logoblog

Cari

Kreatifitas Dibalik Tembok Lapas

Kreatifitas Dibalik Tembok Lapas

Menjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tidak lantas membuat para warga binaan rendah diri. Mereka tetap bisa mengasah kreatifitas dan membuat beragam

Cerita Inspirasi

Lulu walmarjan
Oleh Lulu walmarjan
15 April, 2019 13:41:23
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 340 Kali

Menjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tidak lantas membuat para warga binaan rendah diri. Mereka tetap bisa mengasah kreatifitas dan membuat beragam karya.

Berbekal bahan baku dan peralatan seadanya, para warga binaan lapas perempuan kelas III Mataram tetap mampu menghasilkan berbagai karya berkualitas. Meski harus berjibaku dengan dinginnya jeruji besi. Karya yang dihasilkan pun tidak kalah dengan produk kerajinan lainnya diluar lapas. 

Kreatifitas para warga binaan ini beragam. Mulai dari membuat handycraft, merajut, sulam, hingga membuat produk makanan."Ada berbagai produk yang dibuat seperti tas rajut, celengan, bingkai dari kain flanel dan gantungan kunci," terang Titik Daryani, pimpinan lapas perempuan kelas III Mataram, Ahad kemarin (14/04) saat memamerkan beragam produk hasil karya warga binaan di Car Free Day Udayana Mataram. 

Titik menambahkan, hasil kreatifitas dari para warga binaan ini telah dipasarkan ke luar lapas tidak hanya di Mataram akan tetapi merambah hingga ke ibukota."Berbagai hasil karya mereka ini sudah kami pasarkan di Mataram dan Jakarta serta beberapa wilayah Indonesia lainnya," tambahnya. 

Namun memang masih terdapat beberapa kendala. Karena banyak masyarakat yang masih belum mengetahui secara luas karya warga binaan."Makanya itu kami perlu ekspos lebih luas lagi ke masyarakat. Kemarin pak gubernur minta Dinas Perdagangan NTB juga agar bisa mengakomodir produk warga binaan kami di I-shop," tambahnya lagi.

Kreatifitas warga binaan ini rupanya tidak terlepas dari pihak lapas yang memberikan keterampilan dan pelatihan. "Tujuan kita adalah agar saat mereka keluar dari sini mereka sudah memiliki keterampilan, dan tentunya bisa lebih baik lagi setelah bebas. Jadi setelah keluar mereka bisa menyalurkan ilmu yang sudah didapat untuk dibagikan ke orang lain," jelasnya.

Adapun dari hasil pembinaan dan pelatihan dari pihak lapas tersebut, tidak sedikit warga binaan yang telah berdaya, bahkan sudah mampu berkreasi sendiri setelah keluar dari lapas. "Ada warga binaan kita yang setelah keluar dari lapas membuat karya sendiri. Bahkan hasil karyanya diminati masyarakat di tempat tinggalnya,"ujar Titik.

Pelatihan dan pembinaan sendiri dilakukan melalui seleksi tergantung minat dan bakat yang dimiliki para warga binaan."Jadi sebelum dibina kita melihat bakat minat dulu. Apa bagian sulam, merajut atau apakah di tata boga atau kerajinan tangan," katanya. 

Karena tidak adanya anggaran khusus. Para warga binaan mendapatkan upah dari hasil penjualan produk."Mereka dapat untung dari sana. Itu diputar lagi untuk bahan baku. Pokoknya dari kita untuk kita."jelasnya.

 

Baca Juga :


Meski demikian, para warga binaan tetap bersemangat dalam berkreatifitas."Kita akui untuk peralatan memang masih minim. Seperti tata boga kita kesulitan oven untuk memasak kue kering. Jadi baru bisa buat gorengan yang hanya bisa dibeli pengunjung lapas,"imbuhnya.

Titik berharap kedepannya, ketika lapas yang baru sudah beroperasi. Ia yakin bisa lebih maksimal dalam mengadakan sarana dan prasarana penunjang kreatifitas para warga binaannya."Kebetulan tempat kita sekarang kan masih nempel sama lapas Mataram. Jadi tidak semua peralatan bisa kita usung kedalam. Intinya tetap semangat saja,"katanya.

Ia juga berharap. Jika ada perusahaan atau 
Pusat oleh-oleh bisa merekrut warga binaan."Jangan lihat dia eks napi. Tapi lihat hasil karya yang dihasilkan,"pungkasnya. 

Sementara itu, salah seorang penghuni lapas asal Lombok Utara yang enggan disebutkan namanya menuturkan, selama berada di lapas Mataram. Ia banyak belajar berbagai hal terutama mengasah kreatifitas."Saya sudah setahun disini. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Disini saya juga banyak belajar mengasah kreatifitas salah satunya merajut," ujarnya.

Dibalik tembok lapas Mataram. Para penghuninya tidak hanya dibekali kreatifitas namun juga ilmu agama."Setiap dua kali seminggu kita pengajian, hari Rabu dan Jum'at." Tuturnya.

Ia berharap bisa segera menghirup udara bebas."Saya ingin cepat bebas dan bisa bertemu keluarga lagi. Tapi masih dua tahun lagi saya disini. Karena masa hukuman saya sampai 3 tahun," jelasnya dengan mata berkaca- kaca. (Luk-tim media).



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan