logoblog

Cari

Tutup Iklan

Perahu Mini dan Harapan Bocah Nelayan

Perahu Mini dan Harapan Bocah Nelayan

KM. Sukamulia – Sore itu kami mencoba membuang di Pantai Tekalok (Jaur Penyeberangan Gili Sulat). Saya dan teman-teman terpesona melihat belasan

Cerita Inspirasi

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
05 Mei, 2017 14:22:33
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 26859 Kali

KM. Sukamulia – Sore itu kami mencoba membuang di Pantai Tekalok (Jaur Penyeberangan Gili Sulat). Saya dan teman-teman terpesona melihat belasan anak kecil yang tengah asyk memainkan perahu-perahuannya. Anak-anak itu adalah anak para nelayan Dusun Tekalok Desa Sugian Kecamatan Sambelia. Secara pribadi, saya sangat mengagumi kreatifitas anak-anak nelayan itu. Selain itu, rasa pengap yang berkecamuk di otak saya hilang begitu saja sebab melihat keceriaan mereka yang riuh bermain perahu mini yang mereka buat dari kayu.

Anak-anak itu terlihat betul-betul bahagian dengan mainan sederhana yang mereka buat sendiri. Perahu Mini yang mereka mainkan itu dibuat dari Kayu Rangdu (Kapuk). Perahunya adalah perahu bercadik dua yang digerakkan dengan mesin. Di sinilah letak kreatif anak-anak nelayan tersebut, mereka membuat mesin perahu-perahuan itu dari dinamo mobil-mobilan dengan batrey Handpone sebagai sumber energi yang menghidupkan dinaomo kecil yang menggerakkan baling-baling perahu itu. Selanjutnya, baling-baling perahu itu dibuat dari irisan kaleng bekas (kaleng sprit/cocacola dan sejenisnya.

Melihat kegirangan mereka, saya pun mendekati mereka dan ikut nimberung di tengah-tengah mereka yang tengah asyk bermain balapan perahu. Salah seorang diantara mereka memberi saya meminjam perahu-perahuannya dan saya pun ikut bermain balap perahu bersama mereka. Balapan perahu mini itu diiringi oleh sorak sorae dan gelak tawa bocah-bocah nelayan itu. Melihat hal itu, saya semakin girang dan asyk berbagi keceriaan dengan mereka.

Bosan bermain di muara sungai, mereka pindah ke pantai. Di pantai mereka semakin asyk bermain balap perahu mini sebab perahu mereka harus melawan ombap yang berhempas di tepian. Sungguh menyenangkan bisa bertemu dengan bocah-bocah nelayan itu. Di sela-sela permainan balap perahu mini itu, bocah-bocah itu berbagi cerita tentang mainan mereka.

Rendi (10 tahun) dan kawan-kawannya bercerita kepada saya bahwa orang tua mereka semua adalah nelayan yang kesehariannya bekerja menjaring dan memancing ikan menggunakan perahu mesin. Kalua cuaca bagus, orang tua mereka bisa mendapatkan hasil yang banyak dan jika cuaca sedang buruk maka orang tua mereka pulang dengan tangan hampa. Namun demikian, mereka semua tetap bercita-cita untuk menjadi nelayan dan bahkan mereka sering ikut menemani orang tuanya pergi menangkap ikan. Hal itulah yang membuat mereka tertarik untuk membuat perahu mini untuk belajar membuat perahu seperti orang tua mereka dan jika mereka besar nanti maka mereka bisa membuat perahu sendiri yang nantinya akan digunakan menangkap ikan.

Itulah awal dari inspirasi mereka membuat perahu mini dari bahan kayu. Sebagaimana perahu milik orang tua mereka, bocah-bocah pantai itu juga membuatkan perahu mininya mesin mini yang berfungsi untuk menjalankan perahunya. Mesinnya dibuat dari bahan dynamo mobil-mobilan yang sudah rusah dan dihidupkan dengan batrey handpone yang sudah tidak dipakai lagi oleh orang tua atau saudara-saudara mereka.

Menurut keterangan Rendi dan Rohman, untuk membuat satu buah perahu mini, mereka tidak sampai menghabiskan waktu sehari dan perahu itu mereka buat tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun, pasalnya perahu itu dibuat dari bahan kayu yang bisa mereka dapatkan di sekitar kediaman mereka dan mesinnya mereka dapatkan dari dynamo bekas mainan adik-adik mereka, demikian juga batreynya mereka buat dari batrey hadpone yang sudah tidak dipakai lagi oleh orang tua atau kakak mereka.

 

Baca Juga :


“Kami tidak mau dibuatkan oleh siapapun, perahu ini adalah buatan kami sendiri sebab kami ingin belajar membuat perahu supaya nanti ketika kami sudah besar, kami bisa membuat perahu yang dapat digunakan untuk memuat tamu yang berkeinginan menyeberang ke Gili Sulat dan Gili Lawan dan bisa juga kami gunakan untuk pergi menangkap ikan”, kata Rohman sambil mengelus-elus perahu mininya.

Saya terkesima mendengar perkataan anak itu, ternyata pada perahu mini yang mereka mainkan itu tersimpan harapan besar, yakni harapan untuk membuat perahu besar ketika nanti mereka sudah besar/dewasa. Selain itu, pada perahu mini itu juga mereka menuangkan harapan besar untuk mengembangkan pariwisata yang ada di daerah mereka. Terbukti dengan adanya harapan mereka bahwa jika mereka besar nanti, mereka akan membuat perahu mesin yang bisa digunakan untuk memuat wisatawan yang hendak menyeberang ke Gili Sulat dan Gili Lebur.

Sungguh luar biasa, sejak dini bocah-bocah nelayan itu memiliki harapan besar dan harapan itu mereka realisasikan dengan membuat perahu mesin mini agar kelak mereka bisa membuat perahu mesin yang besar. Dengan demikian jelaslah bahwa sejak dini, bocah-bocah nelayan itu memiliki keinginan untuk membantu orang tuannya dalam mencari rezeki pada saat mereka besar nanti.

_By. Asri The Gila_ () -01



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan