logoblog

Cari

Menopang Hidup, Jualan Sate Keliling

Menopang Hidup, Jualan Sate Keliling

Keadaan boleh sulit tapi semangat hidup tetap membaja, semangat itu tetap di tunjukkan oleh Inaq Seno, Inaq Seno wanita paruh baya

Cerita Inspirasi

KM. Lingsar
Oleh KM. Lingsar
19 Februari, 2015 18:36:47
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 53397 Kali

Keadaan boleh sulit tapi semangat hidup tetap membaja, semangat itu tetap di tunjukkan oleh Inaq Seno, Inaq Seno wanita paruh baya yang di tinggal kawin oleh sang suami  akan tetapi tidak membuatnya putus asa, sudah bertahun-tahun Ia ditinggal kawin oleh sang suami untuk  yang ke empat kali. Untuk menopang kehidupan keluarganya Ia berjualan keliling.

Menempuh jarak kiloan meter dengan berjalan kaki Ia gantungkan hidupnya dari berjualan sate jeroan yang sudah dijalaninya sejak masih tinggal bersama suaminya, tak terasa puluhan tahun Ia habiskan waktunya berjualan keliling hingga begitu dikenal di beberapa Desa sebagai Pedagang sate Jeroan yang enak dan murah.

Hujan dan trik matahari tak pernah menghentikan langkahnya untuk pergi menjajakan Sate yang Ia persiapkan dari pagi, mulai dari membeli Jeroan di Pasar Sayang-sayang, memasak dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan dibantu oleh Nurjananh istri/madu yang ketiga dari suaminya. Suami yang menikahinya itu sekarang telah memiliki 4 istri dan Ia isteri pertama.

Inaq Seno memiliki 3 orang putra dan 1 orang putri yang ke empatnya sudah menikah dan hidup sendiri-sendiri, walaupun begitu tak pernah sedikitpun mengharapkan uluran tangan dari anak-anaknya  karena tak mau menjadi beban bagi mereka, bahkan dulunya pun ketiga putranya ketika di Negeri Jiran sangat jarang mengiriminya Ringgit.

Perempuan yang lahir 45 tahun silam terkenal sosok yang kuat dan gigih terlihat dari aktivitas sehari-ahri yang tidak pernah absen berjualan, hanya ketika sedang sakit atau tetangganya meninggal barulah Ia absen berjualan, terkadang kalau cuma sakit pusing atau filek tak mengurangi semangatnya berjualan.

Bangun jam lima pagi sudah menjadi rutinitas sehari harinya, sehabis solat Subuh lalu berangkat ke pasar Duman kalau hari minggu dan senin ke pasar Sayang-sayang untuk membeli Jeroan dipedagang daging dari Seganteng, di Tanya kenapa sepagi itu dengan senyum khasnya menjawab,” kalau kesiangan nanti jeroannya kurang segar malahan bau‘’ .

Satu persatu jeroan yang sudah dipotong potong kecil di tusuk dengan batang lidi dari pohon kelapa dan dijejer rapi di atas baskom, nenek yang sudah mempunyai empat orang cucu ini melanjutkan kisahnya,”tidak hanya sate jeroan sate pusut juga ada”, sate pusut buatan Inaq Seno terbuat dari parutan kelapa dicampur dengan Ragi namun tanpa campuran daging akan tetapi nikmatnya sungguh terasa apabila dihidangkan hangat-hangat dengan lontong dan sambal nyiur (parutan kelapa dengan sambaal).

Melihat caranaya menusuk satu persatu potongan jeroan dengan batang lidi sungguh cepat cekatan pantaslah kalau orang kapungnya memberikan julukan Inak sate karena sudah hampir 20 tahun menggeluti usahanya, sewaktu remaja pun sudah belajar dari sang ibu yang lebih dulu berjualan sate namun berjualan sate rumahan saja tanpa berkeliling seperti dirinya.

Setelah semuanya rampung mulai dari mencampur ragi dengan potongan jeroan hingga jadi ratusan tusuk sampai membakar sate pusut dan memasak lontong semua dilakukannya sendiri oleh karena itu dari pagi hingga sebelum waktu Ashar tiba semua yang dibawa utuk berjualan harus sudah benar-benar siap tanpa ada satupun yang tertinggal.

Warga yang sudah taka asing dengan rasa sate buatan Inaq Seno datang langsung tanpa menunggu Inaq Seno keliling kampung bahkan tak berat membantunya saat sedang membakar sate Pusut, “kalau lagi mujur tak perlu berkeliling sudah habis diborong tetangga” ucapnya sambil mengusap keringat yang membasahi kening, terkadang walaupun berkeliling dagangannya tidak habis terjual dan kalau demikian maka ia menjualnnya dengan harga murah karena kalau disimpan nantinya kurang enak.

 

Baca Juga :


Sate yang dijualnya pun sama dengan sate yang dijual di beberapa tempat namun karena terbiasa mengolah daging jeroan khususnya Usus sapi, satenya terbilang empuk dan gurih disamping yang menjadi cirikhasnya adalah pedas yang mencolok membuat lidah sedikit seperti tersengat aliran listrik dari batre akan tetapi sangat nikmat diwaktu hangat.

Dari menjual sate Jeroan perharinya bisa mendapat penghasilan kalau satenya habis maka mendapat penghasilan bersih 50 sampai 60 ribu perhari, dari situlah ia mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk masa depan cucunya yang masih berumur 8 tahun yang ditinggal ibunya kawin lagi dan anaknya pergi ke Malaysia tanpa ada kabar yang jelas.

Mendengar cerita dan melihat kesehariannya semangat hidup ibu ini terbilang tinggi karena di usia yang tak muda lagi dirinya yang masih memiliki bapak yang sudah sangat tua dan cukup berada namun tak pernah mau menengadahkan tangan untuk meminta bantuan dari bapaknya juga suami yang sudah meninggalkan dirinya untuk hidup bersama istri ke empatnya.

Kehidupan Inaq Seno merupakan potret kehidupan yang semua perempuan tak akan mau seperti dirinya, dimadu bukan satu atau dua namun sudah tiga kali Ia di tinggal oleh Suami kawin akan tetapi tak mebuat dirinya menggugat suaminya untuk menceraikan dirinya Ia justru mengambil positifnya dengan tetap berusaha dan berdo’a agar selalu dikaruniai kesehatan untuk dapat berjualan setiap harinya yang semuanya untuk membesarkan Cucunya yang sudah bersamanya dari bayi.

 

 

 

 



 
KM. Lingsar

KM. Lingsar

Desa Duman, Lingsar - Lombok Barat http://www.dumannis.blogspot.com ihromil islam, okta hadi, siswadi, anjaswadi No Hp. 081917920272

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan