Kisah Pengerajin Bambu Hingga Renta


, Kondisi fisik tidak menjadi ukuran kekuatan ekonomi bagi seseorang begitu pula dengan semangat dan etos Kerjanya dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga, selain himpitan ekonomi dan jeratan hutang terkadang membuat seseorang selalu berani mengambil resiko meskipun resiko itu cukup besar, Inak Paah misalnya dengan kondisi badannya yang sudah mulai bongkok terpaksa harus menjalani sisa hidupnya dengan berkeliling desa bahkan naik ojek menuju desa tetangga untuk menjajakan keranjang bambu atau segala jenis kerajinan hasila tangannya yang mulai renta.

dari raut wajahnya yang selalu muram dengan persoalan hidup menambah kerutan di pipinya yang mulai kisut, namun satu tujuan yang harus di tuntut yakni bagaimana mengisi perut. alasan tersebut memang menjadi alasan siapapun dalam menjalani kehidupan yang kian semerawut ini. setiap hari inak paah harus berjalan kaki hingga tengah hari atau terkadang terlihat di bonceng ojek melewati dusun Jerua untuk menjajakan dagangannya. sekitar setengah 11 : 08/02/14, KM Pemuda jerua Menghampiri wanita tua yang mencoba Beristirahat sembari menunggu seseorang, demikian alasannya kepada salah seorang ojek yang mengantarnya pulang dari desa tujuannya berdagang keliling.

kondisi Inak Paah yang sedemikian itulah yang sering menjadi alasaanya jarang berkeliling seperti yang sering dilakukannya dulu sewaktu masih segar. kini di akhir episode perjalannya dia masih berharap agar apa yang dimilikinya sebagai modal dalam menjalani hidupnya dapat dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang akan menjadi generasinya dimasa depan supaya mampu dan berkeinginan untuk melestarikan kerajinan tangannya yang sudah mulai renta. (An) - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru