logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ombak Besar, Akmaludin Kumpulkan Uang

Ombak Besar, Akmaludin Kumpulkan Uang

KM. Sukamulia – Sungguh Allah mengatur hidup makhluknya dengan keadilan yang teramat sangat agung. Uasai penanda tanganan penerimaan Insentif Pengelola dan

Cerita Inspirasi

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
07 Desember, 2016 16:02:36
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 14724 Kali

KM. Sukamulia – Sungguh Allah mengatur hidup makhluknya dengan keadilan yang teramat sangat agung. Uasai penanda tanganan penerimaan Insentif Pengelola dan Guru PAUD/TK/RA, saya dan saudara Badri mampir ke Labuhan Carik untuk kepentingan cari angin doing. Setiba di Labuhan Carik, kami turun ke pantai dan di sana kami melihat seorang laki-laki separuh baya tengah mengumpulkan kerikil-kerikil kecil yang berserak di pinggir pantai. Sepertinya laki-laki itu tidak perduli dengan teriknya sinar mentari dan gerahnya cuaca pantai.

Penuh rasa penasaran, saya pun menghampiri dan mengajaknya berbincang sambil membantunya mengumpulkan kerikil pantai. Subhannallah, ternyata laki-laki yang bernama Akmaludin itu mengumpulkan kerikil untuk dijual dan kegiatan itu ia lakukan guna mengisi dan memanfaatkan waktu di saat ombak sedang besar. Ternyata, penghasilan yang diperoleh dari kegiatan mengumpulkan kerikil pantai itu cukup besar, yakni sekitar  Rp. 80.000,-/hari. Yachhhh lumayan sich jika dibandingkan dengan gaji saya sebagai seorang guru honor. Heheeee maaf, bukan maksud untuk merendahkan profesi dan pendapatan guru honor, hanya sebagai penegasan saja bahwa pendapatan Akmaludin dari mengumpulkan kerikil pantai itu lumayan besar.

Saya kagum atas semangat kerja laki-laki setengah baya yang berasal dari Dasan Lendang Desa Anyar Kecamatan Bayan ini. Yach… pekerjaan sehari-harinya adalah melaut, yakni menangkap ikan dengan menggunakan alat berupa pancing. Namun beberapa minggu terahir ini ombak di sekitaran Pantai Labuhan Carik cukup besar sehingga aktifitas menangkap ikan tidak bisa ia lakukan bersama nelayan lainnya. Jika ia tidak melakukan kegiatan lainnya maka ia akan nganggur dan tidak akan mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah dua orang anaknya.

Saya hanyalah seorang pemancing, di sini saya tidak punya sawah ataupun ladang, yang saya punya hanya sebuah sampan kecil dan alat-alat memancing sehingga setiap harinya saya mencari rizki lewat jalan memancing ikan di tengah lautan. Penghasilan dari memancing tidak karuan, tergantung nasib dan keberuntungan saja namun alhamdulillah meskipun demikian saya dapat menyekolahkan anak-anak saya, cerita Akmlaudin sambil terus mengumpulkan kerikil yang berserakan di depannya.

Akmaludin juga menceritakan bahwa mengumpulkan kerikil atau yang disebut dengan nama jagungan itu adalah kegiatan musiman saja sebab tidak setiap saat ombak memuntahkan kerikil halus itu. kerikil atau jagungan dimuntahkan ke pinggir pantai hanya pada saat ombak sedang besar. Jika ombak besar maka ia tidak dapat memancing dan momen itu digunakan untuk mengumpulkan jagungan yang dimuntahkan ombak. Dengan demikian, tidak ada waktu yang ia sia-saiakan untuk mencari dan mengumpulkan rizki.

Ketika ombak sedang besar, ya saya dan kawan-kawan tidak bisa turun bernelayan. Untungnya, ombak besar itu memuntahkan jagungan ke pinggir pantai sehingga musim ombak besar saya manfaatkan untuk mengumpulkan jagungan. Penghasilannya juga lumayan kok, kata laki-laki beranak dua itu sambil melontarkan senyuman kepada saya.

Beliau menceritakan bahwa jagungan yang ia kumpulkan itu dijual kepada pengusaha jagungan dan jagungan itu dimanfaatkan untuk pengaspalan jalan. Untuk satu dum truk jagungan bisa dikumpulkan selama 4 atau 5 hari, itu jika ia kerja sendiri namun jika ia dibantu oleh anak dan istrinya maka satu dum jagungan bisa dikumpulkan dalam waktu 3 hari saja. Satu dum jagungan ia jual dengan harga Rp. 400.000,- dan pembayarannya tunai. Lumayan kan, jika dirata-ratakan ia dapat mengumpulkan satu dum dalam waktu 5 hari maka setiap harinya beliau mendapatkan uang sebesar Rp. 80.000,-.

Mendengar ceritanya, rasanya saya semakin asyk menemaninya mengumpulkan kerikil. Dia juga enak diajak ngomong sehingga saya terus melontarkan pertanyaan mengenai apa yang sedang ia kerjaakan saat itu. Dia juga memberikan jawaban dengan lancar, heheeeee bro ini kayak penguji yang menguji murid dengan ujian lisan saja, kata saudara Bardi yang duduk di dekat saya.

Suer, saya kagum dan bangga banget melihat kegigihan sosok Akmaludin dalam mencari rizki. Belua juga bercerita bahwa selama musim ombak besar, beliau juga mengumpulkan batu pantai dan batu pantai itu beliau pecah selama musim ombak besar pula. Yach, sungguh pada musim ombak besar, pak Akmaludin betul-betul mengumpulkan uang. Untuk menghasilkan satu dum truk batu pecahan, beliau membutuhkan waktu 6 hingga 8 hari dan itu dijual dengan harga Rp. 450.000,-/dum.

 

Baca Juga :


Pekerjaan mengumpulkan jagungan dan memecah batu itu memang pekerjaan musiman bagi Akmaludin, namun dari kegiatan itu beliau memperoleh hasil yang lumayan. Pekerjaan mengumpulkan jagungan dan memecah batu memang pekerjaan yang lumayan berat, lebih-lebih itu dilakukan di bawah terik matahari. Taukan bagaimana panasnya di pantai, apalagi pada saat siang hari.

Kegiatan mengumpulkan kerikil jagungan bukan hanya sekedar mengumpulkan doank namun setelah ditimbun, jagungan itu harus ditimbun di tempat yang tidak terjangkau oleh hempasan ombak. Dengan demikian, untuk mengumpulkan jagungan, pak Akmaludin juga haru memikul jagungan itu menggunakan alat berupa bak atau karung dan kemudian ditimbun di tempat yang agak jauh dari jangkauan hempasan ombak. Namun demikian pak Akmal tidak mengeluhkan pekerjaan itu demi memenihi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak-anaknya.

Pak Akmaludin mempunyai dua orang anak, anak pertamanya duduk di bangku kuliah. Kata pak Akmaludin sich anak perempuannya yang bernama Is sudah smester 7 di UNW Tanak Song dengan mengambil jurusan Administrasi dan anak keduanya masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Biaya pendidikan anak-anaknya didapatkan dari kegiatan memancing dan mengumpulkan jagungan serta batu pantai pada musim ombak besar.

Yach… demikianlah keadilan Allah SWT kepada setap makhluk-NYA. Dari sosok setangah baya ini kami dapat mengamnbil pelajaran bahwa bekerja dengan iklas dan penuh semangat adalah hal yang utama untuk mendapatkan rizkin. Kami juga dapat mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh meremehkan pekerjaan seseorang sebab belum tentu pendapatan yang kita peroleh dari pekerjaan yang kita lakukan akan lebih besar dari pendapatan orang lain dari pekerjaan yang digelutinya.

Semoga artikel kali ini dapat kita jadikan sebagai inspirasi untuk tetap semangat, berlaku ikhlas dan sabar, serta memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Allah untuk bekerja dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri dan keluarga kita pada khususnya dan bagi orang lain pada umumnya. Semoga Allah melimpahkan karunia dan ridha-NYA kepada kita sekalian.

_By. Asri The Gila_ () -03



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan