logoblog

Cari

Tutup Iklan

Rindu Terhalang Dinding

Rindu Terhalang Dinding

Di dinding kamar ini, ada sosok yg sangat kami rindukan. Kami tahu bahwa rindunya melebihi rindu-rindu kami. Meskipun tempat ini sangat

Cerita Inspirasi

Suparman
Oleh Suparman
09 November, 2018 16:55:12
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 442 Kali

Di dinding kamar ini, ada sosok yg sangat kami rindukan. Kami tahu bahwa rindunya melebihi rindu-rindu kami. Meskipun tempat ini sangat asing baginya, tapi yakinlah melalui proses ini dapat meringankan beban dalam pikirannya. Sebagai seorang anak, doa terus dipanjatkan dalam sujud, rukuk, terbaring hingga di setiap tetes air mata mengalir memanggil namamu yang sedang dalam kesendirian. Bermunajat kepada Allah semoga cepat kembali bertatap muka denganya dalam keadaan seperti sedia kala.

Jam menunjukan pukul 15:35 WIB saya bergegas pulang ke kos, walaupun jam pulang kantor masih 25 menit lagi. Sebab, wajahnya terus menumbuhkan rindu yang amat kuat dalam sanubari darah dagingnya ini, sangat terpukul jika rindu ini tak menemuinya.

Saya pun berangkat bersama ayah, sebagai oleh-oleh untuk ia yg dirindukan, kami membeli beberapa Kg buah segar untuknya yg di sana. Saat memasuki gerbang rumah sakit, rindu terasa senang dalam hati karena yg dirindu segera berjumpa. Sebelumnya, pihak rumah sakit menghimbau untuk tidak bertemu selama lima hari, karena kemarin adalah hari pertama ia masuk. Tapi apa daya rindu seorang anak pada ibunya tak terbendung lagi. 

Akhirnya kami pun tiba di depan lobi ruangan perawat, mencoba melihat ke arah gerbang kamar-kamar itu. Ternyata sosok yang dirindukan belum juga nampak "mungkin masih dalam kamarnya," bisik ku dalam hati. 

Sedangkan Ayah masih menunggu di pintu utama lobi. Kemudian Saya memutuskan untuk berbincang dengan salah seorang perawat, sekedar menanyakan keadaanya, apakah ia sudah makan, apakah ia sudah sholat dan lain sebagainya. 

Saat percakapan sedang berlangsung, tiba-tiba sosok itu muncul dibalik gerbang kamar-kamar itu. 

Yaaaaa Allah Tuhan semesta Alam. Betapa terpukulnya hati ini melihat sang Ibu termenung dengan sedikit kebingungan, terdiam menatap sepi tanpa kata-kata menyandarkan tubuh dibalik gerbang itu "kapan anak ku datang menjengukku. Kenapa saya ditinggalin di tempat asing seperti ini." Mungkin itu kata-kata yang berontak dalam hatimu ibu. 

Saya bersembunyi dibalik meja lobi. Air mata begitu deras membasahi pipi ingin ku teriak sekencang-kencangnya bahwa saya tidak kuat melihat semua ini gk tega, gak tega, gk tega, gk tega yaa Allah. Tidak rela melihat malaikat ku kebingungan didepan mataku.

Cukup saya yg melihatmu ibu, walaupun rindu ingin bertemu tak terbendung lagi yang nampak diwajahmu ibu. Saya terus melihatmu dibalik meja di depanmu. Ingin ku sapa dirimu tapi terus diingatkan oleh perawat untuk saat ini jangan dulu. Mata tak mampu lagi menahan air yang terus menetes, begitu berat rasanya yaa Tuhan.

Sedangkan ibu masih setia dibalik gerbang itu. Berharap ada yang datang menemuinya. Anakmu ada dibalik meja terus memandangmu ibu, anakmu tahu bahwa kehadiranku dapat ibu rasakan meski ibu tak dapat melihat wajahku. Jarum jam terus berputar tangisanku hampir pecah dalam ruangan. Tapi ku coba untuk menguatkan hati dan berusaha tegar menghadapinya entah sampai kapan hati ini menahan semuanya.

Hati kembali terpukul saat melihat ibu duduk di lantai sambil menatap ke arah pintu utama, masih berharap anaknya datang menemuinya tanpa kata-kata terucap dari bibir yang sangat merindukan anak-anaknya. Sedangkan saya masih tersedu-tersedu dibalik meja. Sungguh berdosa membiarkan ibu terkurung dalam kerinduan.

 

Baca Juga :


Tak ada yang kunjung datang, akhirnya ibu kembali dalam kamar dengan langkah kecil-kecilan. Yaaa Allah benar-benar merasa terpukul, diri ini tak memiliki energi, tak berdaya melihat sang ibu dibalik gerbang. Hanya dipenuhi dosa-dosa menyelimuti diri ini. Jika ini dosa kepada ibu, hamba mohon ampunanMu yaaa Allah.

Kami hanya bertawakal  kepadaMu Allah dan pihak rumah sakit yang menanganinya. Tanpa ibu tahu kehadiran ananknya tapi saya yakin batinnya merasakan itu. Akhirnya saya memutuskan untuk menitip buah-buahan yg kami beli kepada perawat tersebut.

Saya pun melangkah keluar dari ruangan yang membatasi kerinduan itu. Dari luar, saya menatap kembali ruangan itu dimana ibu ditempatkan. Suami dan anakmu sangat merindukanmu semoga ibu cepat kembali berkumpul di rumah.

Langkah kami semakin menjauh dari ibu, sedangkan air mata keluar tanpa disadari. Aku meminta pada sang ayah untuk istrahat sejenak dihalaman depan rumah sakit. Sembari menunggu waktu magrib, saya menghubungi orang-orang di kampung dan ku ceritakan semua  keadaan tentang ibu. Tanpa disadari mereka pun menangis meratapi tak tega mendengarnya, suasanapun kembali terharu dengan tangisan2 itu. Yaaa Allah  ujianMu begitu berat meskipum kami mampu melewatinya. 

Ibu maafkan anakmu yang telah berbohong,  saya telah berjanji bahwa kedatangan ibu di Mataram hanya untuk jalan-jalan dan Ibu begitu gembira mendengar ajakan itu, kalau bukan dengan alasan itu pasti ibu tidak mau berobat di Mataram. Maaf anakmu yang telah membuat alasan palsu. Saya lakukan ini untuk kebaikan ibu pula. Karena begitu besar sayang kami padam ibu.

Ibu, tetap sabar yaaa. Ini adalah proses pengobatan yang harus ibu lewati meskipun yang di rumah sangat rindu denganmu. Dan ibu begitu merindukan kami. Kami yakin ini adalah ujian dari Allah dan ini pasti akan berakhir.

We Love You Mom. (Man)

 



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah. No HP 085337689025

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan