logoblog

Cari

Tutup Iklan

Teguh Berjuang Bersama Saudara

Teguh Berjuang Bersama Saudara

KM. Sukamulia - Tidak banyak saudara yang bisa kompak dan bekerjasama dengan saudara-nya dalam melakukan berbagai usaha, lebih-lebih dalam berjuang. Terkadang

Cerita Inspirasi

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
14 Maret, 2018 19:56:22
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 9027 Kali

KM. Sukamulia - Tidak banyak saudara yang bisa kompak dan bekerjasama dengan saudara-nya dalam melakukan berbagai usaha, lebih-lebih dalam berjuang. Terkadang dan bahkan tidak jarang kita temukan saudara yang sulit untuk bekerjasama dengan baik dengan saudaranya dalam melakukan suatu perjuangan. Berbeda dengan sosok yang dua ini, mereka sama-sama memiliki jiwa yang teguh untuk membangun masyarakat-nya melalui dunia pendidikan dan usaha lainnya.

Amiruddin dan Sahril, itulah dua orang bersaudara yang teguh berjuang dalam dunia pendidikan, pemerintahan dan usaha. Dua orang bersaudara ini memiliki keteguhan jiwa dalam berjuang membangun desa-nya. Mereka berdua mengawali karirnya sebagai pejuang di MTs Maraqitta’limat Lenggorong. Amiruddin mulai karirnya sebagai guru di MTs Maraqitta’limat Lenggorong sejak tahun 2007, ia juga termasuk salah seorang perintis berdri-nya madarasah tersebut. Setelah adik-nya (Sahril) menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah, Amiruddin mengajak-nya berjuang di madarasah tersebut sebab waktu itu (tahun 2008) MTs Maraqitta’limat Lenggorong masih memerlukan tenaga pendidik.

1. Amiruddin, SS

Amiruddin lahir di Bayan pada tanggal 12 Juli 1984. Ia dibesarkan di Montong Tanggak Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan. Laki-laki yang akrab dipanggil Amir ini menyelesaikan pendidikan dasar-nya di SDN 1 Sambik Elen, menyelesaikan Pendidikan Menengah Pertama di MTs Raudatut Thalabin NW Paok Motong, menyelesaikan pendidikan Menengah Atas di MA Mualimin Seyh Zaenudin NW Anjani dan diwisuda dengan gelar Sarjana Sastra di Universitas NW Mataram dengan Jurusan Sastra Bahasa Inggris.

Laki-laki yang murah senyum ini bukan hanya seorang guru, namun ia juga seorang pembangun yang aktif mengabdikan dirinya sebagai Kaur Pembangunan Desa Sambik Elen sejak tahun 2008. Meskipun ia mengemban tugas yang begitu padat-nya selaku seorang Kaur Pembangunan, namun ia senantiasa meluangkan waktunya sebagai seorang guru dan mengisi tugas mengajarnya dengan penuh tanggung jawab. Amiruddin, senantiasa memberikan contoh yang baik kepada adik-nya, terutama dalam masalah kedisiplinan mengerjakan tugas dan tanggungjawab.

Sepanjang menggeluti profesi guru, laki-laki yang akrap disapa Amir ini tergolong guru yang disiplin dalam mengisi tanggung jawab-nya selaku seorang guru. Sejak awal mengajar (2007), ia mengemban tugas sebagai Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris yang meskipun pada dasarnya ia tidak memiliki besik pendidikan sebagai seorang Guru Bahasa Inggris namun kemampuan-nya dalam Sastra Inggris dijadikan sebagai modal untuk mendidik generasi muda Desa Sambik Elen yang menuntut ilmu di MTs Maraqitta’limat Lenggorong.

Amir mengajak adik-nya menekuni professi guru sebab ia berprinsip bahwa guru adalah pekerjaan yang mulia dan kemuliaan professi guru akan mendatangkan kebaikan yang tiada terkira untuk siapa saja yang menggeluti prpfessi guru dengan ikhlas. Atas dasar prinsip itu-lah Amiruddin mengarahkan adik-nya (Sahril) untuk ikut berjuang di MTs Maraqitta’limat Lenggorong dan sekolah lain-nya.

Selain mengajar di MTs Maraqitta’limat Lenggorong, selama menggeluti professi guru, Amiruddin pernah mengabdikan ilmu-nya di; (1) MTs Syfa’unnufus NW Sambik Elen bahkan di madrasah itu ia sempat menjabat sebagai Kepala Madrasah, (2) SMA NW Sifa’unnufus NW Sambik Elen dan (3) SD Filial Bakong yang merupakan SD Filial SDN 3 Sambik Elen. Luar biasanya, Amiruddin selalu mengajak adik-nya (Sahril) untuk ikut berjuang di setiap sekolah tempat-nya mengajar.

Pada tahun 2011, Amiruddin ikut berjuang merintis pembangunan SD Filial Bakong yang sekarang menjadi SD Filial SDN 3 Sambik Elen. Ia berjuang bersama Bambang Sukoco (alm), Asri dan Amaq Reman. Selama satu tahun berjuang di sekolah terpencil itu, Amiruddin disibukkan oleh tugas-nya di desa sehingga pada tahun 2012, ia meminta Abdul Kadir Zaelani untuk menggantikan-nya guna membantu Sahril untuk terus melanjutkan perjuangan di SD yang berada di daerah terpencil itu.

Di antara ke-empat lembaga pendidikan tempatnya pernah mengabdikan ilmunya, Amiruddin memiliki perjuangan yang cukup besar di MTs Maraqitta’limat Lenggorong. Sebagai seorang Kaur Pembangunan Desa, laki-laki yang murah senyum ini sering mengajukan dan mengarahkan program pembangunan desa ke madrasah, atas perjuangan itu maka pada tahun 2014, MTs Maraqitta’limat mendapatkan program pembangunan kantor yang dana-nya didapatkan dari keungan desa. Hal itu, tidak lepas dari perjuangan Amiruddin dalam melaksanakan perjuangan-nya di MTs Maraqitta’limat Lenggorong.

Pada tahun 2017, keluar aturan baru mengenai tugas dan selaku Kaur Desa yang dimana setiap pegawai yang bekerja di lingkup Kantor Desa diharuskan stay (fokus) mengerjakan tugas masing-masing dan tidak boleh bekerja di instansi lainnya. Hal itu sempat membuat Amir bimbang namun atas kecintaan-nya pada professi guru maka ia memutuskan untuk tetap berjuang di MTs Maraqitta’limat Lenggorong dengan melepas sebagaian tugas mengajarnya.

Atas aturan itu, mulai tahun awal 2017 hingga saat ini Amiruddin hanya mengambil jam mengajar pada hari Sabtu sebab pada hari Sabtu ia libur di kantor. Ia hanya mengampu Mata Pelajaran Bahasa Inggris di kelas IX saja dengan beban mengajar empat (4) jam pelajaran dan alhamdulillah tugas itu dilaksanakan dengan disiplin dan penuh tanggungjawab.

2. Sahril, SE