logoblog

Cari

Tutup Iklan

Adu Untung Bisnis Unggas

Adu Untung Bisnis Unggas

Hari Sabtu sepekan lalu, terdengar suara ayam berkokok datar, namun suaranya rendah tak sekeras ayam kampung lazimnya di Dusun Berembeng, Karang

Cerita Inspirasi

Adu Untung Bisnis Unggas

Adu Untung Bisnis Unggas

KM Rinjani Lombok
Oleh KM Rinjani Lombok
27 Desember, 2014 21:05:29
Cerita Inspirasi
Komentar: 0
Dibaca: 2070 Kali

Hari Sabtu sepekan lalu, terdengar suara ayam berkokok datar, namun suaranya rendah tak sekeras ayam kampung lazimnya di Dusun Berembeng, Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Hiruk pikuk para pekerja saat itu di salah satu kandang milik peternak yang belakangan diketahui bernama IB. Swadi Astika (32) agak sedikit ramai. Ada yang menyortir jumlah ayam jenis ayam potong ini dan sementara pekerja lainnya terlihat sibuk mengangkat ayam sudah disortir tersebut ke mobil angkutan khusus untuk ayam. Tidak kurang dari 2,5 jam pekerjaan rutin di saat panen berlangsung baru bisa dituntaskan.

Peternak Astika begitu ia biasa dipanggil, adalah satu diantara puluhan peternak ayam serupa di kecamatan Lingsar yang mencoba menyiapkan suplay pasar ayam buras yang akhir-akhir ini mulai tumbuh baik dan terserap pasar. Dipilihnya Kecmatan Lingsar, tidaklah mengherankan. Lahan yang sejuk, nyaman dan masih luas ini terbilang matching dengan usaha pertanian, budidaya hortikultura, perikanan air tawar termasuk juga di sektor perunggasan.

Bagi Astika, usaha ayam buras ini boleh dikatakan usaha baru yang ia coba dan sudah mulai jalan. Rintisan usaha ini tidak terlepas dari sharing pengalaman dari sejumlah keuarganya yang terjun di usaha unggas ini dan sudah membuktikan hasilnya yang cukup prospektif. Dengan adanya nmotivasi itulah Astika menilai tak ada salahnya mencoba usaha ayam potong (pedaging) dan langsung memilih lokasi sebagaimana tersebut di atas.

Usaha yang dirintisnya sudah berjalan 2,5 tahun dan tahun ini memasuki tahun ketiga. Mengawalinya dengan mempekerjakan enam orang tenaga kerja yang sebagian besar berasal dari warga sekitar. Alasannya warga sekitar lokasi perlu diberdayakan semaksimal mungkin, karena umumnya belum memiliki pekerjaan tetap.

Tahun pertama bermodalkan keyakinan dan semangat ia mencoba 5 ribu ekor ayam potong. Ia berani menerima tantangan sekaligus peluang ini karena ada perusahaan mitra yang mengajaknya bekerjasama baik dari penyediaan bibit, teknik pemeliharaan, obat-obatan, pakan hingga panen dan pasca panen. “Jadi perusahaan mensupport kita untuk memiliki semangat kerja dalam pemeliharaan ayam buras ini. Jadi ada peluang, tantangan sekaligus motivasi,” kata Swastika

Dari jumlah ayam di tahun pertama sebanyak 5 ribu ekor tersebut tingkat kematian berkisar antara 2-3 persen. Kalau lagi sakit bisa capai 5-6 pertsen. ’Tahun kedua saya tambah lagi menjadi 7 ribu ekor. Kandangnya tetap cuma ada inovasi sedikit yang kita tambah dilengkapi dengan perangkat pendukung lainnya seperti kipas, lampu, alas pelapon sehingga matahari tak langsung tembus ke ayam jadi ada penahannya,” ujar jebolan salah satu universitas negeri di Malang ini.

Kematian kata Astika disebabkan oleh cuaca, panas sehingga kepadatan ayam menjadi berkurang otomatis ayam mati, yang kedua emberio telur itu tidak terbakar dengan sempurna shg menyebabkan ayam itu mati. Kadang-kadang juga dimakan binatang. “Dantahun ketiga ini disiapkan 13 ribu ekor bibit ayam,” gtambahnya.

Swastika tak mengelak memelihara unggas jenis ini penuh liku dan kekahawatiran akan kegagalan selalu terbayang dalam benaknya. Iapun memahami jika memelihara ayam jenis ini penuh resiko, namun bukan berarti menjadi boomerang untuk melemah dalam mengembangkannya. “Pada awal-awalnya kendala utama yang sangat terasa yakni persoalan keamanan, kenyamanan mengingat ayam semacam ini rentan stress. Selain itu tidak semua harapan panen bisa seutuhnya diperoleh sejumlah bibit yang tersedia,” urai Swastika yang berharap segera memiliki momongan ini.

Baca Juga :


Swastika mengilustrasikan, bibit ayam 5 ribu ekor yang disiapkannya, ia berkeinginan agar bisa tercapai 5 ribu ekor waktu panen. Tapi dalam kenyataannya tak bisa seperti itu. Karena pengaruh cuaca ekstrim terjadi pasang surut. Seperti ayam terkena sakit, sehingga harganyapun surut. Karena itu harga ayam juga berbanding lurus dengan harga pasar.

Namun dalam perkembangannya hingga 2,5 tahun terakhir ini harga pasar ayam masih tetap stabil. Pasar ayam menurutnya, mengikuti permintaan (demand). Jika permintaan banyak, sementara suplay sedikit, maka harganyapun bisa terkerek naik. ”Makanya kalau pelihara ayam pada saat limit, dimana kenbutuhan akan ayam meningkat, maka kita pasti untung. Tapi saat ayam banjir sementara permintaan sedikit, tentu peternak merasakan ujian yang berat. Sementara biaya operasional tetap tinggi.

Ditanya tentang peluang usaha perunggasan saat ini Astika menilai, cukup bagus. Hal ini seiring dengan makin tumbuh dan berkembang pesatnya pembangunan di NTB khususnya dalam sektor pariwisata. Dengan berkembangnya sector yang satu ini tentu berpengaruh juga terhadap penyediaan makanan khas daerah setempat seperti halnya ayam pedaging. “Semakin banhyak masyarakat di NTB atau yang berkunjung ke NTB otomatis makanan akan semakin banyak. Apalagi saat-saat musim-musim ekstrim yang pasti terjadi setiap tahun dimana para nelayan enggan melaut karena factor keamanan, sehingga ikan laut langka di pasaran. Maka ayamlah dijadikan sebagai  sebagai makanan yang dilirik sebagai makanan alternatif,” kata Astika.

Menurut Astika memelihara ayam butuh investasi besar. Tidak hanya persoalan bibit tapi juga menyiapkan sarana dan prasarananya yang utama adalah soal kandang. Swastika menyebut rata-rata pembuatan kandang dihitungnya Rp. 5000 /ekornya belum termasuk peralatannya termasuk didalamnya air, tirainya. “Pembuatan kandang tetap kita libatkan masyarakat local di sini. Ukurannya rata-rata kandang 80 meter dikalikan 8 meter,” jelas Astika yang memelihara ayam pada lahan seluas 42 are ini.

Astika punya harapan ke depan agar rintisan usaha ayam buras ini bisa  berjalan lurus. Jika saat ini pemerintah lagi bergiat membangun pariwisata otomatis sector peternakan siap menjadi penyokongnya. Dengan berkembangnya pariwisata dia nyakin usaha peternakan juga akan berimbas positif.

Yang menarik dari pengalaman Astika selama ini bersama rekan-rekan peternak lainnya di Karang Bayan, limbah atau kotroran ayam ini bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organic bagi para petani dan pekebun. Bahkan yang cukup mencengangkan yakni pemanfaatan limbah ayam potong ini untuk bahan bakar pembuatan bata. “Dan ternyata hasilnya bata menjadi lebih kuat dan dibandingkan dengan bahan bakar lainnya seperti kayu ternyata lebih irit. Saya hargakan perkafrung kotoran ayam ini rata-rata Rp. 1000 sekedar bisa menambah uang operasional para karyawan,” tukas Astika. (wardi) - 05



 
KM Rinjani Lombok

KM Rinjani Lombok

KM Rinjani Lombok diinspirasi oleh tekad bersama sesama anggota untuk membangun informasi produktif, komunikatif dan aspiratif di seputar Lobar dan gumi Lombok umumnya. Anggota: Hernawardi (Ketua), Fathurrahman, Ardipati, L. Suhaemi, Rian F, L. Budi D. Hp

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan