logoblog

Cari

Christine Laura

Christine Laura

Sesaat sebelum pesawat landing, ingatan Alex kembali ke Miami, belantara kota Amerika yang sempat menelannya satu tahun lamanya, mengikuti pertukaran pelajar

Cerita Inspirasi

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
11 Juni, 2019 16:23:18
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 918 Kali

Sesaat sebelum pesawat landing, ingatan Alex kembali ke Miami, belantara kota Amerika yang sempat menelannya satu tahun lamanya, mengikuti pertukaran pelajar Indonesia-Amerika.

Miami yang megah, mengukir kenangan yang indah di dalam hatinya, kenangan terhadap Christine Laura, gadis berambut pirang dengan mata biru menyala, persis seperti mata boneka mainan milik adiknya.

Christine Laura, telah menepis bayangan keangkuhan Amerika dalam benak Alex. Gadis yang tak pernah kenal keramahan putri Indonesia, tapi dengan mengagumkan telah menyuguhkan senyum persahabatan, saat pertama kali kaki Alex menginjak bumi Paman Sam.

“Are You Alex?” tanyanya di Airport.

“Yes I am”.

“Welcome to America,” Christine memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan yang dijabat erat-erat oleh Alex. “Aku akan membawamu ke rumah, di sini kamu tinggal bersama keluarga saya”.

“Thank’s,” Alex tersenyum. “Bahasa Indonesiamu cukup baik,” puji Alex.

“Masih kalah baik darimu,” gurau Christine, “ayahku dulu konsulat di Indonesia, dari dia aku belajar”.

Pertemuan pertama itu langsung menyulut keakraban di hati mereka berdua. Alex merasa berada di kampung sendiri, meski segala yang dapat ditangkap oleh inderanya berbau asing. Christine yang mengakrabkan dia dengan lingkungan barunya, memperkenalkan segala sesuatu yang dirasa belum dikenal Alex. Bahkan mengantar pemuda itu ke tempat belajar, serta mengurus administrasi dan tetek bengek lainnya.

“Kamu terlalu baik,” katas Alex yang dijawab dengan senyum simpul oleh Christine.

“Aku senang membantumu. Dan kuharap kau pun tidak terganggu dengan kehadiranku”.

“Oh, No! I am very like for your attention”.

Minat Christine pada Indonesia tidak cuma pada bahasanya, tapi juga seni budayanya. Dia sudah mampu mempermainkan beberapa alat gamelan, melenggangkan beberapa tarian Lombok seperti, tari Gandrung, tari Manuk Rawe dan sedikit mendendangkan Cilokaq.

“I want to like Daddy, menjadi konsulat di Indonesia. Katanya, negerimu indah seperti surga. Aku punya cita-cita untuk tinggal di sana,” ungkap Christine bersemangat. “Indonesia is my final goal”.

“Kalau aku jadi presiden Amerika, tentu sekarang juga kamu kuangkat menjadi duta besar untuk Indonesia,” Alex bercanda. “Pengetahuanmu tentang Indonesia dan kebudayaannya sudah sejajar dengan Kuntjaraningrat”.

“Who is Kuntjaraningrat?”

“Pakar sosiologi dan antropologi”.

“Ha ha ha, kau pandai bercanda,” Christine tertawa.

Alex benar-benar terpesona pada gadis berambut pirang itu. Christina tidak saja cantik, ramah dan pandai, tapi lebih dari itu dia punya kepribadian. Sesuatu yang sangat langka di Amerika. Dia pandai bergaul. Saat week end, banyak temannya yang bermain ke rumahnya. Semua diperkenalkan pada Alex. Tidak jarang pemuda itu diajak keluar rumah ke Biscaney Plaza, ke pantai Miami yang berpasir putih bersih, atau sekedar menghabiskan bensin keliling Miami.

“Mereka, teman-temanku itu sebenarnya anak-anak baik, Alex. Tapi lingkungan telah mengotori hati dan pikiran mereka. Do you know, Amerika lebih ganas dari rimba Afrika. Penghuninya juga lebih buas dari binatang. Untung kamu dibesarkan di Indonesia”.

“Kamu pernah ikut-ikutan menenggak alkohol?”

“Satu dua gelas, sekedar menemani, tapi tidak sampai mabuk”.

“Free sex?”

“No! Aku anti. Sex itu suci, jadi harus lewat jalan yang suci untuk mendapatkannya, ya perkawinan”.

Alex sekali lagi kagum pada gadis bermata biru itu. Rasa kagum yang kian lama kian bertumpuk, dan berubah wujud menjadi cinta.

 

Baca Juga :


“Cinta? Nonsens! Ini nafsu. Aku tergoda oleh kecantikan dan keramahannya. Tak lebih dari itu. Cintaku hanya untuk Larasati yang setia menunggu di Lombok sana,” bisik hati Alex. Tapi, sisi hatinya yang lain mengatakan sebaliknya. Dia benar-benar telah mencintai Christine. Larasati adalah bayangan masa lalu. Di negeri Paman Sam ini, sedikit pun tak muncul rasa kangen pada Larasati. Ikatan cinta mereka, bisa ia putus bila Christine benar-benar menerimanya sebagai kekasih. Memang akan menyakitkan hati Larasati, tapi akan lebih menyakitkan, bila hubungan mereka terus berlanjut tanpa ada landasan cinta.

Suara hati yang kedua itu yang akhirnya dipilih Alex. Dia ingin menyatakan terus terang perasaannya. Karena merasa yakin, Christine pun ada hati terhadapnya. Dia dapat menangkapnya dari tingkah laku gadis itu, terutama sorot matanya.

Di pantai Miami yang berpasir putih itu sebenarnya ingin dia mengungkapkan isi hatinya. Tapi tak sepatah katapun dapat keluar dari mulutnya. Suara bule-bule yang bermain beach volley mengganggu kosentrasi dan keberaniannya. Selain itu, merusak suasana romantis.

Alex mengajak Christine ke Bal Harbour, menyewa perahu kecil dan alat-alat pancing. Di tengah laut inilah dengan memberanikan diri Alex mengungkapkan kandungan perasaannya.

“Aku mencintaimu, Christin. Aku harap kau mau menjadi kekasihku”.

Christine tidak menjawab. Hanya menatap tajam ke arah kedua mata Alex. Tatapan itu dibalas oleh Alex, seakan ingin dia ungkapkan kesungguhan ucapannya lewat mata, sebagaimana puisi-puisi yang pernah dia baca.

“Jawablah Christin. Aku tidak akan sakit hati andai kau menolak cintaku”.

Christine tersenyum dan tetap diam, tanpa sepatah katapun jawaban. Alex tidak mampu untuk memaksa gadis itu, dia tidak tega, walaupun akhirnya dia tetap tidak memperoleh jawaban sampai pesawat yang dia tumpangi take of meninggalkan Miami.

Kini pesawat sudah landing di Bandara Internasional Lombok (BIL). Kerinduannya pada Lombok selama setahun, terpuaskan dengan menghirup udara dalam-dalam. Juga kerinduannya pada Bapak, Ibu, adik-adik dan....Larasati. Ya, mereka menjemputnya. Tak ada yang berubah pada diri mereka. Bapak masih tampak sehat, ibu sedikit kurus, adik-adik kelihatan tambah besar. Dan Larasati.....oh my god! Dia tetap cantik memukau!

Perasaan cinta yang hampir mati dipermainkan musim Amerika, tiba-tiba tumbuh subur kembali. Apalagi saat memandang senyumnya. Menyesal rasanya dia telah mencoba mengkhianati cinta Larasati yang tulus itu. Semua dipeluk Alex erat-erat, termasuk Larasati. Sampai adik-adiknya menggoda, “kayak adegan di sinetron aja”.

“Memang kita bintang sinetron,” balas Alex.

Diperjalanan pulang, cerita-cerita tentang Amerika mengalir deras dari mulut Alex. Tentang studynya, tentang Miami yang keras dan tinggi tingkat kejahatannya, tentang apa saja yang tertanam dikepalanya. Tapi tentang Christine Laura dia sembunyikan dalam-dalam.

“Kamu tidak cemburu Laras, aku tidak kontak selama setahun?”

“Tidak, aku tidak cemburu. Kamu kan miskin di sana, mana kuat beli pulsa”.

“Kalau buat beli pulsa memang tak kuat, tapi buat traktir cewek-cewek bule, duit di saku lebih dari cukup,” kata Alex menggoda Larasati.

“Mana ada cewek-cewek bule yang berani mendekati kamu. Aku sudah kirim security buat menjagamu”.

“Oh ya...”

“Kamu pasti tidak mengira kalau Christine itu securityku”.

“Christine? Christine Laura maksudmu?” Alex menjadi kaget.

“Iya, Christine Laura, dia pen friendku”.

“Christine Laura? Alex masih belum percaya dengan pendengarannya.

“Udara Miami rupanya kurang baik buat kesehatan telingamu,” ujar Larasati tenang setenang laju kendaraan. Setidaknya lebih tenang dibanding gemuruh di dalam dada Alex. Duh!



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan