logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tison Diteror Mafia Illegal Fishing - bagian 2

Tison Diteror Mafia Illegal Fishing - bagian 2

Tidak ada perjuangan tanpa hambatan. Apalagi melawan praktek illegal fishing yang harus bersentuhan langsung dengan para pengebom, bandit dan juga oknum

Cerita Inspirasi

Azwar Zamhuri
Oleh Azwar Zamhuri
21 Maret, 2018 14:47:16
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 1088 Kali

Tidak ada perjuangan tanpa hambatan. Apalagi melawan praktek illegal fishing yang harus bersentuhan langsung dengan para pengebom, bandit dan juga oknum aparat yang telah banyak mendapat keuntungan.

Pembinaan masyarakat yang terus dilakukan Tison Sahabuddin Bungin, harus diikuti juga dengan upaya pelestarian terumbu karang dan kembangbiak ikan itu sendiri. Musuh besar telah menanti di depan mata,

Sejak awal bertekad menyelematkan pulau Bungin, Tison mengetahui ada 11 kelompok atau orang yang menjadi pelaku pengeboman laut untuk mendapatkan banyak ikan. Terumbu karang menjadi rusak hanya untuk keuntungan pihak-pihak tertentu.

Persoalannya, pemerintah dan aparat terkesan berdiam diri. Pengeboman tersebut dibiarkan terjadi tanpa ada tindakan nyata. “Saya ini kan tumbuh dan besar disana, jadi sudah akrab dengan hal-hal seperti itu. Darimana alatnya, kenapa itu tetap terjadi. Semuanya saya tahu,” kata Tison bercerita.

Untuk benar-benar bisa menghentikan praktek illegal fishing, maka mata rantai harus diputus. Terutama adanya backingan dari oknum aparat yang seharusnya menjaga kelestarian terumbu karang.

Untuk mewujudkan semua itu, berbagai bukti dikumpulkan. Tison tidak takut apapun demi menyelamatkan pulau Bungin. “Ada beberapa pelaku pengebom itu yang punya backingan oknum aparat. Jadi aparat ini tetap dapat setoran. Saya lihat itu terjadi juga di wilayah lain,” ungkapnya.

Setalah bukti dirasa lengkap, Tison melaporkan semua itu pada Mabes Polri. Berkat bukti yang kuat tersebut, banyak aparat yang dirotasi. “Itu terjadi tahun 2012 sampai 2014, selama 3 tahun saya selalu terima teror,” ujarnya.

 

Baca Juga :


Teror tersebut menyerang Tison dari berbagai bentuk. Ada yang melalui telepon, pesan singkat hingga secara langsung. Pelakunya sudah jelas, orang-orang yang merasa kepentingannya terancam. Apalagi ada keterlibatan oknum aparat dalam illegal fishing tersebut.

Keberanian Tison memang berbuah manis. Hingga tahun ini, masih tersisa 1 orang saja yang belum bertaubat setelah mata rantai terputus. “Tapi katanya sih akan gantung semua alatnya, gak mau ngebom lagi,” katanya.

Perjuangan melawan illegal fihing tersebut, ditulis oleh Tison dalam bentuk buku pada tahun 2015. Sebuah buku yang diberi judul Dari Rahim Ombak. Disana benar-benar diungkap tentang fakta illegal fishing dan upaya menyelamatkan keindahan laut.

Buku tersebut merupakan akumulasi dari seluruh perjuangannya hingga tahun 2015. “Saya ungkap banyak keserakahan disana. Untuk berikan efek jera, saya juga bongkar bagaimana penyelundupan bahan peledak,” terang Tison.

Karya buku Dari Rahim Ombak, mendapat tiga penghargaan sekaligus dalam program Indonesia Membumi yang diselenggarakan oleh KPK dan IKAPI, 28 September 2016 lalu. Tiga penghargaan itu adalah Editor Terbaik, Penulis Terbaik dan Desainer Buku Terbaik.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan