logoblog

Cari

Semangat Lego Membangun Budaya Literasi

Semangat Lego Membangun Budaya Literasi

Ditengah gempuran smartphone/gadget yang kian "menjajah" anak dan remaja, usaha membangun semangat literasi di masyarakat kian tak mudah. Gadget begitu kuat

Cerita Inspirasi

Niya Kaniya
Oleh Niya Kaniya
23 November, 2018 20:06:50
Cerita Inspirasi
Komentar: 1
Dibaca: 6834 Kali

Ditengah gempuran smartphone/gadget yang kian "menjajah" anak dan remaja, usaha membangun semangat literasi di masyarakat kian tak mudah. Gadget begitu kuat pesonanya hingga buku-buku bacaan pun tak laku untuk disentuh. Melihat kondisi itu, seorang pemuda kampung berjuang menumbuhkan minat baca pada anak-anak. Usaha untuk mendobrak keterbelakangan wilayah dan mengembalikan buku bacaan ketengah dunia anak. Maka dari itu,  pemuda yang saat ini sudah menetap di desanya membangun taman baca. Dengan adanya taman baca anak-anak dan masyarakat sekitar bisa menjadikan buku sebagai teman mereka.

Learning Center of Gonjong akrab

dipanggil LEGO.  Berdiri akhir tahun 2016, Ahyar Hambali mengajak pemuda kampung Gonjong berkumpul dan mulai membentuk kegiatan belajar dan mengajar yang dilakukan rutin setiap hari sabtu dan minggu. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun budaya literasi melalui kegiatan skala kampung dan sebagai wadah (paguyuban ) untuk memperkuat kesatuan dalam bermasyarakat. Literasi sebagai bekal menuju bangsa yang luhur dan berkarakter kuat untuk menghadapi dunia global. Lego mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi bersama membangun bangsa.  Selain itu, Ahyar berharap dengan adanya taman baca yang ia dirikan ini menjadi inspirasi bagi remaja,  pemuda,  terutama mahasiswa di desa untuk bisa berperan sebagai agen of change,  dengan cara transfer pengetahuan/ ilmunya melalui lego.  Menjaga interaksi  sosial anak-anak mulai dini,  mengingat gedget(andorid) saat ini sangat berpengaruh dan sedikit tidak, hal itulah yang banyak mengikis interaksi sosial anak-anak. Oleh sebab itu dengan adanya taman baca lego,  anak-anak lego kedepannya bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Pertama kali membentuk Lego tentu tidaklah mudah. Laki-laki yang gemar bermain sepak bola ini sedikit kesulitan menyamakan visi kepada pengelola / remaja yang akan membantu untuk mau membangun dan rela menyisihkan waktunya untuk menjadi mentor atau pengajar.  Mengingat peran orang tua sangatlah penting,  Ahyar mencoba mengajak dan memotivasi para orang tua untuk lebih memperhatikan anak-anaknya,  tidak hanya memberikannya perhatian melalui gedget (handphone).

"Tantangannya yaitu metode yang tepat  dalam mengajar dan mengelolanya. Dengan basic saya yang memang bukan jurusan pendidikan. Dan yang paling besar  tantangannya yaitu bagimana tetap mempertahankan agar gerakan ini berkelanjutan," ungkap Ayah dari satu orang anak ini.

Motivasi  lain Ahyar dalam membentuk lego tidak lain karena merasa kampungnya selalu dikucilkan dan dinilai sangat kolot.  Dengan adanya lego Ahyar sedikit tidak mampu mengubah image  kampungnya sendiri. Dirinya ingin membuktikan jika remaja atau pemuda di kampungnya itu bisa.  Selain itu juga,  Ahyar merasa jika beberapa metode  orang tua terdahulu dalam membentuk mental anak-anaknya dirasa kurang. Misalnya ketika bersosial di luar orang-orang terdekatnya mereka justru tidak pede atau bahkan minder.

"Itu saya rasakan  dari pengalaman pribadi saya.  Atau kekurangan yang saya rasakan pada diri saya  setelah secara tidak langsung belajar dan riset dari  interaksi sosial saya dengan orang di luar sana," ungkap Ahyar. Menurut Ahyar salah satu yang menghambat ekspresi dan kreativitas  itu disebabkan  karena kurangnya rasa percaya diri.

Meski fasilitas di lego masih sangat kurang dengan keterbatasan prasarana  yang jauh dari kata memadai, lego yang sempat vakum akibat kesibukan para mentor yang saat itu masih menjadi mahasiswa,  sedangkan dirinya yang sebagai pendiri sekaligus ketua dari Lego sendiri sempat balik ke Jogja beberapa bulan,  kini mampu ia bangkitkan lagi, sabtu, 15 September 2018. Apalagi  dengan melihat semangat anak-anak lego yang selalu datang meski musim hujan tiba membuat S1 lulusan ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini semakin semangat membangkitkan Lego dengan inovasi yang baru. Kelas Lego sendiri dibagi menjadi dua yaitu kelas bahasa inggris di hari sabtu dan kelas inspirasi (kerajinan dan menulis) di hari minggu. Mengingat bahasa inggris saat ini sudah menjadi bahasa asia maka dari itu Ahyar ingin melihat anak-anak lego bisa menguasainya. Kelas bahasa inggris sendiri di isi oleh beberapa mentor yang sudah lama ikut tergabung di dalam lego (Ayu dan Feni). Begitu juga dengan kelas inspirasi yang bertujuan untuk anak-anak lego lebih kreatif lagi,  misalnya mengubah sampah terlihat lebih berharga dengan membuat suatu kerajinan berbahan dasar sampah. Selain itu, dalam kelas inpirasi juga mereka bisa sharing dengan kemampuan menulis yang terpendam. Sedikit tidak mereka bisa  membuat sejarah dalam hidup mereka melalui tulisannya. Dan untuk kelas inspirasi diisi oleh dua orang yang baru bergabung (Novi dan Niya). Untuk tutor memang tidak hanya berasal dari remaja/pemuda sekitar melainkan ada beberapa yang dari luar kampung /desa. Mereka dengan semangat demi memajukan pendidikan generasi penerus, datang dengan ikhlas berbagi ilmu meski mereka tidak dibayar.

Selain Ahyar berhasil mendirikan taman baca lego,  masih ada satu keinginan yang dari dulu Ahyar impikan,  yaitu mempunyai perpustakaan atas nama lego. Dimana dengan adanya perpustakaan baik anak-anak dan masyarakat di sekitar bisa mengakses dan secara tidak langsung berinteraksi dengan dunia. Membeli dan mengoleksi buku adalah cara untuk Ahyar sedikit demi sedikit mewujudkan mimpinya.  Keterbatasan akibat kurangnya bahan bacaan untuk anak-anak  itulah membuat Ahyar dan para tutor lainnya mulai membuat proposal meminta bantuan donatur buku.  Berharap sebagian dari mereka mau menyumbangkan bukunya. 

 

Baca Juga :


"Bagi kami dengan melihat buku saja sama halnya kita mengintip jendela dunia,  jadi jika semua orang mulai membaca berarti mereka berkesempatan untuk membuka jendela dunia, " ungkap salah satu tutor lego.

Harapan Ahyar sebagai ketua dari taman baca Lego ini  semoga bisa menjadi  rumah bagi generasi  berikutnya. Rumah inspirasi dan berharap lego akan terus berjalan dan berkembang sehingga banyak mengisnpirasi orang banyak di luar sana.

"Untuk para tutor juga sebagai ruang transfer knowledge untuk adik-adiknya dan teman-teman  yang lain. Tutornya saya harapkan  juga bisa menginspirasi orang lain," ujar Ahyar mengakhiri perbincangan.

Semoga niat baik dan harapan Ahyar dalam memperbaiki pendidikan untuk generasi penerus bangsa di permudah dan Lego tetap ada sehingga akan banyak orang yang menginspirasi orang lain. Serta perpustakaan yang belum terwujud karena kurangnya fasilitas prasarana segera mendapatkan jawaban. (NK)

 

 

 



 
Niya Kaniya

Niya Kaniya

Menulislah selagi kamu mampu untuk menulis, tuangkan idemu ke dalam ceritamu sendiri, sehingga dunia mengenal siapa kamu

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. Pangkat Ali

    Pangkat Ali

    08 Juni, 2019

    Adek Niya Kaniya.....Ayo terus bangkit menulis...Di Kopang banyak sekali sumber inspirasi bahan tulisan....ayo datang ke tempat saya kita saling share info terkait tulisan.....saya L.Pangklat Ali, tinggal di Batako, Lauk Rurung I, Kopang (500 m. ke Selatan SPBU)...


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan