logoblog

Cari

Tutup Iklan

Penjual Roti Bakar Meminang Gadis Sulawesi

Penjual Roti Bakar Meminang Gadis Sulawesi

  “Selamat yaa adikku, semoga menjadi keluarga yang samawa” Aku masih teringat kenangan masa kecil bersamamu. Disaat ayah membutuhkan bantuan kita,

Cerita Inspirasi

Suparman
Oleh Suparman
13 Maret, 2018 14:11:48
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 5933 Kali

“Selamat yaa adikku, semoga menjadi keluarga yang samawa”

Aku masih teringat kenangan masa kecil bersamamu. Disaat ayah membutuhkan bantuan kita, untuk meringankan bebannya yang ia pikul disaat kita sedang sekolah. Ketika itu, semua pekerjaan harus kita lakukakn secara bersama-sama. Saya maupun ia tidak akan pernah mau untuk bekerja sendirian, entah… kita tidak ingin berpisah atau memiliki rasa iri hati, jika diantara kita berdua melakukan pekerjaan hanya sendiri. Namun sungguh sayang, semua kenangan itu telah berlalu begitu saja. sekarang aku masih bergaul dengan masa lajangku. Sedangkan kamu, sudah memiliki wanita yang akan menjadikan dirimu sebagai suami dan imamnya. Teruslah bimbing dia ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT dan semoga kalian di karunia oleh buah hati yang akan meneruskan esensi cinta dan kasih sayang kalian.         

Berangkat ke Kota Makasar hanya bermodalkan optimis, sebenarnya ayah dan ibu tidak mengijinkan ia melanjutkan pendidikan di kota Makasar karena alasan biaya. Tapi, karena menurut ia bahwa mencari ilmu adalah kewajiban. Ia pun berangkat dengan dana seadanya, yang terkumpul dari keluarga. Sebelum itu, ia pernah sekolah di Ma’had ‘Aly Ar-Raayah Sukabumi Jawa Barat selama satu setengah tahun, diakhir-akhir proses pendidikannya, ia memilih untuk mengundurkan diri dengan alasan; tidak kuat lagi untuk belajar, memang program Ma’had menuntut mahasiswanya untuk terus belajar dan belajar. Kata lain “tiada hari tanpa belajar” selain itu juga, alasan lain bahwa diselah-selah aktivitas akademisnya ia juga ingin membuka usaha kecil-kecilan sehingga dapat membantu biaya kuliahnya. Ia juga, tidak tertarik dengan proses belajar yang terlalu monoton.

Akhirnya ia pun mencoba daftar di Ma’had Al Birr Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makasar. Setelah melewati beberapa tahap seleksi, kemudian dinyatakan lulus oleh pihak kampus. Karena biaya untuk membayar kos tidak ada, ia memutuskan untuk tinggal di masjid dan mewarkan diri kepada pengurus masjid dengan modal adzan dan bisa membaca Al-Qur’an, sekiranya dapat diterima sebagai marbot.

Hampir satu tahun ia tinggal di masjid, ia mulai merasakan kejenuhan. Padahal selama ia tinggal dalam masjid semua kebutuhan hidup ditanggung oleh pengurus masjid. Masih dengan alasan yang sama bahwa semua itu ia lakukan karena ia ingin menjadi lelaki pengusaha. Sebab jiwa usahanya masih tertanam kuat dalam dirinya. Selain kesibukannya, sebagai seorang mahasiswa ia juga menyempatkan waktunya untuk menjual telur. Hanya beberapa bulan ia lakoni usaha penjualan telurnya kemudian kandas di tengah jalan.

 

Baca Juga :


Setelah ia gagal dalam usaha telurnya, kemudian ia mencoba untuk menjual roti bakar dengan membeli rombong milik tetangga yang tidak terpakai lagi. Ia menjajakan roti bakarnya di pinggir jalan kota Makasar. Dari keutungan hasil penjualan roti, ia menyisipkan dengan menabung untuk membantu biaya kuliahnya. Sebagian dari keuntungannya, ia juga menyempatkan untuk mengirim ke orang tuanya di kampung.

Ia merasa senang dengan usaha barunya, dengan keuntungan yang ia dapatkan setiap penjualannya. Sehingga dapat membantu biaya hidupnya di kota rantauan. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk menikah. Ia menghubungi orang tuanya di kampung melalui hand phone, ia mengatakan kepada kedua orang tuanya;  bahwa sebenarnya saya ingin menikah ibu, katanya. Sementara ia sedang kuliah dan baru semester III. Ibunya sangat kaget, ko’ secepat itu dia ingin menikah, pikirnya.

Karena keadaan saat itu, tidak mendukung dengan dana yang tidak ada. Tapi karena niatnya untuk menikah sudah bulat. Tabungan dari hasil penjualan rotinya sudah cukup untuk meminang seorang gadis. Ia memutuskan untuk berta’aruf dengan gadis, meskipun beberapa kali gagal dalam menentukan pasangan hidupnya. Akhirnya ia berhasil meminang seorang gadis dari Gowa Sulewesi Selatan. Mahar yang ia berikan kepada istrinya adalah hasil dari tabungan penjualan roti bakarnya. []



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan