logoblog

Cari

Menelusuri Makam Purba

Menelusuri Makam Purba

KM. Sukamulia – Sahabat Kampung Media masih ingatkan dengan tulisan saya yang berjudul “Ada Makam Purba di Lendang Nangka”. Setidaknya ada

Cerita Inspirasi

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
19 April, 2015 07:40:20
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 9833 Kali

KM. Sukamulia – Sahabat Kampung Media masih ingatkan dengan tulisan saya yang berjudul “Ada Makam Purba di Lendang Nangka”. Setidaknya ada 3 orang pembaca artikel ini telah menghubungi saya. Mereka mengajak saya untuk berkunjung ke lokasi Makam Purba itu dan Alhamdulillah hari ini (Sabtu, 18 April 2015) saya bisa bertemu dan bersama-sama untuk menelusuri sejarah Makam Purba itu. Mari kita mulai ceritanya.

Kamis (09 April 2015), sekitar pukul 09.15 Wita nada panggil HP saya berdering. Bergegas saya mengeluarkan HP yang saya taruh di dalam saku celana saya. Setelah saya lihat, nomor yang masuk itu tidak ada namanya alias nomor baru. Dengan rasa penasaran saya langsung menjawab panggilan itu.

“Hallo, assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh”, demikianlah suara yang terdengar dari sepeker HP saya.

“Iya, waalaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh”, jawab saya.

“Ini dengan saudara Asri The Gila, KM. Sukamulia”, katanya.

“Iya, benar semeton… ini Asri The Gila, memang ada apa ?”, tanya saya.

“Tidak ada apa-apa semeton, saya penasaran setelah membaca posting yang semeton tulis di Kampung Media”, jawab orang itu.

Saya bertanya lagi, “Och, tulisan yang mana semeton ?”

“Tulisan yang berjudul Ada Makam Purba di Lendang Nangka, tulisan itu bagus sekali”, katanya sambil tertawa kecil.

“Ahhh, biasa saja semeton… oya siapa nama semeton, terus semeton dari mana ?”

Dia menjawab, “Oya, nama saya Andi dari Desa Lendang Nangka, boleh saya ketemu dengan semeton sebeb ada beberapa hal yang perlu saya diskusikan dengan semeton ?”, ungkapnya.

“Bolehlah semeton, kalau saya sich kapan-kapan semeton mau ketemu, insyallah saya siap, heheee”, jawab saya dengan nada girang.

“Terimakasih sebelumnya, jika pelungguh punya kesempatan saya harap kita bisa bertemu di Makam Lendang Nangka atau jika pelungguh kayun datang saja ke gedeng saya”, ungkapnya.

“Ok semeton, insyallah hari Sabtu yang akan datang saya akan berkunjung lagi ke makam itu” tegas saya.

“Ok sudah nanti kita koling-kolingan, oya sudah berapa kali semeton ke makam itu ?”

“Saya menjawab, “Baru dua kali semeton.”

“Tapi semeton sudah banyak tau tentang makam itu, iya saya tunggu kedatangannya”, harap Andi.

“Ok dah semeton”, jawab saya.

 “iya sudah, terimakasih atas waktunya dan saya tunggu kedatangannya, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu”, mengahiri komunikasi itu.

“Waalaikum warahmaulullahi wabarakatuh”, jawab saya.

Demikianlah komunikasi antara Andi dan saya yang berlangsung sekitar sembilan menit. Setelah komunikasi itu berahir, saya penasaran sama orang itu. “Hal apa yang akan ia diskusikan dengan saya ?”, begitulah segelumit pertanyaan yang muncul dalam benak saya.

Dua hari kemudian saya ada nomor baru yang masuk di HP saya. Saya bergegas menjawab panggilannya dan setelah beberapa menit berkomunikasi, orang itu mengaku diri berasal dari Tasik pulau Jawa. Ia juga mengaku bahwa ia merasa penasaran akan penemuan Makam Purba itu.

“Ini Asri, S.Pd ?”, katanya diawal komunikasi.

“iya, ini saya. Ini siapa dan dari mana”, tanya saya.

“Saya Mamat dari Tasik pulau Jawa, saya membaca tulisan anda yang berjudul “Ada Makam Purba di Lendang Nangka”, sepertinya itu sangat bagus sekali.

“Oh iya, biasa aja kawan”, jawab saya.

Ia berkata, “ia memang biasa-biasa saja, tetapi saya penasaran saja dengan cerita yang saudara tulis di KM. Sukamulia itu. Oya KM. Sukamulia itu apa ?”, katanya dengan nada penasaran.

“KM. Sukamulia itu nama halaman blog saya di Portal Kampung Media NTB kawan”, jelas saya.

“ Oh, saya kira itu nama gerup anda yang mengkaji masalah sejarah”, katanya heran.

“Bukan kawan, Kampung Media NTB itu adalah Portal Jurnalis NTB yang dikelola oleh pemerintah Provinsi NTB dan berpusat di Mataram. Di halaman Kampung Media saya dan pengelola Kampung Media lainnya mempublikasikan berita, artikrl, pusi dan berbagai informasi lainnya yang berasal dari kampong halaman kami”, papar saya.

Ia menjawab, “Hehee, saya kira itu nama gerup. Saya penasaran dengan makam itu, kalau boleh posting dong sejarah lengkap makam itu”, katanya.

“Insyallah kawan, saya akan berusaha untuk mencari informasi yang berkaitan dengan keberadaan makam itu dan nanti informasi-informasi itu pastinya akan saya posting di halaman Kampung Media NTB”, jelas saya.

“Ok dah kawan, terimakasih atas waktunya dan saya tunggu informasi selanjutnya”, tegas orang itu.

“Ok kawan, sama-sama”, jawab saya sebelum ia mengahiri panggilannya.

Waduhhhh, ternyata tulisan-tulisan di Kampung Media juga dibaca oleh orang Jawa, gumam saya di dalam hati. Heheee, untuk itu sahabat-sahabat Kampung Media tidak perlu berkecil hati sebab tulisan-tulisan kita di Kampung Media bukan hanya dibaca oleh orang NTB, namun tulisan-tulisan yang sudah kita masukkan di KM juga dibaca oleh warga Nusantara dan bahkan oleh penduduk dunia.

Saya lanjutin ceritanya ea kawan, Hari Kamis (17 April 2015), kira-kira pukul 14.27 Wita, lagi-lagi saya mendapatkan pesan singkat dari pembaca Kampung Media. Katanya sich orang ini juga sudah membaca artikel saya yang berjudul “Ada Makam Purba di Lendang Nangka” dan beberapa artikel serta puisi-puisi yang saya posting di Kampung Media. Setelah membaca artikel itu, ia merasa penasaran dan mau mengajak saya untuk menelusuri sejarah keberadaan makam itu.

Orang yang ketiga ini adalah Andri dari Desa Kesik Kecamtan Masbagik. Laki-laki ini adalah alumni Mahasiswa STKIP Program Studi IPS. Setelah berkomunikasi panjang lebar lewat media sms, kami-pun berjanji untuk bertemu dan berekpedisi ke Makam Purba pada hari Sabtu.

Singkat cerita, Sabtu, 18 April 2015 saya menepati janji saya kepada kedua orang pembaca Kampung Media itu.  Pukul 10.18 Wita, saya menghubungi Andri untuk memastikan bahwa kami bisa bertemu. Andri mengajak saya bertemu di kediamannya dan saya menyetujui permintaan itu.

Sekitar pukul 11.00 Wita saya berangkat dari Sukamulia menuju Kesik bersama keponakan saya (M. Dian Apridai). Setelah kurang lebih 45 menit mengendarai motor, sampailah kami di Perempatan Paok Motong. Di sana kami menghubungi Andri. Setelah diberikan petunjuk menuju kediamannya, kamipun meluncur menuju Desa Kesik dan 15 menit kemudian, kami sampai di kediaman Andri.

Pemuda itu menyambut kami dengan senyuman dan mempersilahkan kami masuk di kediamannya. Pemuda ini mengawali pembicaraannya dengan Kampung Media. Ia bercerita bahwa ia dan siswanya sangat gemar membaca posting-posting di halaman Kampung Media. Ia juga mengaku bahwa ia dan siswa-siswinya sering mengkopi puisi-puisi saya yang bertema kenegaraan dan bahkan pemuda itu memutarkan saya sebuah video teater siswa-siswinya yang di ahir video itu, seorang tokoh dalam video itu membaca puisi saya yang berjudul “Apa Kabar Indonesia”.

Heheeee saya merasa bangga atas hal itu dan saya memintanya untuk bergabung di halaman Kampung Media, namun ia hanya menjawab insyallah.

 

Baca Juga :


Sambil menikmati teh yang dihidangkan oleh pemuda itu, saya menghubungi Andi yang juga telah saya janjikan untuk bertemu pada hari yang sama. Setelah saya hubungi, Andi mengajak saya dan kawan lainnya untuk bertemu di Makam Lendang Nangka.

Saya, Dian dan Andri bergegas menghabiskan teh yang terhidang di atas meja ruang tamu kediaman Andri. Setelah itu kami meluncur ke Makam Lendang Nangka. Pukul 14.54 Wita kami bertemu dengan Andi di Sekenem yang berada di depan rumah penjaga makam itu.

“Mana yang namanya pak Asri ?”, tanya Andi.

Sambil tersenyum saya mengajungkan tangan, “Saya pak”, kata saya sambil mendekat dan kemudian berjabat tangan dengannya. “saya Andi pak, nama lengkap saya Lalu Achamd Nofiyandi, M. Pd”, katanya memperkenalkan diri. Saya tercengang mendengar bahwa anak muda ini telah menyandang gelar Master Pendidikan.

“Saya bangga bertemu dengan saudara”, kata Andi sambil menepuk punggung saya.

“Ah biasa saja semeton, saya tidak ada apa-apanya kok”, jawab saya sambil melontarkan senyuman malu-malu.

“Suer, saya bangga bertemu semeton sebab tidak banyak orang Lombok yang mempunyai keperdulian untuk menulis dan mempublikasikan sejarah budaya Lombok seperti yang anda miliki. Jika saja banyak kawan-kawan sasak atau kawan-kawan dari Lendang Nangka yang punya keperdulian seperti semeton mungkin sejarah Lombok tidak akan menjadi misteri”, paparnya sambil manggut-manggut.

“Santai saja semeton, insyallah masih banyak kawan lain yang juga peduli terhadap sejarah budaya kita”, jawab saya meyakinkannya.

“Jujur, saya adalah Dosen STKIP di program studi Bahasa Inggirs tetapi saya sangat tertarik untuk mengkaji masalah sejarah dan budaya Lombok, makanya saya sangat berharap untuk bertemu semeton dan Alhamdulillah kita bisa bertemu hari ini”, katanya bangga.

Saya menjawab, “ok semeton, saya juga bisa bangga bisa bertemu dengan semeton sebab paling tidak semeton sudah punya pengetahuan yang lebih luas dari pada pengetahuan saya, khususnya tentang makam ini”.

“Kalau mengenai makam ini, paling tidak say sudah tahu banyak hal tentang cerita dan legendanya. Cerita legenda mengenai makam ini sebetulnya sudah ada sejak lama dan itu kami dapatkan dari nenek moyang kami secara turun temurun, hanya saja makam ini baru dibongkar pada awal 2015 ini. Makanya saya sangat terkesan untuk memperdalam pengetahuan tentang makam ini, sudah sering saya membuka posting di internet namu hanya tulisan semeton yang saya anggap cukup rapi dan singkron. Oleh sebab itu saya ingin memberikan informasi kepada semeton dan saya juga meminta semeton untuk mempublikasikannya supaya legenda yang berkaitan dengan makam ini diketahui oleh halayak rama”, paparnya.

“Insyallah semeton, saya sangat berharap semeton bisa menceritakan saya mengenai legenda itu dan tentunya cerita itu akan saya posting di halaman Kampung Media”, uangkap saya di hadapan Andi dan kawan-kawan lainnya.

Andi menjawab, “ok semeton, nanti kita bercerita setelah kita melihat-lihat keadaan makam. Sekarang, ayo kita ke makam, setelah itu saya akan menceritakan legenda yang saya maksud tadi”, ajaknya.

Setelah itu kami berjalan menuju lokasi Makam Purba. Sesampai di lokasi, satu persatu Andi menunjuk dan mendekati Makam Utama sambil menyebut nama pemilik makam beserta ceritanya masing-masing. dengan hikmat kami mendengar cerita itu sambil mencatatnya supaya nantinya bisa saya publikasikan di halaman Kampung Media.

Setelah kurang lebih 30 menit mengelilingi lokasi Makam Purba, hujan turun dengan lebatnya. Andi-pun mengajak kami untuk kembali ke rumah penunggu makam itu. Sesampai di sana, kami duduk dan memesan kopi pada orang yang berjualan di lokasi itu. Sambil menikmati hangatnya kopi, saya, Andri, dan M. Dian mendengar cerita yang dipaparkan oleh Andi. Setelah kurang lebih bercerita, saya memotong cerita yang dipaparkan oleh saudara Andi sebab saya ingin mencatatnya.

“Maaf semeton, boleh saya catat cerita yang pelungguh paparkan tadi”, potong saya.

“Oya, boleh semeton, tulis saja cerita ini dan saya harap cerita legenda ini bisa saudara posting di Kampung Media supaya dibaca oleh halayak ramai”, jawabnya sambil mempersilahkan saya untuk mencatat ceritanya.

Bergegas saya ambil lembaran kertas dan bolpoin yang ada di dalam tas punggung saya dan mempersilahkan Andi untuk mengulang ceritanya. Pemuda yang bergelar Master Bahasa Inggris ini bercerita dengan kronologis. Cerita itu ia beri judul “Putra Mahkota Yang Hilang”, dengan penuh semangat saya mencacat cerita itu pada lembaran-lembaran kertas kusam yang tadinya tersimpan di dalam tas saya.

Ketika Andi sedang sik bercerita dan saya sedang asik menulis ceritanya, 2 unit sepeda motor dengan 4 orang yang mengendarainya berhenti di dekat berugak tempat kami duduk itu. Mereka datang dengan keadaan basah kuyup.

“Maaf pak, dimana lokasi Makam Purba”, Tanya seorang wanita yang usianya jauh lebih tua dari 3 orang temannya.

“Oh, niki sudah lokasinya bu, silahkan istirahat dulu di sini nanti setelah hujan reda kita bareng-bareng ke lokai Makam Purba”, jawab pak Andi sambil mempersilahkan ke 4 perempuan itu .

“Iya pak. Oya bapak peneliti sejarah ea ?’, kata ibu itu sambil menunjuk saya yang sedang menulis cerita dari pak Andi.

“Beliau ini penulis bu”, jawab Andi sambil menunjuk saya, sedangkan saya hanya tersenyum simpul mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Andi.

“Saya penasaran dengan makam ini, saya sudah membacanya di internet dan juga diceritakan oleh kawan-kawan saya”, kata perempuan itu.

“Ibu membaca di halaman Kampung Media ia”, tanya saya sambil sedikit lelucon.

“Ia, memang bapak tahu”, katanya.

“Beliau yang mempostingnya di sana”, sambung Andri.

“Baguslah kalau begitu, berarti kita di sini satu tujuan dong”, kata ibu itu sambil menggigil kedinginan.

Singkat cerita, kami berkenalan dengan Ibu itu, ternyata dia adalah Guru Sejarah di MA. Muallimat Pancor, namanya Ibu Muaddah dan ketiga orang lainnya adalah siswi kelas dua MA. Mualiilat Pancor yang juga penasaran akan keberadaan makam itu.

Banyak hal yang kami bicarakan dengan sambil menunggu hujan reda. Pukul 17.55 Wita, hujan mulai reda dan kamipun kembali memasuki lokasi Makam Purba. Banyak informasi yang kami dapatkan dari Lalu Achmad Npfiyandi, M. Pd yang akrap dipanggil Andi itu. Kurang lebih 30 menit kami berkeliling di lokasi dan haripun mulai malam. Adzan Magrib terdengar dikumandangkan dari berbagai penjuru.

Kami memutuskan untuk kembali ke rumah penjaga makam. Ibu Muaddah beserta ketiga orang siswinya langsung pulang dan mengajak kami untuk bertemu lagi di lokasi itu sebab beliau berkeinginan untuk membawa siswi-siswinya yang lain untuk berkunjung ke makam ini. Sedangkan kami berempat memutuskan untuk shalat magrib di berugak sekenem itu.  

Sambil menunggu gentian untuk shalat, saya dan Andi menyelesaikan sesen pertama cerita Putra Mahkota Yang Hilang. Setelah ceritanya selesai, saya dan Andi melaksanakan shalat magrib. Selesai shalat magrib, kami sempat berbicara selama kurang lebih 5 menit. Dalam pembicaraan itu kami berjanji akan melakukan pertemuan lagi untuk menyelesaikan cerita tentang Putra Mahkota Yang Hilang dan mendatangi lokasi-lokasi lain yang ada kaitannya dengan keberadaan Makam Purba.

Setelah itu kami memutuskan untuk pulang dan dipersimpangan jalan menuju makam kami berpisah, untuk kembali ke rumah masing-masing.

“Kami tunggu postingnya tentang perjalanan kita hari ini dan cerita Putra Mahkota Yang Hilang”, kata Andi dan Andri sambil melambaikan tangannya.

Demikianlah cerita penelusuran saya bersama beberapa orang pembaca Kampung Media. Saya merasa bahagia dengan pertemuan ini sebab hari ini saya mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang keberadaan Makam Purba Lendang Nangka dan insyallah cerita Putra Mahkota Yang Hilang dan informasi-informasi lain yang berkaitan dengan Makam Purba akan saya posting di halaman Kampung Media. [] - 05

_By. Asri The Gila_

 

 



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan