logoblog

Cari

Refleksi Akhir Tahun "Opening The Door Of Your Heart"

Refleksi Akhir Tahun

Sebagai kepala daerah banyak kebijakan yang harus dipilih selaras dengan kepentingan untuk menjalankan roda pemerintahan, termasuk memilih kepala Organisasi Perangkat Daerah

Cerita Inspirasi

Suparman
Oleh Suparman
29 Desember, 2018 19:08:52
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 2839 Kali

Sebagai kepala daerah banyak kebijakan yang harus dipilih selaras dengan kepentingan untuk menjalankan roda pemerintahan, termasuk memilih kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada masa kepemimpinan, Dr. Zulkieflimansyah dan Hj. Sitti Rohmi Djalilah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2018-2023.

Hadir dalam acara ramah tamah sebagai refleksi akhir tahun 2018 di halaman kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB, Mataram (29/12). Dr. Zulkieflimansyah memberikan refleksi dengan menceritakan sebuah kisah yang sangat menarik,  cerita ini dikutib dari karangan Ajahn Brahm "Opening The Door Of Your Heart" seorang Biksu  berkebangsaan Inggris.

"Cerita ini memberi kesan yang dalam untuk menyongsong tahun depan dan mewujudkan NTB Gemilang yang kita cita-citakan," ungkap Dr. Zul dalam sambutannya.

Dikisahkan ada enam orang Biksu dari negeri gajah (Thailand) yang bertapa sembari mencari tempat-tempat yang dapat menghadirkan keheningan. Setelah lama mencari, akhirnya keenam orang biksu ini menemukan sebuah gua yang sangat terpencil dan nyaris tidak diketahui oleh orang lain.

Sehingga mereka mampu bersemedi, merenungi keheningan dengan kekhusukan yang luar biasa di dalam gua tersebut. Enam biksu ini dipimpin oleh salah seorang biksu kepala.

"Kira-kira seperti pejabat Eselon II kita ini lah," ungkap Gubernur dari Sumbawa itu dihiasa canda tawa dari pimpinan OPD yang hadir.

Keenam biksu ini memiliki watak dan karakter yang berbeda-beda. Biksu kedua; adalah saudara kandung biksu kepala. Biksu ketiga; sebagai sahabat karibnya biksu kepala. Sedangkan biksu keempat adalah sebagai musuhnya, apapun yang diinginkan oleh biksu kepala selalu diprotes dan selalu dilawan oleh biksu keempat ini. Biksu yang kelima; adalah biksu yang sudah tua, menunggu giliran untuk menghadap Maha Kuasa. Sedangkan biksu yang terakhir; sepertinya tidak ada gunanya buat biksu yang lain, ia hanya tidur-tiduran, bermalas-malasan saat biksu lain bersemedi dan menghafal ayat-ayat suci.

Sampai suatu ketika, sekelompok perampok datang dan menemukan gua yang indah tersebut. Akhirnya, sekelompok perampok itu tergoda hati mereka untuk menguasai gua itu, untuk mewujudkan keinginan itu para perampok harus membunuh semua biksu supaya tidak ada jejak yang ditinggalkan. 

Karena kepiawaian biksu kepala bernegosiasi, akhirnya kedua pihak itu bersepakat. Biarkan keenam biksu ini pergi meninggalkan gua dan mereka berjanji tidak akan menceritakan kepada siapa pun tentang keberadaan perampok dan gua itu. Namun, perampok tidak kala cerdiknya. Mereka mengizinkan biksu-biksu itu pergi tapi harus ada seorang biksu yang ditinggal, dengan alasan kalau terjadi apa-apa pada perampok dan masyarakat tahu keberadaan gua itu, maka biksu yang ditinggal akan dibunuh.

Biksu kepala dihadapkan oleh dua pilihan yang sangat berat. Kemudian biksu kepala meminta waktu dua jam untuk memikirkan jawaban itu "kira-kira siapa yang harus ditinggal," ungkap Gubernur bercerita.

 

Baca Juga :


Dua jam berlalu, kepala biksu dipaksa untuk memberikan jawaban segera. Setelah merenung panjang, akhirnya biksu kepala tidak mampu menjawab, siapa diantara bawahannya yang harus ditinggalkan? Apakah biksu yang dimusuhnya, biksu tua atau biksu yang tidak ada gunanya. Perampok pun terkejut disangka akan memilih salah seorang musuh kepala biksu itu.

Sebagai pimpinan biksu, ia tak mampu untuk memutuskan satu nama pun, karena rasa sayang dan cinta pada semua yang lain termasuk dirinya sama besarnya.

"Rasa cinta pada dirinya sendiri, pada saudaranya, musuhnya, yang sudah tua bahkan tidak berguna lagi sama besarnya. Sehingga ia tak mampu memutuskannya," cerita Bang Zul.

Diakhir menceritakan kisah inspiratif tersebut, gubernur menggambarkan bahwa cinta tanpa syarat merupakan tugas besar bagi umat manusia ke depan "kadang-kadang kita gampang tersinggung, marah dan sebagainya. Baru kita diuji kebesaran jiwa, kalau itu semua tidak mengurangi obyektivitas dan rasa cinta kepada saudara sesama kita," imbuhnya usai bercerita.

"Saya kira ke depan, apapun posisi kita. Ada yang jadi gubernur, kepala dinas, bupati dan wali kota kalau itu menjadi bekal di hati kita dalam memandang siapa saja. Maka hidup ini akan tenang, tentram dan jernih karena semua cinta mampu mengungguli hati dan jiwa dengan begitu besar. Sehingga apapun dikatakan pada orang karena cinta yang tanpa syarat, kita mampu menghadapi semua dengan senyuman begitu tulus," ungkap Dr. Zul tersenyum.

Diakhir sambutannya, selama tiga bulan mengemban amanah masyarakat NTB, Dr. Zul mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua dukungam masyarakat serta dapat bertemu sahabat-sahabat dengan beragam karakter bagaikan dalam kisah para biksu "Membuka Pintu Hati".

"Insa Allah, dengan cinta tanpa syarat, kerja sama di masa yang akan datang semakin lebih baik. Karena tantangan ke depan adalah semakin tinggi jabatannya, semakin banyak hartanya, semakin masyhur posisinya maka akan semakin sedikit kawan sejatinya," tuturnya. (Man)

 



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah. No HP 085337689025

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan