logoblog

Cari

Catatan 7,0 Sr

Catatan 7,0 Sr

CATATAN 7,0 SR   Minggu malam setelah azan isya terdengar, semua masih berjalan normal dan baik-baik saja. Bapak sedang mengambil wudhu,

Cerita Inspirasi

Catatan 7,0 Sr


pariz21
Oleh pariz21
22 November, 2018 23:27:30
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 2448 Kali

CATATAN 7,0 SR

Minggu malam setelah azan isya terdengar, semua masih berjalan normal dan baik-baik saja. Bapak sedang mengambil wudhu, dan ibu masih sholat rakaat kedua waktu itu. Dan aku sedang tiduran sejenak sambil memegang handphone yang sedang di isi daya baterainya.

Angin masuk ke ruang tengah, handphone masih di tangan. Dan hal mengerikan itu terjadi. Ruangan tiba-tiba bergetar, sontak aku langsung terbangun sambil berkata “ibu gempa”. Kemudian lekas membuka pintu berlari keluar. Listrik padam seketika. Tanah bergetar makin keras, mengangkat tubuhku yang mulai ketakutan dan lemas. Keadaan mulai gelap, sunyi dan mengerikan. Tanah terus mengobrak-abrik tubuhku, suara bangunan ambruk terdengar, debu berterbangan, bau ketakutan kian tercium. Ku terdiam sesaat. Teriakan ibu terdengar, ternyata ibu berlari ke arah kanan beberapa meter dariku. Setengah berlari aku hampiri beliau. Ibu terlihat terduduk lemas, lalu ku bangunkan beliau bersamaan dengan bapak yang datang. Ku rangkul ibu, kemudian kami melangkah ke tempat yang lebih lapang. Suara jeritan melambung ke udara, terdengar dari arah kejauhan. Ibu-ibu berteriak menangis memanggil anaknya, bapak-bapak bertakbir, anak-anak menangis. Suasana sangat mencekam. Ibuku gemetar, badannya lemas. Aku ibu dan bapak saling berpelukan melindungi.

Teringat kakak dan istri, begitu juga Najwa keponakanku

“Bagaimana keadaan mereka?” kata ibu sambil menangis dan mengenggam tanganku semakin erat.

Bapak kemudian berlari ke rumah kakak yang  jaraknya 100 meter dari rumah. Pelukan kian erat ke ibu, seraya menenangkan beliau. Tak berselang lama bapak kembali, bersyukur kakak dan keluarga baik-baik saja.

Aku mendekat pelan ke arah rumah, melihat motor terjatuh di garasi, kemudian membangunkan dan menghidupkannya. Pandangan langsung tertuju pada rumah yang sudah tak layak di sebut rumah lagi, tempat aku pulang, tempat makan malam bersama keluarga dengan candaan kecil, tempat aku menangis waktu kecil dulu, tempat jejak-jejak kisah keluarga kecil ku. Kini hilang dalam beberapa detik saja.  Di saat bersamaan beberapa sepeda motor melaju ke arah timur.

Lalu terdengar teriakan “air laut naik”

Ibu makin panik, ku belokkan motor. Bergegas membonceng ibu dan bapak. “kita mau ke mana?” kata ibu lirih. Di jalanan orang-orang berlarian menggendong bayi dan anaknya, terlihat pemuda yang ku kenal sedang berlari sambil membopong neneknya. Kami menuju bukit, warga setengah berlari dengan peci di kepala dan masih menggunakan mukenah serta sarungnya menuju ketinggian. Kami tiba di rumah terakhir di bawah bukit.

 “cari kakakmu” kata bapak berpesan.

 Ibu dan bapak terus berjalan mengikuti rombongan menuju bukit. Langsung ku belokkan sepeda motor dan bergegas mencari kakak di rumahnya. Setibanya di sana kakakku datang di saat yang bersamaan.

“tunggu sebentar, aku ambil selimut” kata kakak.

 Ku terdiam, gempa kembali terjadi. Kakak berlari keluar rumah.

“ini kasih ibu selimut, saya dan keluarga ada di bukit sebelah” kata kakak dengan mata setengah berair. Para warga sudah memenuhi bukit, ku mencari letak ibu dan bapak. Mereka sudah berada di bawah pohon jambu mente.

“hubungi yudi” kata ibuku

Yudi adalah kakak ku yang kedua, dan saat itu kebetulan sedang berada di Mataram. Handphone kami bertiga masih di reruntuhan, beruntung ada HP sepupu dri ibu ku di sana. Langsung ku hubungi kak Yudi tapi tidak bisa, berulang kali ku coba tetap saja tidak bisa. Perasaan makin cemas dan ketakutan. Lalu ku kirim pesan.

“kami selamat, dan sedang berada di bukit”

Jam 10 malam aku turun dari bukit dengan meminjam senter dari tetangga. Di rumah warga, di bawah bukit, kak Yudi datang.

 

Baca Juga :


“ibu dan bapak sudah di atas” kata ku kepada kak Yudi

Kami bergegas ke atas bukit, memberitahukan bahwa info tsunami sudah dicabut. Namun warga sangat ketakutan,

“kalaupun kami turun, kami mau tidur di mana? Rumah sudah tidak ada lagi, ambruk rata dengan tanah.” Kata salah satu warga sambil memeluk istri dan anaknya.

Kemudian aku dan kak Yudi memutuskan untuk turun mengevakuasi korban.

******

Dua bulan sejak gempa pertama tanggal 29 juli 2018 dan gempa 7,0 SR tanggal 05 agustus 2018, Imran teman kuliahku sedang berada di atas gedung memasang antena radio HT PMI, Saori teman kuliah dan sering satu kelas sedang memasak untuk di distribusikan nantinya untuk beberapa dusun di posko pengungsian. Bang hendra sedang berkeliling mencari berita menarik, untuk di laporkan di PMI. Adelia temanku wanita tangguh dari desa Jeringo, kaki gunung rinjani rela tidak pulang demi membantu korban gempa, padahal dia termasuk korban juga. Dan masih banyak lagi orang hebat yang berjuang membangun kembali Lombok. Membuat Lombok bangkit, baik bangkit dari kesedihan maupun bangkit untuk segara melanjutkan hidup mereka, mengejar mimpi-mimpi mereka yang masih dalam benak walaupun sempat jeda sesaat.

Di luar sana beberapa oknum sedang berdemo di depan kantor Bupati Lombok utara, menagih janji-janji yang pernah di sampaikan pemerintah. Mulai menyalahkan semua. “kami sudah tidak sabar” ujarnya. “kami ingin uang 50 juta, 25 juta dan 15 juta itu segera di berikan ke masyarakat” teriak pimpinan demo makin lantang. Sementara di saat bersamaan seorang anak petani, sedang berkeringat menjadi relawan. Melakukan apa yang bisa di bantu, menolong atas dasar kemanusian. Bukan sekedar atas nama partai atau bergaya di sosmed. Seorang kepala dusun pernah berkata “kita memang sedang kesulitan, kita memang butuh rumah itu segara. Tetapi gempa ini kan bukan pemerintah yang buat, mereka sudah bekerja sekuatnya. Yang kami bisa lakukan, yaaa...cepat bangkit dan bersabar. Ini merupakan ujian dan teguran buat kita semua.” Ungkapan salah satu Kadus tersebut.

Sementara di lain tempat kak Yudi terus mendristibusikan bantuan, menyalurkan amanah dari Gerakan Berbagi 50 bungkus nasi setiap  jumat bersama teman-teman yang lain. Dan aku sedang berkunjung ke rumah IREN di dusun Telaga Maluku desa Rempek kecamatan Gangga KLU., seorang anak 2,5 tahun yang hebat. Wajahnya manis layaknya mentari di pagi hari. IREN adalah anak penuh semngat dan tawa. Bapaknya meninggal sebelum gempa, kakaknya yang duduk di bangku sekolah dasar dan ibu yang hebat berpulang ketika malam itu. Dia memang yatim piatu tapi kamu tidak sendiri masih ada kami yang akan terus merangkulmu, yang akan terus bersamamu, menemanimu, semoga kamu tetap semangat dan selalu menebar senyum ke sekitarmu IREN.

*******

Di balik kisah itu semua, di balik kisah haru, tangis dan kesedihan yang kita alami. Di balik itu semua kita harus tetap mengejar mimpi-mimpi kita. Merangkul semua orang-orang itu. Saling membantu ke sesama. Menebar senyum selalu.

Karena “saat engkau terlelap tidur. Boleh jadi pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa yang mmemohon kebaikan untukmu.[doa itu datang] dari si fakir yang pernah engkau tolong. Dari orang yang lapar yang pernah engkau beri makan. Dari orang sedih yang pernah engkau bahagiakan. Dari orang yang pernah berpapasan denganmu dan kau beri senyuman untuknya atau dari orang yang dihimpit kesulitan yang telah engkau lapangkan. Maka jangan pernah remehkan kebaikan sekecil apapun itu”.

#LombaNTBkita  #RelawanKita

 

 

 

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan