logoblog

Cari

Teh Kelor Dompu Menembus Pasar Dunia

Teh Kelor Dompu Menembus Pasar Dunia

Kelor dengan nama latin Moringa yang selama ini hanya sebagai sayur bening penambah nafsu makan keluarga, kini telah dikemas menjadi racikan

Cerita Inspirasi

EDY IRFAN
Oleh EDY IRFAN
29 Maret, 2019 17:31:23
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 29308 Kali

Kelor dengan nama latin Moringa yang selama ini hanya sebagai sayur bening penambah nafsu makan keluarga, kini telah dikemas menjadi racikan teh yang dapat dinikmati berbagai kalangan. Dengan tampilan menarik melalui tangan dingin Nasrin H. Muhtar – putra Desa Kilo Kabupaten Dompu teh tersebut sudah masuk pasar dunia.

Sebuah situs jual beli online dunia alibaba.com telah mempercayakan produknya nampang di laman tersebut dengan nama “Teh Moringa Kidom” untuk maksud mengangkat nama tempat lahirnya Desa Kilo Dompu.

Nasrin yang kelahiran 46 tahun lalu berhasil mengekspor senilai Rp225 juta pada Maret 2018 untjuk memenuhi pasar Taiwan. Menyusul kemudian pasar Korea, Jepang dan Saudi Arabia. “Kami sudah mengekspor perdana sebanyak 1.500 toples pada Maret 2018, Nilai ekspornya mencapai Rp225 juta. Satu toples dengan berat 150 gram,” ucapnya

Beberapa pengusaha dari Taiwan, Korea, Jepang, Republik Ceko bahkan penasaran dan datang langsung berkunjung ke rumah Nasrin hanya ingin melihat langsung proses pembuatannya, ini karena daun kelor.

Produk Moringa Kidom memanfaatkan bahan baku batang, buah dan daun kelor, merupakan satu-satunya produk minuman herbal dan kosmetik asal Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berhasil menembus pasar dunia.

Produk ini berhasil masuk alibaba.com karena keunikan rasa dan mampu menyediakan 1 juta stok barang. ”Ada tahapan penilaian dari sisi stok produksi, ketersediaan bahan baku, pemasaran dan keunikan rasanya, sehingga bisa bergabung dengan Alibaba,” jelas Nasrin.

Sebelum bergabung di Alibaba.com, Ayah dari dua orang anak ini dikunjungi Area Manager Asia Pasifik Steven Chan ke rumah produksinya di Sweta Cakranegara. Seteven langsung melihat cara pengolahan teh dari daun kelor. Namun sebelum itu produknya juga mangkal di bukalapak, tokopedia dan belanja.com.

Moringa Kidom tak hanya menyajikan minuman teh. Ia memiliki beberapa varian produk antara lain ada  kapsul, masker, bubuk dan markani maniki. Semuanya didapatkan di alam NTB. Seperti tumbuhan dan rempah – rempah, akar alang-alang, meniran, kayu songga, daun apokat, daun sirih, temulawak, daun kelor  hingga lebih dari 50 bahan alami termasuk madu asli dari Kilo Dompu.

Dengan permintaan pasar yang begitu banyak, Nasrin dapatkan pasokan bahan baku dari petani di Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu. “Saya membina petani untuk menanam kelor pada lahan seluas 30 hektar, kemudian membeli  dengan harga Rp 2.000 per kilogram,” ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu NTB.

Bahan baku yang dikirim dari Kabupaten Dompu ditampung di gudang penyimpanan sekaligus tempat pengeringan di Mataram. Prosesnya melibatkan tenaga kerja yang sudah dilatih.  “Saya akan menambah lahan tanam dan membangun pabrik pengolahan di Kabupaten Dompu, sehingga meyerap tenaga kerja,” tutur Nasrin.

Daun kelor ini sangat disukai oleh negara-negara Asia maupun Eropa bahkan dunia, karena memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh manusia. Daun kelor kaya akan potassium, vitamin A, vitamin C, zat besi, kalsium, protein yogurt.

“Tau gak ? Kelor dikagumi oleh orang luar negri , Bahkan WHO menobatkan Kelor sebagai Pohon Ajaib, karena kelor telah digunakan sejak dulu untuk mencegah dan mengobati lebih dari 300 penyakit, keren kan,” kata pria asli Kilo Dompu saat mengikutinya berkeliling Pulau Sumbawa di Bulan Maret 2018.

Pohon kelor, dari akar sampai daunnya mеmiliki kеmаmрuаn dаlаm mеlindungi tubuh dаri еfеk tоksin yаng diрicu оlеh strеs, menurunkan gula darah, mencegah dan mengobati hipertensi, diabetes, sakit jantung, meningkatkan fungsi ereksi, memperbaiki dan mengobati fungsi hati dan pencernaan. 

“WHO menetapkan kelor sebagai makanan yang mampu memperbaiki gizi, memperlancar air susu ibu melahirkan dan menjaga berat badan serta meningkatkan kecerdasan otak,” sebut lelaki yang dijuluki dokter jamu ini.

Keberhasilan Nasrin ini mendapat dukungan dari Pemerintah Pusat dan Provinsi NTB. Dirjen Kemendes PDT Samsul Widodo, berkunjung langsung ke rumahnya. Berbagai acara pemerintah Provinsi NTB, Nasrin seringkali hadir untuk mensuport.

“Saat acara Jumpa Bang Zul dan Ummi Rohmi, saya hadir untuk mensuport dengan teh Moringa Kidom gratis bagi peserta, Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah mengapresiasi produk lokal ini,” ungkap Nasrin.

Keberhasilan ini juga mengantarkan pengusaha jamu ini diundang diberbagai seminar tingkat regional dan Nasional. Mengisi diskusi, lokakarya tentang motifasi untuk berenterpreunership. Membangkitkan semangat berwisausaha yang dapat membuka lapangan kerja.

 

Baca Juga :


“Keberhasilan ini juga membawa saya bertemu dengan 3 Presiden. Saya diundang oleh Presiden karena salahsatu pengusaha jamu yang berhasil di NTB. Di era Presiden Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan terakhir saya bertemu dengan Presiden Joko Widodo, saya senang dan bangga, daun kelor membawa saya ke Istana negara,” ucapnya.

Menurutnya, NTB ini kaya sumber alam akibat letusan Gunung Tambora tahun 1518 yang mengeluarkan unsur hara dan menyuburkan tumbuhan. Termasuk suburnya tanah di Dompu dan Bima.

”Sama juga dengan tanah di Sumbawa atau Lombok, memiliki unsur hara yang bagus untuk tumbuhan karena letusan gunung Tambora dan Rinjani, kenapa tidak mencoba untuk menanam kelor atau tumbuhan yang kaya nilai ekonominya,” kata pria anggota Komunitas Tangan di  Atas ini.

Nasrin yang aktif diberbagai organisasi ini juga kerap memberi motivasi pada kalangan muda, baik itu pelajar dan mahasiswa untuk menjadi entrepreneurship muda yang mandiri dan tangguh bersaing di era pasar global.

Di era kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi ini, generasi mudah jangan takut untuk berwirausaha sebagai pilihan masa depan. “Berhasil atau tidaknya kita, harus berani memulai, masalah gagal itu hal yang biasa. Kegagalan merupakan penyemangat kita untuk terus mencapai keberhasilan, jangan berpikir hanya jadi PNS, menjadi pengusaha banyak yang berhasil, saya contonya,” katanya memotivasi.

Dengan adanya pelatihan dan pendampinga dari Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Kominfotik NTB, dengan peningkatan SDM KIM untuk memahami tentang pasar kampung online, harus di sambut dan apresiasi. “Tidak cukup dengan modal keberanian, kepintaran diri saja, namun pelatihan dan pendampingan dengan kegiatan seperti ini harus kita lakukan dan ikuti,” ucap Nasrin.

Owner jamu Sasambo ini bercerita awal mula membuka usaha hanya dengan modal 1,5 Juta Rupiah. Modal  itu dipergunakan untuk sewa rumah sebagi kantor sebesar 1 Juta Rupiah dan 500 Ribu Rupiah  digunakan untuk membeli bahan baku membuat jamu. “ Modal usaha itu bukan uang, tapi keberanian, keuletan, pintar melihat peluang, iktiar dan doa, jangan lupa restu ibumu,” suportnya

Namun dengan berbekal pengalaman bekerja di perusahan Jamu di Makasar tahun 1988,  Nasrin mulai mencoba meracik jamu sehingga menghasilkan prodak jamu dengan brand Jamu Sasambo.  Asal nama Sasambo, merupakan tiga suku besar  di Provinsi NTB,  suku Sasak di Pulau Lombok, Suku Samawa di Sumbawa dan Suku Mbojo di Bima dan Dompu.

“Tapi belakangan brand terbaru saya tambahkan menjadi Sasambodom, ada nama Dompu dibelakangnya,” kata lelaki yang mendidik putri pertamanya menggeluti usaha yang sama ini.

Keuletan dan kerja keras adalah prinsip hidupnya. Pengalamannya menjadi sales jamu dari pinti ke pintu mengantarkannya menjadi manager pada perusahaan dia bekerja. Yang menarik lagi, awal menjadi karyawan pada sebuah kantor, hanya bekerja menjadi tukang sapu. “Saya orangnya berani mencoba dan punya tekad untuk maju, makanya saya keluar dari tempat kerja dan mencoba menjadi sales jamu,” ceritanya.

Pria lulusan SMP ini mencoba peruntungan untuk hijrah dari Kota Makasar ke Pulau Lombok. Dengan segudang pengalaman ini Nasrin mulai membangun usaha, memenej pemasaran hingga keuangannya. “Perjuangan saya cukup berat, jangan melihat apa yang saya dapatkan sekarang, tapi dengarkan apa yang pernah saya lewati, semua butuh proses tidak ada yang instan,” tegasnya.

Pria yang sudah mewujudkan cita-cita menunaikan ibadah haji bersama Ibu dan Bapaknya ini, memulai usaha dengan Pendidikan SMP. Namun berkat perjuangannya, bahwa Pendidikan juga perlu untuk tetap belajar. Sehingga Nasrin menyelesaikan Pendidikan SMA dengan Paket C. Kemudian melanjutkan S1 dan S2 di Universitas Mataram.

Kesuksesan Nasrin memasarkan dan memperkenalkan produknya dilalui dengan perjuangan berat. Usahanya terus berkembang.  Hingga buah dari perjuangannya mendapatkan hasil yang sekarang dinikmati semua orang.

Keberhasilannya merupakan cerita yang menginspirasi. Perjalanan anak kampung, dengan latar belakangan pendidikan yang rendah, berasal dari orang tua pekerja buruh tani, dari pelosok dusun terpencil, mampu menginspirasi anak muda untuk mendunia. “Sukses itu akdir Bagi Orang-orang Yang Ingin Berubah,” pesan pamungkasnya. (Edy-Tim Media)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan