logoblog

Cari

Dua Pahlawan Yang Mulia

Dua Pahlawan Yang Mulia

Tahun 2000 - Saat itu, aku berteduh di pohon rindang bersama dengan ayahku. Awalnya saya mengeluh betapa susahnya membajak ladang dengan

Cerita Inspirasi

SATARIYA MADAYIN
Oleh SATARIYA MADAYIN
06 Juni, 2019 08:11:17
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 2958 Kali

Tahun 2000 - Saat itu, aku berteduh di pohon rindang bersama dengan ayahku. Awalnya saya mengeluh betapa susahnya membajak ladang dengan sapi, sambil tertawa kecil beliau memegang pundakku, seolah Ia mengungkapkan rasa kecewa terhadapku yang mengeluh. Sembari ia menjelaskan bahwa, bertani gembala itu baik untuk aku pelajari dan kerjakan.

"Nak, sedari aku kecil hingga kini, inilah pekerjaan yang tak pernah aku tinggalkan, kakek dan nenekmu juga, mereka petani gembala. jadi sepatutnya kamu juga mempelajari dan melakukan seperti apa yang kami lakukan. Nak, dulu aku pernah bersekolah hanya sampai bangku kelas III SD, kakek dan nenekmu tak mampu membiayai dan menyekolahkanku, dan sekarang aku menyekolahkanmu agar kamu bisa menjadi lebih baik daripada kami, supaya kamu bisa memahami lebih baik, semua cara bertahan hidup, supaya kamu bisa merumuskan, dan jika kelak kamu seperti kami, agar kamu lebih mampu mengelola hasil panenmu. Janganlah mengeluh karena keringatmu seperti ini akan sangat bermanfaat bagi keluarga dan kerabatmu.

Akupun merunduk, terdiam seribu kata, merenungkan kalimatnya yang menjurus ke arah yang serius. Ayah pun berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya. Ia nampak bahagia membagi kisahnya sambil bersiul di sela-sela kalimat yang ia ucapkan. Aku kagum dengan ceritanya, namun, sedikitpun aku belum berani menatap wajahnya.

Kala itu, pakaiannya amat lusuh, tangan dan kakinya berdebu, wajahnya kusam basah dengan keringat, Ia terus melanjutkan ceritanya. Sesekali Ia bertanya, Bagaimana dengan pelajaranmu di sekolah kemarin...?

Kala itu saya masih duduk di bangku kelas IV SD. Saya pun menjawab :
"Kemarin saya mendapat nilai kurang bagus di IPS, karena saya tidak mampu menghafal urutan pejabat negara yang diantaranya ada DPR, MPR, dan sebagainya. Tapi saya mendapat nilai Seratus di Matematika karena saya mampu menghafal perkalian Satu sampai perkalian Lima"

Mendengar jawabku yang kurang memuaskan, ia kembali tertawa kecil sambil memegang kepalaku. "Perkalian itu gampang, tinggal dijumlahkan saja sebanya nilai kalinya itu" tuturnya.
"Dulu kami juga pernah diajarkan tentang zaman penjajah, waktu itu kami diberi tahu nama Presiden dan Wakil Presiden" Katanya melanjutkan dan mengajarkan aku lagu Indonesia Raya.

Dalam perihal lagu, Aku mulai lupa akan kesalahanku yang telah mengeluh terhadapnya, Sesekali aku tertawa mendengar kidungannya menyanyikan Lagu Indonesia Raya, yang tersendak-sendak akibat lupa lirik. Namun tak membuatnya berhenti untuk mengingat dan terus bernyanyi ria seakan ia sedang mengenang masa kecilnya dulu.

Waktu itu, Matahari semakin terik, namun kami malah semakin asik berbagi cerita, sambil menunggu makan siang yang sebentar lagi ibuku datang membawakan. Disana ayahku memberi petuah, "Nak, Jadilah seorang yang baik untuk semua, siap dalam segala hal, pandai dalam bertindak. Bukankah kamu tahu namanya lebah madu, perhatikanlah lebah madu itu, kemanapun mereka pergi pasti mereka menyiapkan madu, yang bermanfaat bagi kawanannya, bahkan bermanfaat pula untuk kita, dan disisi lain ia rela berkorban untuk melindungi kawanan serta madunya."

"Nak, coba kau lihat disana, gunung itu amat tinggi namun langit itu jauh lebih tinggi, gunung itu amat besar namu alam semesta ini jauh lebih besar, Janganlah kamu sombong terhadap siapapun.

Ketahuilah, orang kaya itu bisa saja besok atau lusa dia akan jatuh miskin, sementara orang miskin mungkin saja mendadak bisa jadi kaya, jadi jangan pernah kau berbangga diri, Jangan kamu bangga terhadap Siapapun, Jadilah dirimu sendiri, Berjuang dalam kebaikan, Wujudkan Cita-citamu, Tanamkan nilai Budi Pekerti dan Sopan Santun dalam setiap langkahmu. Karena Saya dan Ibumu akan bahagia bila kelak kamu menjadi orang Bijak.

Aku kagum dan terkesima mendengarnya. Aku menjadi malu dan bertingkah tidak karuan, Padahal ayahku tidak mendapat pendidikan tinggi, namun pemikirannya seperti seorang pahlawan.

Aku teringat lagi pesan guruku, di sekolah mereka menyampaikan banyak sekali Pelajaran Luhur yang tak kuasa ku ingat satu demi satu. Andai kala itu aku mengerti maksudnya mungkin akupun meneteskan air mata, sebagaimana air mataku menetes sambil menulis cerita ini. Sungguh, masa itu sangat berkesan bagiku, yang mungkin akan aku kenang sepanjang hayat.

Kini, Kata-kata yang keluar dari bibir ayahku menyemangatiku yang sudah mulai peka Asam Garam. Aku telah memetik banyak nilai dari pengalaman bersama ayah, aku telah merasakan betapa berharganya perjuangan seorang ayah, karena perjuangan seorang ayah tidak kalah penting dengan perjuangan seorang pemimpin hebat yang melayani semua orang. Hanya saja cara pengungkapannya yang berbeda. Bagiku Ibu dan Ayah sudah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah pahwalawan bagi kami. Bagiku ayah dan Ibu juga adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Lebih lagi disaat mereka menyatakan bahwa, mereka cukup bahagia ketika kami berhasil.

Kini aku semakin mengerti bahwa Banyak Bekerja itu lebih mulia daripada banyak bicara, dan kini akupun lebih percaya terhadap Pepatah yang mengatakan "TONG KOSONG NYARING BUNYINYA" Juga Pepatah Yang Mengatakan "BAGAIKAN PADI, MAKIN BERISI MAKIN MERUNDUK"

Akhir Cerita, Semoga kita semua semakin berbakti kepada Ayah dan Ibu.
Aamiin....
 

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan