logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tison Sahabuddin, Pahlawan Pulau Bungin - Bagian 1

Tison Sahabuddin, Pahlawan Pulau Bungin - Bagian 1

Pulau Bungin yang terletak di Kabupaten Sumbawa, dikenal sebagai pulau terpadat di dunia. Masyarakat hidup dengan kekayaan laut yang melimpah. Namun

Cerita Inspirasi

Azwar Zamhuri
Oleh Azwar Zamhuri
21 Maret, 2018 14:42:20
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 8245 Kali

Pulau Bungin yang terletak di Kabupaten Sumbawa, dikenal sebagai pulau terpadat di dunia. Masyarakat hidup dengan kekayaan laut yang melimpah. Namun mafia juga tumbuh subur disana. Ilegal fishing merajalela yang berkomplot dengan aparat. Nelayan hanya dijadikan perahan para tengkulak.

Situasi dan kondisi tersebut terjadi sejak dulu. Semua itu mulai berubah setelah sosok anak muda yang menjadi aktor perubahan tumbuh dewasa. Dialah Sahabuddin, sang pencerah yang putus kuliah dan kini namanya dikenal sebagai Tison Sahabuddin Bungin.

Pulau Bungin saat ini, telah berubah drastis. Bukan hanya dikenal sebagai pulau terpadat di dunia, tetapi juga menjadi tujuan wisatawan dari berbagai belahan dunia. Itulah yang membuat Tison Sahabuddin kini sering di percaya menjadi pembicara dimana-mana.

Nama Tison, merupakan panggilan Sahabuddin kecil. Tison lahir pada 4 April tahun 1989 sebagai anak terakhir dari pasangan Husin (almarhum) dan Amisah. Sebuah keluarga nelayan yang memagang erat kearifan lokal. Tison dan 5 kakaknya tumbuh berkembang dalam jiwa pelaut.

Sejak kecil, Tison sudah akrab dengan para pengebom ikan di pulau Bungin. Ia tidak mengerti ilegal fishing. Namun mengetahui semua seluk-beluk yang terjadi. Terutama kerusakan yang diakibatkannya disadari setelah mulai beranjak remaja.

Almarhum ayahnya, selalu mendidik Tison menjadi pribadi yang kuat, pantang menyerah dan menjaga kelestarian alam. “Saya sering pakai perahunya dan selalu saja ada yang rusak, makanya dulu saya gak pernah lagi dikasi pakai perahu. Tapi kalau saya bilang mau pakai untuk tanam terumbu karang, pasti dikasi,” tutur Tison.

Perjalanan hidup Tison saat ini, tidak lepas dari titik awal pergerakan yang dirintis sejak tahun 2007 lalu. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas 3 SMAN Alas Barat, Sumbawa.

Hobi membaca buku sejak sekolah di SDN 2 Desa Pulau Bungin hingga SMPN 1 Boer, membuat pengetahuannya lebih dibandingkan anak seusianya. “Kakak-kakak saya yang nelayan sering jual hasil tangkapannya ke Labuan Lombok, kalau mereka pulang pasti saya dibawakan banyak buku,” ucapnya.

Pengetahun yang didapat dan diperkuat didikan keluarga nelayan, membuat kepribadian Tison cukup matang. Rusaknya terumbu karang, bebasnya ilegal fishing, nasib nelayan yang tak kunjung sejahtera membuatnya sadar harus melakukan perubahan. “Kalau kita semua tutup mata di Bungin, maka akan terus kacau. SDM disana rendah, sering dibodohi dan dimainkan.  Saya Ingin bebaskan mereka, saya sudah janji pada diri sendiri untuk mengabdi. Janji sejak tahun 2007 itu, sampai sekarang masih tidak berubah,” ujarnya.

Tison memimpikan pulau Bungin yang tetap lestari dan bisa menjadi percontohan pengelolaan perairan. Bungin menjadi permukiman yang menyenangkan, masyarakat sejahtera melalui pemberdayaan, mempertahankan budaya dan adat lokal. Tidak ada lagi ilegal fishing dan para tengkulak yang memeras keringat rakyat.

Mimpi itu diawali dengan gerakan memperbaiki terumbu karang pada tahun 2007. Bersama teman-teman sepermainannya, Tison terus memberikan perhatian hingga tamat SMA di akhir tahun. “Saya gak langsung lanjutkan kuliah waktu itu, saya lebih memilih mengabdi di desa. Barulah tahun 2008 saya kuliah di STKIP Pancor cabang Alas Barat,” katanya.

 

Baca Juga :


Sembari kuliah, Tison terus melakukan berbagai upaya menyelamatkan pulau Bungin. Namun pada tahun 2010 ayah tercintanya sakit keras. Sementara saudara Tison jarang bisa mengurus ayahnya karena harus tetap melaut. “Kuliah itu kita juga harus ikut ketika kelasnya di Pancor. Jadi saya berhenti kuliah, gak ada yang jaga bapak. Biaya kuliah juga mahal, sedangkan barang-barang di rumah habis terjual untuk biaya pengobatan,” ceritanya.

Bergerak sebagai pemuda putus kuliah dan dari keluarga bukan orang terpandang, tidak mudah melakukan perubahan. Namun tidak mengendorkan semangat Tison. Ia terus bergerak mengumpulkan orang-orang yang satu persepsi dengannya.

Untuk menunjang keilmuannya dalam melakukan perubahan, Tison kemudian melanjutkan pendidikan. Namun hanya Diploma II di Akademi Komunitas Negeri Sumbawa, Jurusan Teknologi Pangan Perikanan dan lulus 2014. “Yang saya lakukan itu mulai budidaya ikan, bentuk karang taruna dan banyak lagi,” katanya.

Ia masih ingat ketika tahun 2013, banyak kolektor asing membeli berbagai benda pusaka milik nelayan. Tison gelisah, jangan sampai hal itu terus terjadi. Akhirnya pada akhir tahun 2014 dibangun museum nelayan sebagai upaya penyelamatan.

Pembinaan kepada nelayan juga terus dilakukan. Namun pembinaan tersebut haruslah bisa meningkatkan perekonomian. Akhirnya banyak nelayan yang mulai budidaya ikan karena lebih menguntungkan. “Pemberdayaan bergerak di Marine Aquaculture, itu budidaya keramba ikan. Sifatnya berkesinambungan dan kalau sekarang nelayan telah menjadikannya kerjaan utama,” ucap Tison.

Untuk menyempurnakan semua itu, dibangunlah Resto Apung. Sebuah usaha yang sangat menjanjikan. Bukan saja tempat makan, namun juga sebagai tujuan wisata karena lokasinya yang menyenangkan di laut. “Tahun 2016 lalu, transaksi nelayan di Bungin itu mencapai Rp 1,2 miliar dengan kunjungan wisatawan Rp 13 ribuan orang,” terangnya.

Tison bertekad untuk tetap memberikan pengabdiannya. Ia telah mendapat pengakuan mampu merubah pulau Bungin menjadi jauh lebih baik. Bahkan nama di belakangnya saja disematkan Bungin, karena semua orang di pulau itu telah mengenalnya atas jasa-jasa yang dilakukan.

Berkat perjuangannya, nama Tison kini mendunia. Ia sering diundang menjadi narasumber di forum-forum nasional maupun internasional. Berbagai penghargaan juga didapatkan, diantaranya dinobatkan sebagai pemuda pelopor terbaik tingkat 1 Kabupaten Sumbawa Bidang Kelautan, Terbaik 1 Tingkat Provinsi NTB Bidang Kelautan dan terbaik III Nasional Bidang kelautan.

Pada Tahun 2012, Tison juga tercatat sebagai ketua karang taruna terbaik 1 Kabupaten Sumbawa dan sebagai tenaga inti karang taruna Indonesia dalam satuan tugas sosial Indotera. “Niat saya hanya mengabdi saja,” tandasnya.[]



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan