logoblog

Cari

Sosialisasi TOSS Dukung Zero Waste

Sosialisasi TOSS Dukung Zero Waste

Untuk mendukung program Zero Waste di NTB, Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menyelenggarakan sosialisasi Tempat

Cerita Inspirasi

EDY IRFAN
Oleh EDY IRFAN
19 Februari, 2019 22:08:46
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 5287 Kali

Untuk mendukung program Zero Waste di NTB, Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menyelenggarakan sosialisasi Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS), Selasa (19/2/2019) di aula rapat kantor DPMPTSP.

Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknik (STT) – PLN,  yang memiliki program pengolahan sampah dengan model Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS). Sebuah metode sederhana namun memiliki nilai ekonomis.

Kepala DPMPTSP Provinsi NTB, H. Lalu Gita Aryadi, M.S.i mengatakan bahwa latarbelakang kegiatan ini, adalah untuk mendukung program Zero Waste yang digagas Gubernur Dr. Zulkieflimansyah, SE., M. Sc dan Wakil Gubernur Dr. Hj. Siti Rohmi Djalillah, M. Pd, “ NTB Bebas Sampah di Tahun 2023”.

Menurut Kepala DPMPTSP, Aspek kedisiplinan atau budaya masyarakat tentang kepedulian untuk membuang, pemilahan dan mengelolah sampah sangat minim. Sehingga perlu diberikan pemahaman dan pengetahuan tentang cara pengolahan sampah sehingga memiliki nilai manfaat.

“Di instansi pemerintah saja, pemilahan sampah sudah mulai dilaksanakan. Itupun belum maksimal dilaksanakan. Sebagai abdi negara kita harus memberikan contoh kepada masyarakat,” jelas Kadis didepan peserta sosialisasi yang terdiri dari OPD lingkup Pemrov. NTB, Satgas Zero Waste dan Pokdarwis.

Namun proses pengolahan sampah ini perlu didukung dengan cara dan aturan yang baik. Saat diangkut ke TPA atau TPS, sampah dengan jenis Warna merah (berbahaya), kuning (non organik) dan hijau (organic) sudah tercampur kembali. “Ini masalah yang kita hadapi besama, karna kurangnya kesadaran tadi, Seolah- olah apa yang sudah kita lakukan tidak optimal. ” kata Lalu Gita Aryadi.

Kita harus memulai langkah-langkah efektif dalam pemilahan dan pengelolahan sampah. Begitu juga saat pengangkutan sampah harus dijadwalkan sesuai dengan jenis sampah. Waktu pengangkutan sampah harus sesuai jenis sampah. "Kapan jadwal sampah yang organik atau non organik, ini peran Dinas Lingkunag Hidup dan Kehutanan," jelasnya. 

Begitupun sampah yang diangkut oleh petugas harus jelas tujuannya. Misalnya sampah yang organic tujuannya kemana, non organic dan berbahaya harus diangkut ketujuan pengolahan masing-masing yang sudah ada lahan pengolahannya. Sampah yang diangkut sesuai tujuan, nanti langsung diolah sebagai bahan baku yang dapat dimanfaatkan kembali.

“Pada saat kunjungan bersama rombongan Gubernur NTB ke Negara Denmark, kami melihat cara pengelolaan sampah. Kita memang masih jauh dari masyarakat Denmark. Baik dari aspek disiplin, teknologi, kelembagaan, dukungan politik dan ekonomi, memang mereka memiliki aspek ini, tapi setidaknya disiplinnya terhadap sampah dan pengolahannya perlu kita terapkan di NTB,” harapnya.

 

Baca Juga :


Sementara itu, Sekertaris Perusahan dan Project Manager TOSS Bali dan Nusa Tenggara, Arief Noerhidayat mengatakan bahwa STT PLN berhasil melakukan penelitian dan inovasi Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) pada 2016, kemudian diimplementasikan secara nyata di Kabupaten Klungkung Bali sejak Agustus 2017 dan mampu meraih penghargaan top 40 innovation dari kementerian PAN RB dan Proper Emas dari Kementerian Lingkungan hidup dan kehutanan. 

Dalam waktu 1 tahun TOSS mampu memberdayakan masyarakat setempat untuk memanfaatkan dan mengolah sampah menjadi menjadi pelet berkalori 3300 kcal/kg yang dapat dimanfaatkan untuk pengganti kayu bakar, pembangkit listrik skala kecil, hingga uji coba cofiring pelet sampah dengan batu bara pada PLTU.

Masalah sampah menjadi atensi kita bersama. Baik diperkotaan maupun diwilayah pedesaan.  Tumpukan sampah di tempat tempat pembuangan sementara (TPS) atau tempat pembuangan akhir (TPA) telah melebihi daya tampung yang tersedia. 

Dampak yang ditimbulkan juga sangat menghawatirkan. Penumpukan sampah di TPA adalah pencemaran lingkungan, baik udara, tanah dan juga air. Sementara usaha pengolahan sampah yang telah dan sedang dilaksanakan oleh pemerintah belum maksimal. “Sedangkan jumlah sampah semakin bertambah, ini harus ada upaya atau inovasi mengelolanya, seperti yang kami lakukan,” kata Arief.

“Sehingga kami menawarkan dan mensosialisasikan Model TOSS untuk melengkapi model Bank Sampah yang sudah berhasil dan banyak dipraktekkan oleh kalangan masyarakat peduli sampah, TOSS menawarkan kemudahan dan keunggulan yang sederhana sebelum dibuang di TPS atau TPA,” kata Arief.

Arief yang datang bersama dengan timnya, menjelaskan berbeda dengan proses olah sampah pada umumnya, TOSS tidak memerlukan pemilahan awal dan TOSS lebih unggul daya manfaatnya karena produknya berupa bahan bakar briket atau pelet yang lebih mudah dijual atau dimanfaatkan sendiri dibandingkan produk lain seperti kerajinan barang bekas atau pupuk.

TOSS adalah metode yang tepat untuk solusi permaslaahan sampah di NTB. Metode praktis pengolahan sampah dengan menjadikan hasil olahannya sebagai bahan bakar listrik. Sehingga program NTB Bebas Sampah tahun 2023 mampu terealisasi. (Edy)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan