logoblog

Cari

Milenial Bicara Harkitnas

Milenial Bicara Harkitnas

Sudah 111 kali Bangsa Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Tidak lagi berada dalam belenggu penjajahan, Harkitnas tak hanya dimaknai sebagai

Cerita Inspirasi

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
20 Mei, 2019 15:21:41
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 2261 Kali

Sudah 111 kali Bangsa Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Tidak lagi berada dalam belenggu penjajahan, Harkitnas tak hanya dimaknai sebagai momentum memperjuangkan persatuan negeri seperti saat pertama kali dicetuskan Bung Karno dulu. Generasi milenial Indonesia kini memiliki cara pandang sendiri untuk memaknai Harkitnas.

Seperti yang diungkapkan Duta Baca Provinsi NTB Ziadah Ziah, yang memaknai Harkitnas tak hanya sebatas perayaan simbolis atau formalitas semata. Perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Griffith Australia ini berharap Harkitnas dapat dijadikan momentum bagi anak muda untuk bangkit berkarya.

“Sebagai milenial yang dimanjakan oleh peradaban, teknologi, informasi dan akses untuk belajar, kita seharusnya lebih produktif dalam berkarya, lebih semangat lagi dalam belajar, mengerjar mimpi-mimpi kita, setiap generasi memang punya tantangan tersendiri, tapi tatangan tersebut hendaknya menjadikan kita generasi yang lebih baik, generasi yang bisa membuka jalan yang lebih baik untuk generasi berikutnya,” ungkapnya kepada Tim Media, (20/5).

Tak jauh berbeda dengan Zi, Eka Fitriani, salah seorang penggiat literasi di Kota Mataram juga mengaku memaknai Harkitnas sebagai momentum untuk bangkit berkarya. Namun, gadis kelahiran February 1994 tersebut lebih menekankan kepada kesehatan mental generasi Milenial. Mengutip data WHO tahun 2018, Eka menjelaskan generasi milenial sangat rentan mengalami penyakit mental seperti gangguan kecemasan, depresi, bipolar, skizofernia, dan penyakit mental lainnya. Bahkan bunuh diri yang diakibatkan oleh penyakit mental adalah penyebab kematian nomor 2 terbesar di dunia.

“Menurutku sangat berpengaruh ke produktifitas. Mental gak sehat sama aja kaya fisik kita yang gak sehat. Sama-sama bikin sakit. Sama-sama bikin gak bisa bebas bergerak dan berkegiatan dengan semestinya, ga maksimal. Akhirnya gak produktif,” ungkapnya.

 

Baca Juga :


Pandangan yang sedikit berbeda disampaikan, Siti Syifa'un Nufus Z. Dedare yang pernah mewaili NTB dalam acara One Young World 2018 di Hague Netherlands ini memandang Harkitnas sebagai ajang bagi generasi muda untuk bangkit melek informasi.

Gadis yang biasa disapa Syifa ini berpendapat, mudahnya masyarakat Indonesia mengakses informasi tidak dibarengi dengan pengetahuan literasi digital yang memadai. Sehingga, masyarakat begitu mudah termakan hoax dan diadu domba. Oleh karena itu, Syifa berharap Harkitnas tahun ini dapat menjadi momentum bagi siapa agar lebih bijak menggunakan internet dan bersosial media.
  
“Saya punya tips untuk menghindari hoax dengan COC. C yaitu Cek informasi yang didapat dengan membaca berita tersebut melalui web lainnya. Kemudian, Orang yang memberikan informasi perlu diperhatikan. Dan C yang terakhir, Cari Tahu informasi atau berita melalui portal berita resmi, jangan mempercayai informasi yang berasal dari web abal-abal,” pukasnya.

Meski memiliki cara berbeda dalam memaknai Harkitnas, Zi, Eka, maupun Syifa sama-sama sepakat bahwa Harkitnas merupakan ajang untuk bangkit, bersatu, dan bersama-sama memajukan Republik Indonesia yang tahun ini berusia 74 tahun. (novita-tim media)



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan