logoblog

Cari

Tutup Iklan

Perjalanan Kemarin Siang

Perjalanan Kemarin Siang

Minggu kemarin 10 September sekitar Jam 13.00 wita waktu istirahat karena memang baru pulang dari acara kantor di udayana, saya terbangun

Cerita Inspirasi

Perjalanan Kemarin Siang

Perjalanan Kemarin Siang

Perjalanan Kemarin Siang

Lilwalidaini ihsan
Oleh Lilwalidaini ihsan
11 September, 2017 06:16:18
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 1162 Kali

Minggu kemarin 10 September sekitar Jam 13.00 wita waktu istirahat karena memang baru pulang dari acara kantor di udayana, saya terbangun ketika handphoneku berdering, siapa ya tanyaku yang nelpon,, dalam hati awalnya ragu untuk mengangkatnya karena ternyata kepala bidang IKP Fairuzz abadi sering dipanggil Abu Macel dengan nama populernya, sempat berfikir apa yang salah dalam kerjaanku hari ini sehingga nelpon gitu toh selesai acara kantor, akhirnya saya angkat telponnya ternyata nanyak lagi dimana chan panggilan akrabku, saya menjawabnya  dirumah bah, ow ya katanya “saya di pringgerate neh sama istri dari acara selametan teman, kebetulan saya mau ke kebun jati di sedau punya orang tua saya bisa ente temani gak?” tanyanya, saya jawab bisa bah oke kata beliau ketemu di pertigaan pemepek jalan ke Sedau itu ya tunggu disana. Dengan bergegas saya menuju kesana  dengan jarak sekitar 3 kilo lebih dari rumah. Tiiba disana nyari warung titip motor grand rakitan tahun 1999 ini dibilang cukup tua yang biasa saya pakai ke kantor, akhirnya masuk ke mobil.

Ngobrol santai dalam mobil ternyata beliau lupa-lupa ingat jalannya ke kebun itu nama penunggunya Inak Imah tapi suaminya Amak Kadir itu sudah meninggal karena kita kesini itu tahun 1997 sekitar 20 tahun yang lalu. Owalah, hadeh  ungkapku “waktu itu umur saya baru 7 tahun bah, akhirnya kita jalan terus hanya main insting aja gitu saya sebut ini jalan ke Pidendang, nah pas chan beliu bilang itu dah daerah tempat penunggunya itu tinggal karena dulu disini jalan masih sempit gak bisa masuk mobil, apalagi rumah seperti ini belum ada listrik sekalipun belum ada, bener-bener hutan belantara ungkapnya. “tidak seperti sekarang ini jalan sudah bagus pake hotmik akhirnya tiba dijalan buntu penghujung aspal di pidendang. Dengan bertanya langsung sama orang sana yang lagi duduk di berugak dari pada sesat dijalan gak bertanya kan berabe kita ungkapnya, namun ternyata orang itu tidak mengenal namanya inak imah, zakaria, yang dia kenal Amak Kadir sampai berapa kali orang tempat bertanya hanya nama Amak Kadir saja yang dikenal sampai kita menemukan Inak Imah isrinya almarhum sang penunggu kebun jati yang seluasnya 2,5 hektar tersebut walaupun dengan jalan yang naik turun jurang biasa jalan hutan memang seperti itulah. Dalam hatiku berkata “Top bener ingatan beliau ini padahal cuma main insting saja mantaplah jadi petualanh ulung”.

Sampai disana tempatnya biasa dikenal dengan daerah “Berepok” yang tinggal di tengah hutan, disini bukan inak Imah saja yang tinggal ada sih tetangganya saya lihat juga, dengan dihidangkan kopi nikmat sambil merokok dengan memperhatikan ayam-ayam kecil yang lagi mematuk makanan, ada yang lagi kelahi dalam bahasa sasaknya “belagean” tapi bukan itu hanya sebatas caranya ayam main-main sama temannya, ada yang keluar dari kandangnya, ada yang datang juga ayam yang lain berebutan makanan sangat nikamat banget kalu dijadikan hidangan untuk makan malam toh. Terlihat dalam foto di atas sebuah rumah tempat Inak Imah tinggal sendirian dinding luarnya yang dilapisi papan yang bolong kecil ditutupi koran, pakaian solat tersampihkan di tali atas papan, menggambarkan kehidupan cukup sederhana dalam hidupnya dan merasa berkecukupan bisa hidup bertahan di tengah hutan.

Baca Juga :


Suara azan berkumandang sambil jalan pulang ditemani Inak Imah menuju mobil, nah dijalan meninjau kebun yang dipenuhi pohon kelapa, mahuni, lekong, pisang dan sekitar 1.500 pohon jati yang umurnya sudah 12 tahun namun batangnya tidak terlalu besar tapi sudah menua penuh dengan daun-daun kering yang berjatuhan ketika diinjak berbunyi krik-krik-krik entahlah hanya suara itu yang terdengar dan suara kenterek karena suara ini adanya di alam seperti ini di kota mah gak ada hanya suara knalpot bising penuh polusi udara yang tidak segar dihirup oleh manusia. Akhirnya tiba di mobil dan kita pamitan untuk pulang kepada Inak Imah, selamat tinggal dan semoga sehat-sehat selalu dan panjang umur sampai ketemu nanti Inak Imah Assalamualaikum. ()



 
Lilwalidaini ihsan

Lilwalidaini ihsan

Nama Lilwalidaini ihsan Alamat dasan agung tanak beak kec.batukliang utara Anak terakhir dari lima bersaudara Hobi futsal dan tenis meja Pendidikan terkahir S1 pendidikan bahasa arab di IAIN Mataram lulus agustus 2016

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan