logoblog

Cari

Tentang Kita, Lika…

Tentang Kita, Lika…

TANAH Lombok yang memekatkan rindu di kalbu. Malam ini aku di sini, di belahan bumi yang ribuan mil jauhnya. Sendiri melawan

Cerita Inspirasi

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
09 Februari, 2019 22:18:03
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 1785 Kali

TANAH Lombok yang memekatkan rindu di kalbu. Malam ini aku di sini, di belahan bumi yang ribuan mil jauhnya. Sendiri melawan keinginan untuk pulang menemuinya. Termasuk juga menemui wajah teduh di sana. Wajah yang telah lama mengisi benakku diam-diam. Wajah yang kumaksud adalah kamu, Lika. Dan yang membuatku memelihara hati dan kesetiaan. Ah, sedang apa kamu sekarang? Membaca buku setebal bantal, fb-an, mengisi buku diary ataukah sedang melamun seperti aku di sini?

Suatu ketika, Fina temanku pernah nyeletuk. “Hebat kamu Lex! Punya pacar kayak Lika, setiaaaa banget”

Saat itu aku terseyum mendengar pujian itu. Tapi benar kok Lik!. Aku merasakan sendiri kesungguhanmu dalam mencintaiku. Itu semua terbukti. Ketika kita sama-sama menginjakkan kaki di tanah Senggigi. Ada seorang lelaki iseng menggoda dan berkata tak enak padamu. “Suit….Suit! Ada cewek tomboy, bahenol!”

Kamu memang tomboy Lik, tapi bukan bahenol. Aku yang mendengar ucapan lelaki tadi kontan saja jadi naik pitam. Kamu berusaha menenangkan suasana. Tapi aku tak mau ada lelaki yang menggoda, lelaki yang berkata tak enak kepadamu.

Prak!! Sebuah uper cut bersarang di pelipis lelaki tadi. Kamu jadi tergagap dan segera menutup wajah dengan kedua tanganmu. Di sela-sela jemari kamu melihat ada darah segar mengucur di wajah lelaki itu. Menurut kamu, begitu keraskah tinjuku itu Lika? Kenapa begitu tega aku melakukannya?

Prak! Prak! Dua kali tendangan melingkar mengenai rahangnya. Saat itu aku persis seperti dalam adegan film Never Die dengan aktor kekar si Van Dame. Kamu segera sadar dan mengajakku bergegas pergi dari tempat itu. Karena kamu bilang, aku bukan seorang pembunuh, bukan seorang manusia yang paling jahat di muka bumi ini. Bukan pula seekor harimau yang haus darah. Tapi aku adalah cowok milikmu satu-satunya. Cowok yang tampan dan simpati. Dan yang selalu berusaha melindungimu. Melakukanmu seperti seorang putri kerajaan. Putri yang dijunjung tinggi dan dihormati oleh kawulanya.

Dan ketika hari-hari berikutnya, Aton si anak kampung itu cerita lagi kalau kamu suka cowok yang soleh dan pintar. Rasanya sholatku jadi kian khusuk dibanding sebelumnya dan belajarkupun tambah rajin. Hasilnya tidak sia-sia, Lik. Aku mendapat bintang emas sebagai peraih IP tertinggi dan prestasi terbaik. Kamu bangga kan Lik? Pasti! Sebab kutahu dari sinar matamu yang cerah. Bersinar bagai kristal berkaca-kaca. Kamu memang selalu begitu. Ah, aku jadi tambah kangen. Apakah semua cinta memang begitu?

Tahukah kamu, Lik? Aku terpukau dengan gaun dan jilbabmu yang serasi, meching dengan kombinasi warna yang kalem. Serasi dengan warna kulit dan bentuk oval wajahmu. Kamu kelihatan cantik sekali dengan gaun dan aduhai sandal jepitmu. Dadaku bergetar manakala melihatmu melempar senyum. Mondar-mandir di depanku seperti seekor kijang emas. Mungkin saat itu kamu berpikir bahwa aku ini tolol, memandangmu terbengong-bengong. Atau juga kamu merasakan keterpanaanku oleh kecantikan wajahmu?.

Kamu juga harus ingat, Lik. Sejak pertemuan itu, selalu muncul pertemuan-pertemuan kecil. Dari sekedar ber-Hai dan ber-Halo, sampai mengajakmu makan Bak So Kopang yang aduhai lezat itu. Kadang aku sempatkan diri mampir di kostmu untuk memaksamu menerima ajakanku jalan-jalan di sekitar Taman Kota Giri Menang, Bundaran Giri Menang atau di Taman Kehati.

 

Baca Juga :


Sejak itu selalu saja ada kamu dalam setiap mimpiku. Meski tak pernah ada keberanian untuk menitip harap padamu. Tapi, bila melihat ada kilatan kecil di matamu, keinginan itupun muncul ke permukaan.

Ada lagi yang takkan kulupa, Lik. Aku selalu menggenggam tanganmu saat menyeberang jalan bersama. Ada getaran yang tercipta dalam ceria kita saat itu. Semuanya itu begitu kunikmati.

Lika....Jam di dinding berdentang tiga kali. Malam telah bergulir di luar sana. Berarti acara TV sudah mau off. Seharusnya sedari tadi aku tertidur. Sebab besok aku akan menemuimu. Melihat dari dekat senyummu yang tulus, polos dan jujur itu. Aku tak peduli apa kata orang tentang kita. Tapi aku yakin, orang hanya memikirkan suhu politik jelang Pilpres/wapres dan pelleg yang kian semarak. Mereka hanya sedang memikirkan, siapa pilihan pimpinan negeri ini nanti. Atau mungkin juga, orang masih terpokus pada koruptor yang satu persatu, bergantian dijebloskan ke sel. Biarkan saja, kita tak punya hak untuk mengusik mereka, karena kita tak memiliki tampang untuk menggerogoti uang rakyat.

Astaga! Kenapa Lik? Kenapa tubuhku merasa terlempar dan terhempas? Kucoba untuk bangkit. Mataku liar mencarimu. Kulihat kamu sedang tertidur tak bergerak. Aku ingin berteriak memanggilmu. Tapi aku tak kuasa karena tubuhku terjatuh lagi. Bulu kudukku meremang seketika. Susah payah menahan air mata ini agar tidak berloncatan keluar. Aku menggeleng dengan wajah penuh air mata yang tak mampu lagi kubendung. Pertahananku bobol manakala menyaksikan jasadmu memasuki liang lahat. Aku sendiri berusaha meredakan hatiku yang seketika jadi berguncang. Tapi aku tak kuat, Lik. Aku tak kuasa protes. Tangan Tuhan telah menggariskan jadi lain. Dan kemarin, kecelakaan maut itu telah menenggelamkan semuanya, sekaligus merenggutmu dariku. Mandalikaaaaaa….!!

 

Kopang, 5 Februari 2019



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan