logoblog

Cari

Tutup Iklan

Berapa Harga Kapuk Randu....?

Berapa Harga Kapuk Randu....?

Berapa Harga Kapuk Randu...?. Itulah pertanyaanku di sela sela perbincanganku dengan seorang petani atas nama AMAQ SANAAH (50). beliau merupakan tetanggaku

Cerita Inspirasi

SATARIYA MADAYIN
Oleh SATARIYA MADAYIN
19 Oktober, 2018 14:44:38
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 901 Kali

Berapa Harga Kapuk Randu...?. Itulah pertanyaanku di sela sela perbincanganku dengan seorang petani atas nama AMAQ SANAAH (50). beliau merupakan tetanggaku yang kesehariaanya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Suatu ketika aku menemuinya, bersama isterinya (45) dan ditemani seorang cucunya (5), aku melihat mereka tengah sibuk mengupas dan membersihkan kapuk randu. Nampak riang raut wajahnya menyambut kedatanganku dengan suara yang begitu mengharukan bagiku. "Inilah pekerjaan kami sekarang nak...! Mari duduk....! Sambutnya sambil mengusap/sedikit membersihkan terpal tempat duduk...!

Dengan senang aku pun menyapa, "Wah.... Banyak sekali kapuk ini pak...! Di kebun Bapak, pohonnya Banyak ya...?

Dengan bangga beliau menjawab, "Ia, di kebun kami punya banyak pohonnya, ada yang belum di panen, ada juga di pondok yang sudah di karungkan tapi belum di bawa pulang. Saya nunggu adikmu nanti yang bawa pulang pake motor..." Jelasnya di tengah kesibukan...

Enak dong kalo di jual kan dapat beli beras kita...! Tegasku sambil menghampirinya dan memandangi puluha karung Kapuk Randu yang ampas kulit dan jantungnya berserakat.

Aku pikir beliau akan menjawap dengan bangga, namun ternyata, jawabannya membuatku begitu sesak. Seketika aku teringat kedua orang tuaku. Terlihat raut wajahnya yang seolah-olah terpuruk menderita, Beliau merunduk "Ia nak, andai saja harganya lebih mahal, seharga Rp. 10.000,- saja/Kg... mungkin kita bisa beli beras lebih banyak, tapi kata orang, harganya hanya Rp. 4.000,-/Kg. Ya... daripada mubazir, lagian juga sudah lama sampai hari ini belum ada orang tempat kami berburuh yang menghasilkan uang. Inilah satu-satunya hasil kebun yang mungkin bisa kami jual." Jelasnya sambil meraih satu per satu kapuk yang menumpuk di sekelilingnya."

"Em.... saya pikir mahal Pak... Ini kan banya sekali jadi ukuran satu kilo..." Jawabku dengan heran. Aku teringan kehidupan kami, semasa aku kecil dulu. Aku merasa seolah-olah beliau sedang mengadu, mengharap agar ada lowongan kerja berburuh untuk petani seperti beliau. Hingga ia bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Dibalik canda tawa mereka, seda gurau mereka, yang aku dengar dari rumahku, ternyata terpendam perasaan sensara, sama seperti kami.

Andai hidup ini seperti dalam mimpi indahku
mungki takkan lagi terlihat keringat itu
keringat yang mengalir deras

Mungkin keringatmu begitu licin bagimu
tapi pandangilah mereka
lihatlah, betapa mereka menyanjungmu disaat engkau menghampirinya.
Mulai saat itu mereka percaya bahwa apa yang kau ucapkkan itu benar
Tapi, tahukah engka...? Bahwa Apa yang kau ucapkan itu begitu menyakitkan

Saat engkau mengatakan tidak, engkau telah meninggalkan mereka
Saat engkau mengatakan Ia, engkau tak mampu mengubah segalanya

Saat engkau di tanya, engkau menjawap nanti saya sampaikan kepada mereka
Saat mereka datang mereka mengatakan bahwa itu keinginanmu

Lalu siapakah engkau....? siapakah mereka...? Saiapakah kalian....?
Bukankah engkau dari kami juga...? Bukankah engkau oleh kami juga...? Bukankah engkau untuk kami juga...?

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan