logoblog

Cari

Total Mengungsi, Anggota Kampung Media Dirikan RTG

Total Mengungsi, Anggota Kampung Media Dirikan RTG

Tak melulu duka, ada cerita unik yang ditinggalkan pasca gempa bumi yang melanda Lombok beberapa waktu lalu. Saat itu, seluruh masyarakat

Cerita Inspirasi

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
29 April, 2019 13:03:14
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 4097 Kali

Tak melulu duka, ada cerita unik yang ditinggalkan pasca gempa bumi yang melanda Lombok beberapa waktu lalu. Saat itu, seluruh masyarakat memilih mengungsi di dalam tenda dibandingkan mengambil resiko tinggal di dalam rumah. Siapa yang menyangka? Meski saat-saat itu telah lewat, namun masih ada warga yang justeru betah tinggal di pengungsian.

Muhammad Safwan (46) bersama istri dan kedua anaknya, adalah satu keluarga yang betah tinggal di pengungsian. Keluarga yang berasal  Kelurahan Abian Tubuh Baru. Kecamatan, Sandubaya tersebut mengaku justeru kini hanya mampir beberapa kali saja ke rumahnya. Tak tanggung-tanggung mereka merombak tempat pengungsian tersebut menjadi Rumah Tahan Gempa (RTG).

“Sebenarnya rumah kami yang sebelumnya baik-baik saja. Tapi kami merasa lebih nyaman tinggal di sini,” tutur Safwan yang juga merupakan anggota Kampung Media sejak tahun 2009 tersebut.

Di tanah seluas 1,5 are, mereka mengukuhkan tempat pengungsian mereka menggunakan kalsiboard dan spandek yang tahan gempa. Menjadi hunian tetap yang nyaman ditinggali. Safwan membagi ruangan menjadi 5 bagian, sebuah kamar tidur, sebuah ruang tamu merangkap mushala, dapur, kamar mandi, dan teras. Tak tanggung-tanggung lantainya pun di sulap menggunakan keramik.

 “Kira-kira totalnya 20 sampe 30 jutaan membangun rumah ini. Yang terpenting kenyamanan dan keamanannya,” tambahnya.

 

Baca Juga :


Safwan kemudian kembali menceritakan malam saat gempa 7 sr mengguncang Lombok. Saat itu mereka sekeluarga tengah berpencar. Ia sendiri tengah dalam perjalanan pulang di dalam pesawat, istrinya tengah di jalan, sementara salah satu anaknya sedang di pondok pesantren bersekolah.

“Anak saya yang paling trauma saat itu, karena ia melihat temannya sendiri meninggal tertimpa reruntuhan. Dia sudah coba bangunkan tapi ndak mau. Sejak itu dia paling takut berada di dalam ruangan beton. Makanya dia alasan kita membuat hunian yang tahan gempa,” tandasnya.

Kini satu persatu barang-barang dari rumah mereka sebelumnya dipindahkan. Mereka menghabiskan hari-hari di mana dulu mereka membangun tenda pengungsian. (novita-tim media)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan