logoblog

Cari

Tutup Iklan

Dari Uta Kabaho Menjadi Pengusaha Sukses

Dari Uta Kabaho Menjadi Pengusaha Sukses

Berangkat dari kondisi keterpurukan ekonomi yang kurang bersahabat—namun karena adanya keinginan dan kemauan disertai dorongan istri dan anaknya untuk terus berusaha,

Cerita Inspirasi

KM Bolo
Oleh KM Bolo
15 Maret, 2017 08:20:31
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 15078 Kali

Berangkat dari kondisi keterpurukan ekonomi yang kurang bersahabat—namun karena adanya keinginan dan kemauan disertai dorongan istri dan anaknya untuk terus berusaha, ternyata memotivasi seorang kepala keluarga di dusun Lara ini, membayangi bahwa kesuksesan itu dapat digapainya. Bagi siapapun, bila ada kemauan pasti segala bentuk usaha dan upaya yang dijalani akan berhasil.

            Mungkin inilah yang alami oleh M Nor Amin, warga kelahiran Dusun Lara Desa Tambe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Lewat usahanya sekarang sebagai penjual sekaligus penyalur ikan Tenggiri dan sejenisnya, kini M Nor telah menikmati kehidupan yang jauh dari kondisi ekonomi pada 15 tahun silam.

            Pada masa itu, M Nor hanya berprofesi sebagai seorang pembajak sawah yang menggunakan hand traktor milik orang lain. Namun hasil yang ia dapatkan dari pekerjaan itu, tidak mencukupi untuk membiayai hidup keluarganya. Dua tahun kemudian, M Nor pun beralih profesi sebagai penjual ikan secara kecil-kecilan. Hanya mengandalkan alat transportasi tradisional yakni benhur (cidomo) miliknya, M Nor bersama istrinya Kalisom, menjajak ikan keliling, masuk kampung dan keluar kampung. Kebetulan di dusun Lara pada masa itu, hanya dirinya yang pertama menjalani profesi tersebut.

            Kesenjangan sosial warga di dusun Lara pada masa itu, begitu jauh dibanding sekarang. Apalagi dibarengi kurangnya lapangan kerja yang disertai pengaruh lingkungan, sehingga mendorong M Nor untuk terus melawan dan merubah nasib dengan melakoni sebagai penjual ikan.

            Seiring berjalannya waktu, profesi jual ikan tenggiri dan sejenisnya dengan cara keliling, seakan memberi peluang bagi M Nor dan istrinya untuk berkembang. Keuntungan pun, juga mendorong M Nor mulai mengambil stock lebih banyak.

“Awalnya saya mencoba mengambil ikan Tenggiri dalam stock banyak. Karena harganya lumayan lebih murah jika mengambil lebih banyak. Dan, sebagian ikan tersebut dimatangkan dalam bentuk ‘Uta Kabaho’, sebagian lainnya dijual mentah,” cerita M Nor yang dikarunia empat orang anak itu.

            Setelah diproses menjadi ‘Uta Kabaho’ Tenggiri (kabaho tangiri)—M Nor yang terus didampingi istrinya, menjual ‘uta kabaho’ keliling kampung hingga laris terjual dengan keutungan yang lumayan besar. Profesi tersebut terus ia jalani hampir satu tahun lebih. Dan, sehari-hari usaha menjual ‘Uta Kabaho’, begitu memotivasi M Nor hingga mencoba membuka relasi dengan para penjual ikan lainnya di pasar raya Sila—bahkan di kota Bima dan Dompu. Tak hanya itu, M Nor juga membangun relasi dengan para nelayan penangkap ikan di beberapa wilayah pesisir, di daerah Kabupaten Bima maupun Dompu.

            Begitu pun untuk meningkatkan usahanya, M Nor mendorong dan mengajak empat orang anaknya agar ikut melakoninya menjual ikan mentah maupun yang sudah matang dalam bentuk ‘Uta Kabaho’—yang hingga saat ini menjadi salah satu kuliner kampung di Dusun Lara.

            Dari tahun ke tahun, usaha menjual ikan baik dalam bentuk mentah maupun yang sudah menjadi ‘Uta Kabaho’, mulus berjalan. Hingga profesinya itu menjadi daya tarik beberapa warga dan kelompok pemuda yang semula belum memiliki usaha di kampung itu.

            Diperkiarakan pertengahan tahun 2004 silam—usaha jual ikan mentah maupun dalam bentuk ‘Uta Kabaho’, terus berkembang yang dilakoni oleh beberapa warga di Dusun Lara. Bahkan kemauan mereka, menjadi keuntungan tersendiri bagi M Nor. Sebab, tempat mereka mengambil ikan tentu melalui M Nor yang kebetulan sudah memiliki relasi dengan beberapa nelayan penangkap ikan pada masa itu.

            Dari banyaknya pesanan di kampung bahkan di pasar Sila, sehingga memberikan keuntungan besar bagi M Nor. “Bayangkan, saya pernah mendapat keuntungan Rp20 juta sehari. Ini keuntungan benar-benar di luar dugaan saya,” kata M Nor sambil mengajak untuk mencicipi ikan Tenggiri segar yang barusan ditumis ala khas Sila oleh isterinya.

            Keuntungan tersebut, kisah M Nor, kebetulan pada hasil tangkapan ikan Tenggiri oleh nelayan waktu itu cukup banyak.  “Waktu itu saya mencoba ambil 200 karbox. Kemudian saya carter empat mobil pick-up. Harga yang saya ambil dari nelayan Rp450 ribu per karbox. Kemudian over dipalele ikan lokasi pasar dan kampung sendiri hingga Rp550 ribu per karbox. Artinya saya mendapat keuntungan kadang Rp50 ribu dan Rp100 ribu per karbox,” kata M Nor.

Mengambil secara banyak, semestinya bermodal besar. Tetapi waktu itu dirinya hanya dengan modal sedikit dari hasil keuntungan menjual ‘Uta Kabaho’ sebelumnya. Karena sudah saling kenal dan terjalin baik dengan beberapa kelompok nelayan di wilayah pesisir, sehingga sisa harga dari 200 karbox ikan tersebut, dibayar belakangan setelah ikan terjual.

 

Baca Juga :


“Memang sudah dipercaya seperti itu. Yang penting saya jujur tetap membayarnya. Paling lambat tiga hari saja,” kisah M Nor.

            M Nor mengaku, wilayah pengambilan ikan Tenggiri dan sejenisnya ini, tidak pada satu tempat saja. “Terkadang ada di desa Rompo Kecamatan Langgudu, wilayah pesisir Desa Nggeri Kecamatan Donggo, Sape, Hu’u dan Kempo Kabupaten Dompu. Waktu pengambilan pun, kadang saya berangkat setelah sholat magrib dan waktu subuh. Itu pun setelah saya menerima telepon dari nelayan,” tuturnya.

            Belum lagi jika kita menjual setelah ikan tersebut diproses menjadi ‘Uta Kabaho’. Keuntungannya bisa dua kali lipat dari harga ikan mentah. “Hanya saja, untuk menjadikan ‘Uta Kabaho’ yang siap disaji ini, butuh sedikit waktu. Seperti menyiapkan beberapa ikat kayu bakar dan kelopak daun pohon pinang.

            Seiring berjalannya waktu, perkembangan usahanya jauh terus meningkat. Begitu pula empat orang anaknya hingga berumah tangga dan membangun rumah sendiri berkat hasil dari usaha yang awalnya dilakoni M Nor, orang tua mereka.

            Hingga sekarang ini, M Nor juga telah memiliki tiga mobil pick-up, termasuk satu dari empat orang anaknya itu. Keberhasilan dalam usahanya, juga menjadi keberhasilan bersama bagi sedikitnya 300 lebih kepala keluarga di dusun Lara yang semula terinspirasi dari usaha yang dilakoni M Nor sebelumnya. Beberapa hal-hal yang kurang bersahabat di kampung itu, sudah lama tak lagi nampak. Karena mereka lebih berfokus pada usaha jual ikan mentah maupun yang sudah matang seperti  ‘Uta Kabaho’ sekarang ini.

            Jika anda pernah melintasi jalan raya nasional tepatnya di Dusun Lara Desa Tambe, atau 100 meter sebelah timur Kantor PLN Bolo—maka anda akan melihat aktivitas beberapa warga masyarakat yang membuat ‘Uta Kabaho’ di tepi jalan raya. Asap tebal dan bara api yang dilihat sekitar rumah-rumah warga maupun dipinggir jalan raya, berarti menandakan adanya aktivitas warga yang sedang mengeram atau membuat ‘Uta Kabaho’. Begitu pula bila kita ingin merasakan nikmat dan lezatnya daging ikan yang dikemas dalam “Uta Kabaho” tersebut, maka sambalnya adalah “Bohi Dungga”.  

            Kesenjangan sosial, ekonomi maupun pengangguran—sudah tidak terlihat di Dusun Lara. Karena dengan usaha menjual ikan mentah maupun dalam bentuk kuliner kampung (Uta Kabaho) salah satunya, adalah peluang sukses bagi mereka sehingga mampu memberikan kesejahteraan bagi keluarga. Begitu pula menjadi petani sawah, ladang, kusir benhur, ojek, tenaga istalatir listrik, adalah pekerjaan sampingan bagi kelompok-kelompok pemuda di dusun tersebut.

            Maka tak heran—meskipun dengan keterbatasan sumberdaya manusia—namun di Dusun Lara ini juga mampu mengantar seorang wakil rakyat di Parlemen kabupaten Bima. Padahal, jumlah pemilih di dusun ini sekira 300 lebih pemilih, namun berhasil mengantar seorang dari mereka untuk tiga kali berturut-turut menjadi anggota DPRD hingga pada Pileg 9 April 2014 lalu.

            Keberhasilan dan kesuksesan itu pula, tak luput adanya komitmen serta kebersamaan warga masyarakat di Dusun Lara untuk menggapai impian hidup mereka. Begitu pun dirasakan M Nor yang dianggap warga dusun Lara sebagai sosok inspirator, yang hanya berawal dari usaha jual ikan secara kecil-kecilan hingga menjadi besar. Kini M Nor telah mendapatkan apa yang menjadi impiannya selama belasan tahun silam, yaitu ia telah menyetor biaya persiapan naik haji bersama istrinya.

            Jika anda tertarik dan ingin mengetahui serta melihat langsung bagaimana proses pembuatan ‘Uta Kabaho’ yang menjadi tenar sebagai khas Kuliner Kampung di Dusun Lara ini, maka luangkan waktu libur anda.(adi) -03



 
KM Bolo

KM Bolo

Koordinator: SURYADIN Alamat : Jl. Lintas Sumbawa No.53 Desa Rasabou Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Prov. NTB Admin: Agus Setiawan (082339467728) email:kmbolo@ymail.com Kontak Person: 085-25332-3535 ANGGOTA: Didin, Buhari, Rahmi, Can

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan