logoblog

Cari

Bertani di Tengah Sungai

Bertani di Tengah Sungai

KM. Sukamulia – Kegiatan pertanian biasanya dilakukan di sawah dan ladang, namun kelompok petani yang satu ini sangatlah beda, mereka melakukan

Cerita Inspirasi

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
16 April, 2015 21:35:01
Cerita Inspirasi
Komentar: 7
Dibaca: 22776 Kali

KM. Sukamulia – Kegiatan pertanian biasanya dilakukan di sawah dan ladang, namun kelompok petani yang satu ini sangatlah beda, mereka melakukan kegiatan pertanian di tengah sungai. Saya sudah lama penasaran dengan kegiatan pertanian yang dilakukan oleh kelompok petani ini. Lahan pertanian mereka terlihat hijau pada musim panas, sedangkan pada musim penghujan lahan pertanian mereka digilas oleh derasnya aliran air sungai.

Sudah dua minggu terahir ini, hampir setiap hari saya berlalu lalang melalui jembatan yang menghubungkan Desa Pohgading dengan Desa Batuyang. Awalnya saya melihat beberapa orang wanita melakukan aktifitas di sungai yang berada di bawah jembatan itu. Mereka mengumpulkan batu-batu sungai, batu itu kemudian mereka susun menyerupai pematang. Saya juga melihat mereka memasukkan batu sungai ke dalam karung dan karung-karung yang terisi batu itu kemudian mereka susun menjadi pematang dan terbentuklah petakan-petakan lahan pertanian di sepanjang aliran sungai.

Setelah petakan-petakan lahan pertanian itu terbentuk, wanita-wanita itu mengisinya dengan tanaman kangkung. Kegiatan yang mereka lakukan itu menyita perhatian saya, namun saya tidak pernah sempat untuk mengambil potonya. Sepulang ngawas dari SMKN 1 Sambelia siang tadi, saya melihat petakan-petakan lahan pertanian di tengah sungai itu sudah hija. Saya berhenti di atas jembatan dan membidikkan lensa kamera HP saya ke arah lahan itu dan tertangkaplah foto tiga orang perempuan yang sedang melakukan aktifitas di sekitar lahan.

Dokumen foto sudah saya dapatkan, namun saya belum puas sebelum mendapatkan sedikit informasi dari pelaku aktifitas itu. Dengan rasa penasaran, saya turun ke sungai dan menyapa seorang perempuan yang sedang memperbaiki pematang lahan pertanian kangkungnya dan ditempat yang agak jauh juga terdapat beberapa orang wanita yang sedang melakukan kegiatan yang sama. Perempuan itu bernama Inah Agus, warga Desa Pohgading yang tinggal di perkampungan yang berjejer di sekitar aliran sungai dan katanya sich dia sudah berusia 42 tahun.

“Apa yang ibu kerjakan”, kata saya. “saya sedang memperbaiki pematang sawah saya yang jebol”, jawabnya. Saya bertanya lagi, “ada berapa petak sawah yang ibu buat”. “Ada empat petak nak”, jawabnya sambil menunjuk lahan pertanian kangkungnya. Tanpa ditanya lagi, Inaq Agus bercerita kepada saya, “lihatlah nak, inilah yang ibu kerjakan ketika musim hujan mulai berahir. Sejak dua minggu yang lalu saya dan puluhan warga sekitar membuat petakan di tengah sunagi in, kemudian petakan ini kami tanami kangkung dan sekarang kangkung ini sudah mulai menjalar dan insyallah dua atau tiga minggu lagi kami akan mulai memanennya”, jelas perempuan itu.

“Selain menanam kangkung di petakan ini, apakah ibu punya pekerjaan lain”, tanya saya setelah ia selesai bercerita. “Tidak ada nak, kami yang menanam kangkung di tengah sungai ini rata-rata tidak mempunyai sawah sebab itulah kami membuat sawah di tengah sungai ini”, jawabnya sambil tetap memungut batu untuk memperbaiki petakan kangkungnya.

Hampir setengah jam saya berkomunikasi dengan perempuan itu sehingga saya mendapatkan informasi yang cukup mengenai kegiatan pertanian yang ia lakukan bersama petani lainnya di tengah sunagi itu. Inaq Agus juga bercerita, setelah kangkungnya berusia 1 bulan maka mereka sudah bisa memanen dan memasarkannya di Pasar Desa Pohgading atau ke pasar-pasar terdekat lainnya. Kangkung yang beliau tanam ini bisa bertahan lama jika tidak ada banjir. Bisanyanya kangkung yang mereka tanam itu bisa bertahan hingga 3 bulan, setelah itu ia akan membersihkan lahannya dan kembali menanaminya bibit kangkung yang baru.

Dari kegiatan bertani di tengah sungai ini, Inaq Agus dan para petani kangkung lainnya bisa memperoleh hasil yang lumayan dan setidaknya penghasilannya itu bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya dan bahkan bisa juga digunakan untuk menambah uang jajan anak-anaknya yang sekolah.

 

Baca Juga :


Jika kangkung sudah berusia satu bulan setengah, Inaq Agus dan teman-temannya bisa memanen kangngkung setiap hari. Satu pesel kangkung bisa dijual dengan harga Rp. 1000,- dan dari satu petak kangkung, ia bisa mendapatkan 80 hingga 100 pesel.

Saya terkesan mendengar cerita dari Inaq Agus, hitung saja jika setiap hari Inaq Agus mendapatkan hasil panen sebanyak 60 pesel/ikat, kemudian setiap satu ikan kangkung dijual dengan harga Rp. 1.000,- berarti setiap bulannya Inaq Agus bisa mendapatkan hasil sejumlah 60 pesel x Rp. 1.000 x 30 hari = Rp. 1.800.000. Dengan demikian, setiap bulan Inaq Agus dan kawan-kawannya memperoleh hasil sejumlah Rp. 1.800.000 dari hasil panen kangkungnya.

Kini terjawablah rasa penasaran saya terhadap seluk beluk kegiatan bertani di tengah sungai. Kegiatan ini tidak membutuhkan modal, modalnya hanya keinginan dan kreatifitas. Hanya bermodal kretaifitas dan kesungguhan, para petani kangkung di Kokok Desa Pohgading bisa mendapatkan hasil yang cukup besar.

Bersyukurlah kita atas jasa mereka, sebab tanpa kreatifitas dan usaha mereka, mungkin kita akan kesulitan mendapatkan kangkung, padahal pencing kangkung adalah makanan yang cukup paforit di kalangan masyarakat Lombok pada umumnya dan masyarakat Kecamatan Pringgabaya pada khususnya.

Oya, dari informasi yang beredar, Kokok Desa Pohgading merupakan penghasil kangkung terbesar di sekitar wilayah Kecamatan Pringgabaya dan bahkan kangkung yang dihasilkan di sungai ini terkenal paling enak jika dibandingkan dengan kangkung yang dihasilkan di tempat lainnya. [] - 01

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

7 KOMENTAR

  1. KM Pohgading Timur

    KM Pohgading Timur

    19 April, 2015

    kangkung obat sehat pengharum bau mulutttt....banyak makan kanggkung jadi banyak tidurrrr


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      03 Mei, 2015

      Betul banget... Kangkung juga bahan dasar pembuatan kuliner pavorit yang disebut dengan nama pelcing...


  2. KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    18 April, 2015

    oh di lombok timur ini kayaknya...dekat pantai telindung....


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      19 April, 2015

      Betul sekali pak, ini di Desa Pohgading, sekitar 1,5 Km dari lokasi Pantai Telindung.


  3. KM Kaula

    KM Kaula

    17 April, 2015

    salut buat ibu-ibu yang sangat kreatif juga buat penulis yang lebih sangat kreatif.


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      19 April, 2015

      salut juga atas kesempatan KM. Kaula membaca dan memberikan komentrar terhadap artikrl ini. Terimakasih atas apresisasi dan motivasinya, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan orang-orang kreatif dan mempublikasikan kreatifitas mereka di halaman Kampung Media.


    2. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      19 April, 2015

      salut juga atas kesempatan KM. Kaula membaca dan memberikan komentrar terhadap artikrl ini. Terimakasih atas apresisasi dan motivasinya, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan orang-orang kreatif dan mempublikasikan kreatifitas mereka di halaman Kampung Media.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan