan itu saya dapat mencukupi kebutuhan keluarga saya. As…tolong kamu lanjutkan perjuangan itu sebab dalam waktu yang lama saya akan meninggalkan kamu untuk mendapatkan perawatan di RSU dr. Supomo dan tolong kamu tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan keluarga saya dan Andry. Di pundak kalian saya titipkan perjuangan itu, lanjutkanlah perjuangan itu bersama Andry”. Demikianlah pesan terahir beliau yang disampaikan dengan tetesan air mata.

Sepeninggal beliau, saya dan Andry Hadinata kemudian tinggal di perumahan SDN 3 Bilok Petung. Hal ini kami lakukan supaya kami dapat mengontrol keberadaan SMK yang kami kelola. Perjuangan beliau kami lanjutkan bersama kawan-kawan lainnya. Saya dan Andry Hadinata juga tetap menggeluti usaha penulisan dan dengan usaha itu kami dapat menghidupi anak istri kami.

Waktu terus berjalan, pada tahun 2012 SMK NW Kokok Putik mengalami perkembangan yang cukup baik sehingga kami sekolah kami dilirik mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah dan pada pertengahan tahun 2013, sekolah kami mendapatkan bantuan Dana Alokasi Khusus dengan kegiatan Rehab Berat sebanyak 2 lokal dengan dana 250 juta dan satu lokal Laboraturium Biologi dengan dana sebesar 170 juta.

Sejak pertengahan tahun 2013, kami mulai merasakan hasil dari sekolah yang kami rintis itu. SMK NW dengan siswas sejumlah 108 orang yang terbagi menjadi 4 rombel itu mendapatkan BOS sebanyak 32 juta per-smester dan dari dana inilah kami dapat memberikan sekedar uang transportasi kepada kawan-kawan yang membantu kami untuk mengelola sekolah ini dan pada tahun ini kami akan mendapatkan satu lokal Ruang Kelas Baru dengan dana 159 juta rupiah dan kami juga diberikan kesempatan untuk membuka 2 jurusan baru yaitu jurusan Teknik Otomotif Ringan dan Multimedia.

Tanpa keluh kesah kami terus berjuang untuk merintis dan memajukan sekolah-sekolah rintisan kami. Meski dengan honor seadanya tapi kami merasakan kepuasan atas nikmat Allah atas diri kami. Kegiatan menulis juga terus kami geluti dan dengan informasi yang kami dapatkan dari Abahh Kadir (KM. Sambelia) maka kami ikut bergabung menjadi warga Kampung Media dengan tujuan untuk terus belajar dan mengembangkan bakat menulis demi kemaslahatan. Saya sendiri (Asri) membuat halaman KM. Sukamulia di wilayah Kecamatan Pringgabaya dan Andry Hadinata membuat halaman KM. Sambik Elen di wilayah Kecamatan Bayan. Dengan bergabung sebagai warga Kampung Media, kami berharap dapat memberikan ide kreatif yang kami miliki serta informasi-informasi yang terkait dengan berbagai hal yang kami temukan di lapangan.

Semoga sekolah-sekolah rintisan kami ini dapat menjadi lembaga dakwah dan penyalur ilmu pengetahuan serta melestarikan kebudayaan. Dan kami sangat berharap supaya Bapak Gubernur NTB dan Ketua Kampung Media NTB dapat meluangkan waktu untuk mengunjungi sekolah rintisan kami yang keadaannya masih sangat jauh dari kesempurnaan. Dan kami selaku pengelola YPP Al-Assgaf bersama masyrakat Bilok Petung sangat mengharapkan kehadiran keluangan waktu Bapak Gubernur NTB dan Bapak Fairuz (Ketua KM NTB) untuk memberikan pengajian di sekolah yang kami kelola ini (SMK NW Kokok Putik). Semoga bapak memiliki waktu untuk memenuhi harapan kami, Amin yarobbal alamin.

Di ahir tulisan ini juga saya bubuhkan sedikit ajakan kepada warga Kampung Media supaya kita semua terus antusias mengembangkan budaya menulis sebab dengan menulis kita akan mendapatkan rizki yang sangat banyak, diantaranya adalah kita dapat memiliki kawan bertukar cerita, kita dapat menimba ilmu pengetahuan, mendapatkan informasi, dan meyalurkan aspirasi. Termakasih yang tiada terhingga saya haturkan kepada Kampung Media atas halaman yang disediakan untuk bertukar informasi dan dengan bergabung di Kampung Media saya dapat mempublikasikan ide-ide kreatif saya yang berupa puisi, opini, dan informasi lainnya. Inilah anugrah Allah yang sungguh tida ternilai bagi diri saya. SEMOGA KAMPUNG MEDIA NTB SEMAKIN JAYA. [] - 01


_Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru