Ilmu: Mutu Peningkatan Tulisan

Benar kata orang, ilmu tidak hanya didapatkan di bangku sekolah. Ilmu itu luas, tersebar di mana saja. Tinggal kita mau atau tidak mencari dan mengambilnya. Semenjak SMA kelas XII, saya sangat meminati pelajaran Bahasa Indonesia. Awalnya karena terpengaruh oleh cara guru mengajar.

Mengajar dengan cara yang luar biasa bagi saya. Humoris, rame, kritis, dan tidak berpihak sementara. Maksudnya tidak berpihak sementara adalah sengaja menciptakan situasi pro dan kontra dalam memaparkan materi. Dengan begitu, siswa akan lebih aktif dalam mempertahankan argumennya, dalam hal ini jawaban yang dianggapnya benar.

Lalu, seolah-olah si guru membenarkan jawaban yang salah, dan sebaliknya. Situasi yang demikian untuk melihat kekonsistenan siswanya dalam mempertahankan jawaban yang dianggapnya benar. Lalu, klimaknya, si guru memberikantahukan jawaban yang memang benar disertai penjelasan yang sejelas-jelasnya. Tak heran, saya menjadi jatuh cinta pada pelajaran Bahasa Indonesia kala itu.

Padahal sebelumnya biasa-biasa saja. Setelah menamatkan SMA, yakni pada tahun 2012 lalu. Kecintaan saya pada dunia sastra tidak luntur, malahan semakin menggila. Namun sayang, niat ingin meneruskan kecintaan tersebut ke perguruan tinggi harus kandas di tengah jalan. Itu diakibatkan oleh keterbatasan ekonomi yang melilit kehidupan saya. Kembali pada kalimat awal, "Bahwa ilmu tak harus didapatkan dalam lingkungan formal!" Dan kalimat itu berani saya benarkan.

Sosial media atau lebih khususnya facebook telah memberikan saya banyak ilmu. Bagaimana caranya? Anda tahu, di facebook memiliki fitur untuk menciptakan komunitas, yakni halaman dan grup. Di dua fitur tersebut, ternyata banyak sekali komunitas ilmu.

Dan yang saya sorot di sini adalah tentang dunia sastra; kepenulisan. Ilmu kepenulisan tersaji cuma-cuma di sana sambil anggotanya memelajari, lalu menulis karya sesuai kriteria yang dibutuhkan oleh admin untuk dibukukkan secara indie. Materi-praktek.

Itulah aktivitasnya di grup-grup yang demikian. Saya flashback pada saat sebelum masuk ke komunitas ilmu yang tersebutkan di atas. Bila dibandingkan dengan tulisan atau karya-karya terdahulu yang masih saya sajikan secara otodidak. Sangat jauh berbeda sekali dengan yang sekarang.

Entah dari segi penceritaan, penulisan, EyD (Ejaan yang Disempurnakan), dan lain sebagainya. Dulu banyak sekali typo (salah ketik) dan serangan aku/ku yang menghiasi isi cerita. Sekarang alhamdulillah sudah sadar bin tobat. Artinya berusaha mengoptimalkan kesalahan EyD, memusnahkan typo dan serangan aku, serta membuat kalimat seefektif mungkin.

Meski terkadang kesalahan itu masih saja ada. Dan itu terlepas dari kesadaran (luput). Tulisan bisa meningkat karena itu saja? Tidak! Membaca karya-karya orang lain akan membantu meningkatkan mutu tulisan. Karya-karya senior, karya-karya penulis yang telah punya nama di pasaran, pun dari surat-surat kabar. Baik di media elektronik maupun media online.

Contohnya di Kampung Media, yang kini telah menjadi Portal Terbuka. Dengan begitu, warga kampung yang mungkin meminati hal serupa seperti saya akan sangat terbantu sekali. Dan sebuah keberuntungan menjadi warga NTB dan mengenal orang yang memperkenalkan saya dengan KM. (Syaidinil Aksa) - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru