Potret Sebuah Keuletan

Ini adalah pakaian terbaik yang dikenakannya untuk berjualan Nyiru di Kota Bima. Dipunggungnya melekat tas ransel sekolahnya yang kali ini tidak digunakan untuk buku dan bahan belajarnya, namun di dalamnya berisi air minun, nasi dan ikan teri yang dibungkus daun pisang. Dengan sandal jepit milik kakaknya, Muhammad Anton berkeliling kota Bima menjual Nyiru.

          Minggu pagi(19/1) M.Anton warga dusun Oi Wontu desa Tarlawi kecamatan Wawo Bima dibonceng kakaknya Arsyad yang berprofesi sebagai Tukang Ojek menuju Kota Bima bersama 30 buah Nyiru yang diikat di dua ujung sebilah bambu kecil. Ada secercah harapan, penjualan Nyiru kali ini akan laku. Tidak seperti seminggu yang lalu, Nyiru nya hanya sedikit sekali yang laku.

          Memasuki kota Bima, Muhammad Anton turun dari sepeda motor. Dia mencium tangan kakaknya. Dengan langkah pasti, bocah berusia 11 tahun yang kini duduk di kelas 5 SDN Tarlawi ini memulai aktifitas mingguaannya. Ya, berjualan Nyiru hasil anyaman ibunya untuk menopang ekonomi keluarga. Jarak dari Tarlawi ke Kota Bima cukup jauh. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam menuju Kota Bima.

Muhammad Anton keluar masuk kampung menjajakan Nyiru. Sesekali membasuh keringat kecilnya yang mulai bercucuran. Menjelang siang Anton beristirahat di pinggir pasar Raba membuka bungkusan nasi bekal dari rumahnya. Lahap dan nikmat terasa. Menyantap nasi dari rumah sendiri yang dimasak ibu dan dinikmati kala lelah dan lapar.

          Usai makan dan menikmati hiruk pikuk kota, Anton kembali menjajakan Nyiru hingga Sore hari. 1 buah Nyiru dijualnya dengan harga Rp.10.000. Dengan sisa 5 Nyiru, Anton beranjak pulang menyusuri jalan protocol kota Bima sambil menanti kakaknya Arsyad menjemput. Sekitar pukul setengah enam sore, Arsyad menemuinya di depan terminal Kumbe. Anton pun pulang ke Tarlawi.

          Anton adalah potret sebuah keuletan, kera keras dan kejujuran. Sedari kecil telah menelan getirnya kehidupan dan kemandirian. Masih banyak di tanah ini anak-anak seperti Anton yang tidak menikmati masa kecil dengan bermain-main dan berhura-hura, tetapi membantu keluarga menyambut asa yang terus terbentang di depan mata. (*alan)

         

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru