logoblog

Cari

Tutup Iklan

Museum Dan Resto Apung Karya Tison - Habis

Museum Dan Resto Apung Karya Tison - Habis

Di pulau Bungin, telah ada museum nelayan atau museum Bahari yang didirikan pada tahun 2014 lalu. Museum tersebut, awalnya dibangun sebagai

Cerita Inspirasi

Azwar Zamhuri
Oleh Azwar Zamhuri
21 Maret, 2018 14:49:31
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 3621 Kali

Di pulau Bungin, telah ada museum nelayan atau museum Bahari yang didirikan pada tahun 2014 lalu. Museum tersebut, awalnya dibangun sebagai wujud pengabdian Tison Sahabuddin untuk menyelamatkan benda-benda pusaka nelayan disana.

Lokasi museum nelayan cukup strategis di pintu masuk pulau Beringin. Bagi Tison, museum tersebut bukan hanya untuk menyelamatkan benda-benda pusaka nelayan dari para kolektor, tetapi  juga bisa dijadikan sebagai pusat studi peradaban maritim. “Jadi media mendidik karakter kebaharian kita juga,” ujarnya.

Museum ini akan menyelamatkan berbagai warisan kebaharian multidimensional. Sebagai tempat berbagai pusaka kebaharian dari berbagai pesisir, pulau-pulau kecil dan seluruh komunitas nelayan di Indonesia dan luar negeri. “Ada juga yang nyumbang dari Malaysia dan daerah-daerah lain,” katanya.

Dalam pengelolaannya, Tison selalu memanfaatkan Sumber Daya Manusia (SDM) setempat. Termasuk anak-anak muda, mengingat dirinya juga hingga saat ini masih lajang. Museum nelayan akan menjadi tempat menampung berbagai kekayaan tradisi kaum pelaut.

Sejarah terbangunnya museum tersebut, berawal dari tahun 2013. Tison khawatiran melihat banyak benda pusaka nelayan berpindah tangan ke kolektor. Padahal, semua itu sangat dibutuhkan sebagai kekayaan budaya masyarakat setempat. “Makanya saya ajak masyarakat agar tidak menjualnya, lebih baik kita simpan di sebuah tempat,” tuturnya.

Tidak mudah mewujudkan museum, apalagi biaya yang dibutuhkan cukup mahal. Mengingat, bukan hanya untuk pembangunan fisik saja tetapi juga pengadaan koleksi. “Tapi alhamdulillah ada saja jalan, banyak masyarakat yang menyumbang, atau disewakan,” ucapnya.

Beberapa koleksi yang tersedia di museum tersebut diantaranya rudal penyu, pencapit teripang dan mutiara, berbagai macam tombak untuk menangkap ikan, jaring hiu dan ikan berbagai ukuran, dayung, bendera-bendera, kerangka ikan paus, foto-foto nelayan tempo dulu, benda ritual adat, serta iko-iko (syair). “Sudah banyak yang datang melihat-lihat museum itu sekarang,” kata Tison.

Selain itu, adanya Resto Apung di Bungin merupakan buah pemikiran Tison Baharuddin. Sebuah tempat yang belakangan menjadi primadona dan menjadi tujuan wisatawan lokal, nasional dan mancanegara.

 

Baca Juga :


Resto Apung dibangun dari Keramba Jaring Apung. Lokasinya tentu berada di atas laut Bungin. Itulah yang membuat Resto Apung menjadi istimewa. Ditambah lagi suasana pantai yang asyik dan makanan sesuai selera, wajar lokasi tersebut menjadi primadona.

Ide Tison memang luar biasa. Resto Apung yang awalnya dibangun hanya sepetak keramba sederhana dari kayu dan tong plastik, kini cukup megah dengan jumlah 85 keramba. “Yang namanya membangun tentu tidak langsung suskes. Itu awalnya dimulai tahun 2014,” katanya.

Resto tersebut sebagai temapat dimanfaatkannya budidaya ikan yang dilakukan. Sehingga, pembudidaya tidak perlu repot-repot saat menjualnya. “Alhamdulillah kalau sekarang lancar, bahkan kegiatan pembinaan yang terus kami lakukan saat ini juga dibiayai dari hasil Resto Apung,” ucap Tison.

Kelebihan Resto ini dibandingkan tempat lain tentunya pada makanan. Pengunjung bisa menikmati ikan segar yang baru saja ditangkap dari keramba. Hal itu tentunya mendatangkan sensasi tersendiri daripada memakan ikan yang sudah dibekukan.

Menu yang disiapkan juga cukup beragam. Diantaranya seafood segar hasil Budidaya dan hasil tangkapan nelayan, ikan bawal bintang, Kepiting, Kerang-kerangan, udang dan lain sebagainya. “Makanya banyak yang datang berkunjung, kedepan kita akan terus kembangkan. Manfaatnya besar, perekonomian nelayan juga membaik,” tutupnya.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan