logoblog

Cari

Tutup Iklan

Masih Manis Pasca Gempa

Masih Manis Pasca Gempa

Tiga kali gempa besar tidak hanya memporak-porandakan sebagian besar bangunan di separuh lebih wilayah Lombok. Banyak mata pencarian masyarakat juga ikut

Cerita Inspirasi

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
15 Agustus, 2018 09:26:28
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 3689 Kali

Tiga kali gempa besar tidak hanya memporak-porandakan sebagian besar bangunan di separuh lebih wilayah Lombok. Banyak mata pencarian masyarakat juga ikut diporak-porandakan oleh gempa yang konon disebut-sebut sebagai Bencana Anomali oleh BMKG Indonesia. 

Khususnya di Dusun Orong Desa Batu Layar Lombok Barat. Mayoritas penduduk di desa yang 60% bangunannya dinyatakan rusak berat oleh Diskominfotik NTB tersebut menggantungkan nasib pada bidang pariwisata. Ada yang berprofesi sebagai pengerajin asesoris, pemandu wisata, ataupun penjual oleh-oleh khas lombok yang dijajakan di pantai-pantai sepanjang jalur Senggigi. Kini mayoritas pendudukan tersebut tak lagi mampu melakukan aktifitas perekonomian tersebut.

Namun, di tengah-tengah kekacauan mata pencarian di bidang pariwisata yang terasa pahit tersebut. Ada satu mata pencarian yang manisnya masih tetap dapat dirasakan di oleh warga Dusun Orong. Mata pencarian tersebut adalah Pembuat Gula Aren yang telah turun temurun dilakukan.

Salah satu Pembuat Gula Aren yang berhasil ditemui oleh Tim Media adalah bapak Mahsin (45). Untuk mencapai tempat tinggal dari bapak dua anak ini harus berjalan kaki menanjak sekitar 2 km ke atas bukit. Rumahnya menjadi salah satu yang selamat dari amukan gempa dikarenakan masih menggunakan anyaman bambu, rumah khas para leluhur Lombok.

Profesi sebagai pembuat gula aren adalah profesi turun temurun di keluarga Pak Mahsin. Selain itu, juga merupakan mata pencarian satu-satunya. Pak Mahsin menuturkan tiga kali gempa kemarin tidak menghentikannya dalam membuat gula aren.

 

Baca Juga :


"Tidak mengganggu produksi gula aren kita. Pohonnya masih menghasilkan air nira seperti sebelum-sebelumnya walaupun lebih sedikit. Setiap hari kita masih tetap mencari air nira dan memproduksinya," cerita Pak Mahsin menggunakan bahasa sasak yang kental.

Air nira yang berhasil dikumpulkan oleh Pak Mahsin akan didiamkan selama tiga sampai empat hari hingga wajan besar yang digunakan untuk memasak terisi penuh. Air nira tersebut kemudian dimasak hingga menjadi gula aren. Pak Mahsin bisa menghasilkan gula aren 7-8 tangkup per tiga atau empat hari. Gula aren tersebut dijual dengan kisaran harga 15 hingga 20 ribu pertangkup tergantung ukuran.

Dengan mengandalkan mata pencariannya tersebut Pak Mahsin menghidupi isteri dan kedua anaknya yang kini masih duduk di bangku sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Pak Mahsin berharap bencana gempa yang merenggut sebagian besar mata pencarian temena-temannya yang lain dapat segera berakhir dan perekonomian warga di Dusun Orong dapat berjalan normal seperti sedia kala. (novita-tim media)



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan