logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ada Ceria di Pengungsian

Ada Ceria di Pengungsian

Tawa canda dan keriangan pecah dipagi hari ini. Mengusik rasa penasaran saat istrahat di mobil plat merah yang dipakai untuk tidur

Cerita Inspirasi

EDY IRFAN
Oleh EDY IRFAN
12 Agustus, 2018 15:58:15
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 6783 Kali

Tawa canda dan keriangan pecah dipagi hari ini. Mengusik rasa penasaran saat istrahat di mobil yang dipakai untuk tidur malam.  Bersama 3 orang rekan Tim Media Diskominfotik NTB usai sholat Shubuh, berjalan berkeliling ditengah para pengungsi Gempa Bumi Lombok. Kekuatan Gempa kali ini, Minggu (5/8) menelan korban jiwa dan kerugiam material di Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan kerusakan di Pulau Lombok umumnya.

Semangat untuk membantu saudara-saudara di Pos Komando (Posko) pengungsian menghantarkan Tim Media ke Lapangan Tanjung KLU. Tugas untuk memberikan kabar dan menghimpun informasi akurat terhadap dampak Gempa Lombok tentunya harus punya fisik dan mental kuat di tengah guncangan gempa susulan berskala kecil dan panas serta minimnya fasilitas di tempat tugas.

Berada ditengah Pos Pengungsian tentunya hal yang tak menyenangkan. Namun ada keasikan dan rasa yang menyatu dengan penderitaan mereka tinggal ditenda dengan keterbatasan menjalani hari seperti yang mereka lalui sebelumnya.

Cuaca pagi yang dingin,tidak menghalangi para pengungsi  untuk beraktifitas.  Sebagian masyarakat pengungsi yang dekat dengan Posko masih sempat untuk kembali ke rumah mereka. Sekadar untuk melihat atau membersihkan reruntuhan yang terkena guncangan gempa.

Suara bocah-bocah ditengan pengungsian menenangkan hati para orang tua. Kehawatiran akan rasa takut dan gempa saat dirumah sudah mulai dilupakan oleh anak-anak ini. Ditengan pengungsian orang tua tidak melupakan pendidikan anak-anaknya. Anak-anak masa depan bangsa ini. Dari anak-anak ini diletakan cita-cita dan perjuangan bangsa ini. Semangat anak-anak korban gempa bumi di KLU untuk menempu pendidikan cukup tinggi.

Mengembalikan trauma dan ketakutan orang tua serta anak-anak, TNI bekerjasama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Universitas Mataram, dan relawan melakukan penanganan pertama secara psikologi. Penanganan ini dapat memberikan kepercayaan diri terhadap anak-anak yang terkena gempa. Sehingga perasaan terhibur dan melupakan trauma gempa bangit dari diri anak-anak.

Salah satu ahli Psikologi dari TNI, Mayorkes. Muflih Dahlan, S. Psi dan Yudha R. menjelaskan saat ditemui di tenda Sekolah Gembiraku bersama wajah lugu para bocah ini, menceritakan bahwa, Pertolongan Secara Psikologi merupakan tindakan untuk pertolongan pertama kepada korban    bencana alam yang membutuhkan dukungan guna meningkatkan kepercayaan diri dan terus bertahan hidup,” itu teorinya pak, jelasnya.

Kalau istilah dalam ilmu Psikologi itu, “ Ada yang namanya Resiliensi atau kemampuan korban atau masyarakat  untuk dapat kembali ke kondisi semula setelah mengalami situasi yang  trauma,   situasi yang tidak nyaman akibat gempa atau bencana mas," katanya ditengah gemuruh anak-anak.

Dukungan yang  dilakukan adalah Membantu memberikan bantuan dan dukungan psikologis, membantu akses permintaan kebutuhan,  mendampingi agar  korban    dapat lebih tenang, membantu korban  mendapatkan informasi yang  benar, memberikan rasa   aman, membangun pengharapan, membangun emosi positif, menemukan kebermaknaan pada  masing-masing individu atau kelompok.

“Makanya di Posko ini kami membuka Pusat Pemulihan Trauma (Trauma Healing Center) Psikologi TNI dam Sekolah Gembiraku. Bisa untuk anak-anak atau orang dewasa, namun untuk orang dewasa belum ada, tapi kalau Sekolah Gembiraku senang anak-anak bermain bersama kami,” ungkapnya.

Bukan hanya Mayorkes. Muflih Dahlan, S. Psi, yang membantu anak-anak ini untuk mendapatkan kepercayaan diri dan rasa cerianya. Di  Sekolah Gembiraku ternyata puluhan relawan dari NTB bahkan luar NTB mendonasikan kemampuan dan tenaga mereka bercengkrama dengan anak-anak ditengan gempa susulan yang terus bergetar.

Disamping Sekolah Gembiraku dan Pusat Pemulihan Trauma (Trauma Healing Center) Psikologi TNI, Kementerian Sosial Republik Indonesia  juga membuka layanan dukungan psikososial untuk anak-anak dan orang tua yang terkena dampak gempa. Terapi dan metode dalam pendampingannyapun dilakukan oleh teman-teman relawan dan petugas dari lembaga tersebut.

Saat diwawancarai, salahsatu relawan pendidikan dari Baraka Nusantara dan Komunitas Pendaki Gunung (KPG) Nunung, bersama dengan teman-teman relawan lainnya berada di pengungsian sejak hari ke 3 gempa bumi Lombok. “Kebersamaan kami dengan anak-anak dipengungsian hal sangat mengembirakan. Kami senag sekali rasa percaya diri dan trauma takut gempa itu hilang dalam benak anak-anak ini,” ungkap nunung sambil tetap mengajar anak-anak.

Rasa takut akan gempa sudah hilang dari ingatan anak-anak ini. Mereka berlari-lari, bernyanyi, melempar bola, bermain bola di sekitaran Sekolah Gembiraku. Umur 2 tahun hingga 12 atau 13 tahun berbaur di kerumunan anak-anak yang berasal dari 5 kecamatan yaitu Tanjung, Kayangan, Bayan, Gangga dan Pemenang.

Siswa Kelas IV SDN Sukadana, Yuliana merasa gembira bisa bertemu kembali dengan teman-teman sekolahnya di posko pengungsian. Tertawa lepas dan berteriak bersama seakan upaya yang dilakukan oleh ahli psikologi dan relawan ini berhasil. “Yuliana kalau ada gempa gimana, gak takut, paling getar-getar aja, nanti berhenti kok, saya mau kembali ke sekolah dan bermain seperti disini,” cerita bocah perempuan polos ini.

 

Baca Juga :


Matahari mulai beranjak di atas kepala, panas dan debu bercampur. Semangat anak-anak untuk terus bermain terus tanpa rasa lelah. Anak lelaki lebih suka bermain bola dan kejar-kejaran. Diki Sihendra kelas III SDN 2 Tanjung saat didekati untuk diajak berkenalan tersenyum disoraki temannya. “Diki suka bermain disini, iya saya suka om,  gak takut gempa ya, tidak om kita tidur disini enak bisa bermain sepuasnya dan banyak mainan,” dengan lugu dan terbata-bata karena malu diki ditanyakan tentang persaannya.

Siang itu, beberapa Ibu-Ibu Persit dari TK Kartika udayana berpartisipasi bermain bersama anak-anak. Ibu Mila dan Metri misalnya duduk dan bercerita bersama anak-anak pengungsi. Mengajari anak-anak mengambar dan mempersentasikan tentang hasil gambar kepada anak-anak. “Kebetulan nanti Ibu Danrem A. Rizal datang untuk bermain bersama anak, kami sudah punya jadwal untuk berkunjung ke Sekolah Gembiraku,” jelas kedua Istri tentara di Korem ini.

“Yel-yel terdengar meriah ketika ketika para relawan bersama aparat TNI menyerukan, apa kabar adik-adik? baik, baik, baik, yes,yes,yes, Semangat… jawab mereka serentak memecah kebisingan hiruk pikuk suasana pos pengungsian siang menjelang sore itu. Mendengar suara anak-anak kami ikut bersemangat saling memandang melihat semangat anak-anak itu.

Siang itu waktu teristimewa bagi mereka karena banyak kunjungan dan hadiah yang dibawakan. Setelah ibu Danrem Ny. A. Rizal menghipnotis mereka dengan menyanyi bersama dan menjawab pertanyaan seputar agama. “Anak-anak hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal berapa,”. Semua serentak mereka mengankat tangan ingin menjawab pertanyaan. Saya Ibu, ujar Nikadek Udiyani siswa kelas VI SDN Sokol, sambil berdiri dan disambut Ibu Danrem. “Nama saya Udiyani, dipanggil yani, HAri Kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945 bu, Betul gak anak-anak, betul buuuuuu, serentak suara mereka.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, DR. TGH. M. Zainul Majdi, terlihat siang itu juga mengunjungi Pos Pengungsian Gempa di lapangan Tanjung. Bebrepa Posko disinggahi oleh pria yang di sapa TGB. “Assalamualaiku,” sapa gubernur disetiap tenda yang dikunjungi, jawaban serentak dan kaget para pengungsi ketika melihat kedatangan Gubernurnya, “Walaikum salam,” jawab masyarakat sambil memeluk dan bersalaman dengan TGB.

DR. TGH. M. Zainul Majdi, sempat makan bersama dengan para pengungsi dan bermain dengan anak-anak para pengungsi yang terkena dampak Gempa Bumi. Rasa senang dan gembira terlihat saat interaksi antara Gubernur, anak-anak dan orangtua mereka. Gubernur memperingati meraka agar bersabar dan tabah menghadapi musibah ini. “Anak-anak tetap sekolah dan belajar membaca Al-Qur’an ya,” pesan Gubernur.

Bentuk perhatian masyarakat terhadap psikologi dan mental anak-anak yang terdampar Gempa Bumi di Lombok ini datang dari berbagai organisasi relawan diseluruh daerah di Indonesia. Relawan dari Mahasiswa Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Mahasiswa Pecinta Alam Makasar dan daerah lainnya. Bukan saja di pos pengungsian lapangan Tanjung, namun dibeberapa pos pengungsian lainnya upaya untuk Pemulihan Trauma (Trauma Healing Center) Psikologi TNI dam Sekolah Gembiraku terus dilaukan.

Lembaga swasta pemerhati pendidikan anak juga tidak tinggal diam. Mobil Perpustakaan keliling milik ATVI salahsatu TV Swasta Nasional terlihat setia mendampingi anak-anak untuk menyajikan buku-buku cerita bergambar. Antusias anak-anak begitu tinggi membaca ditengah terik udara. Aulia siswa kelas VI SDN 2 Tanjung merasa senang dengan adanya buku-buku diperpustakaan keliling ini. “Saya senang membaca buku cerita bergambar dan buku-buku pengetahuan lainnya,pak,” ungkap Yuliana serentak bersama teman-temannya yang sedang asik membuka buku.

Matahari mulai beranjak, anak-anak bukannya berkurang, jelang sore hari anak-anak berdatangan. Para relawan dan TNI yang bertugas menghimpun anak-anak untuk masuk ke tenda. Belajar menggambar dan menyanyi. Belajar sambil bermain upaya paling bagus mengembalikan semangat dan menghilangkan trauma mereka terhadap gempa.

Wajah polos dengan keringat berkucur di wajah mereka disiang hari Sabtu (11/8) ditengah-tengah para pengungsi Gempa Lombok dengan 7,0 SR, tersimpan asa dan masa depan bangsa ini. Tugas semua pihak membantu mengembalikan keceriaan anak-anak tanpa dosa ini.

Keakraban anak-anak dengan relawan sekaligus gurunya ini terlihat begitu hangat. Bocah-bocah ini tampak sudah tidak ada jarak dengan relawan yang mereka panggil kakak ini. Jiwa dan perasaan relawan begitu tulus sehingga mampu membangkitkan semangat keakraban anak-anak dengan para relawan ini.

Dengan semangat,  rasa penasaran dan tugas yang menantang, mengantarkan kami ke Penampungan Pengungsian korban dampak Gempa Bumi yang terjadi kedua kalinya di pulau Lombok. Serta terbatas berada di lokasi ini. Walaupun punya uang jutaan tidak ada artinya. Karena hampir tidak ada yang berjualan. disini dituntut untuk berani dan bermental, Mandi menggunakan MCK dengan hampir ribuan yang mengantri. Makan harus antri di dapur umum. Malu dan Takut jangan datang kesini! Mari kita bantu kembalikan semangat anak-anak agar bangkit.  ( * )



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan